Harga Emas Naik, Lapangan Pekerjaan AS Tak Setinggi Dikira.

Harga emas mengalami kenaikan, setelah Dolar AS tertahan penguatannya. (Lukman Hqeem)
Harga emas mengalami kenaikan, setelah Dolar AS tertahan penguatannya. (Lukman Hqeem)

Jakarta, Akuratnews - Harga emas diakhir pekan lalu berhasil naik. Sentimen pendorong kenaikan adalah tertahannya laju kenaikan Dolar AS paska data ekonomi domestik yang menyatakan bahwa tingkat pekerjaan yang tersedia dibulan September, tidak setinggi yang diharapkan.

Pertumbuhan ekonomi AS saat ini mampu menghasilkan 134.000 pekerjaan baru pada bulan September. Angka ini masih lebih rendah daripada perkiraan para Ekonom yang disurvei oleh MarketWatch. Mereka mengharapkan kenaikan 168.000 pekerjaan. Departemen Tenaga Kerja dalam laporannya, juga melakukan pemuktakhiran data sebelumnya. Ada revisi kuat pada angka pekerjaan yang dibuat pada bulan-bulan sebelumnya. Hal ini cukup untuk mendorong tingkat pengangguran AS turun ke 3,7%, terendah sejak 1969. Sementara tingkat upah mengalami kenaikan rata-rata per jam. Hal ini tidak terlalu mengecewakan, memberikan sedikit hiburan dari angka gaji non-pertanian tersebut.

Data pekerjaan juga menunjukkan bahwa peningkatan pembayaran selama 12 bulan terakhir melambat menjadi 2,8% dari 2,9%, tetapi secara luas diperkirakan akan mencapai 3% di tengah meningkatnya persaingan di antara semakin menyusutnya jumlah pekerja yang tersedia. Pembayaran yang lebih tinggi telah lama dikaitkan dengan meningkatnya inflasi dan umumnya dilihat oleh investor sebagai tanda tekanan harga ke atas.

Dengan tingkat pengangguran yang turun menjadi 3,7% dan kenaikan ke atas dalam pertumbuhan upah akan membuat Komite Pasar Terbuka Federal bergerak leluasa dalam menaikkan suku bunga, sehingga memberikan tekanan lebih besar kepada harga emas.

Terhadap latar belakang itu, logam mulia untuk kontrak pengiriman bulan Desember naik $ 4, atau 0,3%, berakhir di $ 1,205.60 per ounce. Logam mulia naik sekitar 0,8% dalam minggu ini, berdasarkan kontrak paling aktif. Kenaikan harga logam mulia ini merupakan yang pertama dalam tiga hari perdagangan terkini. Catatan ini sekaligus memaparkan kenaikan mingguan mereka.

Pergerakan untuk logam mulia mengikuti beberapa kelemahan dalam indeks Dolar AS yang turun kurang dari 0,1% ke 95,69 setelah menyentuh 95,516. Indek naik sekitar 0,6% dalam minggu ini. Dolar tertahan dengan indikator ekonomi yang meleset dari harapan.

Kedepannya, pelaku pasar akan kembali menitik beratkan perhatian mereka pada sejumlah agenda. Salah satunya adalah bukanya kembali bursa saham China setelah libur selama seminggu. Respon pelaku pasar di Shanghai akan mengindikasikan resiko dari perkembangan Perang Dagang AS – China. Kenaikan bursa saham China diperkirakan akan menjadi sumber penurunan perdagangan Emas diawal minggu ini.

Logam mulia, yang biasanya digunakan sebagai tempat singgah oleh investor tidak menawarkan imbal hasil. Komoditas ini akan rentan terhadap kemerosotan di lingkungan dengan tingkat kenaikan Dolar AS atau saham. Federal Reserve telah meningkatkan suku bunga tiga kali pada tahun 2018 dan diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya pada bulan Desember, pergerakan yang dapat mendorong bunga Obligasi yang merupakan aset bebas risiko ini lebih tinggi dan melemahkan selera investor untuk membeli logam mulia. (Lukman Hqeem)

Penulis:

Baca Juga