oleh

Dolar Tarik Nafas, Harga Emas Melaju Naik

Akuratnews – Harga Emas naik secara moderat pada perdagangan di bursa komoditi berjangka hari Rabu (10/10). Logam Mulia menemukan dukungan kenaikannya setelah turun dalam sesi perdagangan sebelumnya. Sementara meningkatnya imbal hasil obligasi, yang mendekati posisi tertingginya sejak 2011, membatasi kenaikan harga logam mulia kali ini.

Logam Mulia naik harganya sebesar $ 1,90, atau 0,2%, di $ 1,193.40 per troy ons, memperpanjang kenaikannya selama dua sesi beruntun. Kenaikan ini memanfaatkan jeda yang dilakukan oleh Dolar AS. Indek Dolar AS turun 0,2% pada 95,46, meskipun sepanjang tahun ini masih mencatat kinerja positif dengan naik hampir 4%.

Kenaikan nilai Dolar ini membuat harga logam mulia sepanjang tahun ini telah minus sekitar 9%. Kondisi ini semakin parah dengan kenaikan imbal hasil Obligasi AS tenor 10- naik yang naik hampir 3 basis poin menjadi 3,237%.

Sejumlah indikator ekonomi AS, yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan adanya stagnasi. Biaya grosir barang dan jasa AS terhenti pada bulan September, dimana tingkat tekanan inflasi telah mereda. Kondisi ekonomi domestik yang menjanjikan, telah menjadi pijakan bagi Bank Sentral AS dalam menaikkan suku bunganya.

The Fed sendiri telah meningkatkan suku bunga tiga kali pada 2018 dan diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya pada Desember, serta melanjutkan tren pengetatan bertahap pada 2019, menurut perkiraan Fed sendiri.

Logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti Obligasi, komoditas tersebut rentan terhadap kemerosotan di lingkungan dengan tingkat kenaikan suku bunga. Iklim itu juga cenderung mengangkat dolar, meredupkan daya tarik harga emas AS ke investor menggunakan mata uang lainnya.

Tetapi pasar saham juga rentan terhadap meningkatnya imbal hasil obligasi dan tanda bahwa pasar ekuitas mundur cepat dapat kembali melanjutkan minat pada emas. Terbukti pada perdagangan kemarin, Indek S & P 500 berakhir lebih rendah pada hari Rabu, itu akan menandai kerugian beruntun kelima dan beruntun terpanjang kerugian sejak November 2016. (Hqm)

Komentar

News Feed