oleh

Harga Minyak Berusaha Bangkit Diakhir Bulan

Akuratnews.com – Harga minyak di bursa komoditi berjangka pada Rabu (31/10) merangkak naik dari posisi terendah selama dua bulan ini. Baik Minyak jenis West Texas Intermediate dan Brent, terlihat menutup perdagangan bulan Oktober dalam kerugian yang curam. Jatuhnya harga di tengah pandangan beragam akan pasokan global.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman bulan Desember naik 23 sen, atau 0,4%, menjadi $ 66,41 per barel setelah ditutup pada $ 66,18 per barel di New York Mercantile Exchange di hari Selasa. Hingga saat ini, harga minyak WTI sepanjang bulan turun lebih dari 9%.

Sementara minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman bulan Desember berakhir naik 39 sen, atau 0,5%, di $ 76,30 per barel. Ditutup naik dari $ 75,91 per barel di bursa ICE Futures Europe pada perdagangan sebelumnya. Ini sekaligus menandai posisi terendah dalam lebih dari dua bulan. Sepanjang bulan ini merugi sekitar 7,6%.

Awalnya, sejumlah pengamat pasar berpikir pada awal Oktober harga akan bisa naik menjadi $ 100. Namun dengan hasil perdagangan dalam beberapa minggu ini, harapan tersebut berubah. Hal yang mengubah di atas semua adalah sentimen pasar. Terjadi peningkatan kekhawatiran tentang permintaan sebagai akibat dari konflik perdagangan antara AS dan China dan penurunan harga terbaru di pasar saham, meskipun data permintaan riil tetap kuat pada bulan September.

Pada sisi pasokan yang memainkan peran nyata, stok minyak mentah di AS meningkat secara signifikan selama berminggu-minggu sementara Arab Saudi, Rusia dan Libya juga meningkatkan produksi minyak mentah mereka pada bulan Oktober. Akibatnya, produsen minyak tampaknya berhasil mengimbangi pengurangan pasokan dari Iran dan Venezuela.

Memang awalnya, sanksi AS terhadap industri minyak Iran yang ditetapkan mulai berlaku pada awal pekan depan oleh Presiden Donald Trump pada Mei, bisa mendorong harga minyak naik. Bahkan bisa ke $100 per barel. Namun peningkatan produksi minyak nampaknya tidak bisa mendukung harga naik menuju kesana.

Arab Saudi, yang secara de facto merupakan ketua Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), bersama dengan produsen terkemuka di luar kartel, Rusia telah setuju pada awal musim panas untuk mulai meningkatkan produksi minyak mentah setelah lebih dari satu tahun menahan diri. Komentar dalam beberapa pekan terakhir oleh Arab Saudi bahwa mereka dapat meningkatkan produksi pada tingkat yang lebih cepat – mencapai setidaknya 11 juta barel per hari – telah membebani harga akhir-akhir ini.

Adapun kontribusi AS sendiri, American Petroleum Institute (API) melaporkan Selasa malam bahwa pasokan minyak mentah AS naik 5,7 juta barel untuk pekan yang berakhir 26 Oktober, menurut sumber. Data API, bagaimanapun, juga menunjukkan penurunan pasokan 3,5 juta barel untuk bensin dan 3,1 juta barel untuk distilat, kata sumber.

Data pasokan dari Lembaga Informasi Energi (EIA) akan dirilis Rabu. Analis yang disurvei oleh S & P Global Platt mengharapkan EIA melaporkan kenaikan 3,3 juta barel dalam pasokan minyak mentah. Mereka mengharapkan penurunan pasokan 2,4 juta barel untuk bensin, dan 2,2 juta barel untuk distilat.(LH)

Komentar

News Feed