Hanum Rais Dituding Gadaikan Profesi Dokter demi Hoaks Ratna

Jakarta, Akuratnews.com - Penulis novel sekaligus dokter, Hanum Salsabila Rais dituding menyalahgunakan profesinya untuk menjustifikasi kebenaran kabar bohong penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet.

"Hanum Salsabila Rais menggadaikan etika profesi kedokteran demi sebuah misi politik dan terjebak dalam pertanggungjawaban pidana bersama Ratna Sarumpaet," ujar Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/10/2018).

Ia mengatakan sebagai pelaku yang turut serta menyebarkan kabar dugaan penganiayaan Ratna, Hanum membuat seolah-olah informasi tersebut benar dengan cara mendramatisir kebohongan. Pasalnya, Hanum menyatakan Ratna telah dianiaya tanpa menguji keadaan itu secara cermat dari kacamata Ilmu Kedokteran.

Hal itu merujuk pernyataan Hanum di akun Twitter pribadinya bahwa dari kaca mata Ilmu Kedokteran berdasarkan keahlian yang dimiliki, Ratna Sarumpaet telah dianiaya.
"Dengan demikian sesungguhnya kadar kesalahan Hanum Salsabila Rais jauh lebih besar ketimbang komentar Prabowo Subianto, Fadli Zon dan Amien Rais," tukas Petrus.

Sebagai Dokter, lanjut dia, Hanum telah diikat oleh Etika Profesi Kedokteran dan Kode Etik Kedokteran Indonesia yang mana seharusnya bertindak berdasarkan keilmuan, kompetensi dan Etika Profesi Kedokteran. Hanum yang juga putri tokoh reformasi Amien Rais itu dianggap tidak hanya terancam ijin prektek kedoketerannya dicabut oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), akan tetapi juga akan menghadapi proses pidana.

Petrus memandang secara hukum pidana, Hanum seharusnya tidak hanya dimintai pertanggung-jawaban secara Etik Kedokteran.
Akan tetapi juga harus dimintai pertanggung- jawaban secara pidana lantaran diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum.

"Disini Dokter Hanum Salsabila Rais telah menggadaikan profesinya dan Etika Profesinya sebagai Dokter demi sebuah syahwat politik yang tidak bertanggung jawab," sebut Petrus.

Untuk itu, pihaknya meminta penyidik Polda Metro Jaya agar menjadikan Hanum sebagai tersangka pelaku penyebar berita hoaks berdasarkan pasal 55 KUHP. "Komentarnya itu telah menyesatkan publik dan menimbulkan rasa kebencian individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok masyarakat tertentu," pungkas Petrus. (Ysf)

Penulis:

Baca Juga