Harga Minyak Mentah Turun Ditengah Gejolak Venezuale

Harga Minyak Turun
Harga Minyak Turun

Jakarta, Akuratnews.com - Harga Minyak mentah dalam perdagangan di bursa berjangka berakhir dengan turun pada hari Rabu (23/01). Pun demikian kenaikan yang terjadi sepanjang sesi perdagangan mampu mengupas sejumlah kerugian sebelumnya. Gejolak politik yang terjadi di Venezuela, selaku salah satu produsen minyak besar dunia menjadi sumber pendorong kenaikan harga minyak saat ini.

Para pialang melihat kemungkinan AS akan menjatuhkan sanksi terhadap Venezuela ataupun komoditas minyaknya. Jika ini terjadi, akan terjadi pengetatan suplai pasar. Sebagaimana dikabarkan bahwa pemerintahan Trump telah mengatakan kepada perusahaan-perusahaan energi A.S. bahwa mereka "dapat memberlakukan sanksi atas minyak Venezuela segera minggu ini jika situasi politik di sana memburuk lebih lanjut," demikian sebagaimana dikutip dari Reuters di Venezuela Rabu.

Presiden Donald Trump, secara resmi mengatakan bahwa ia mengakui Juan Guaido sebagai presiden sementara Venezuela, dan ia menyatakan bahwa Nicolas Maduro sebagai presiden yang tidak sah.

Langkah AS mengakui pempimpin Oposisi sebagai Presiden itu memungkinkan AS untuk menahan dukungan, seperti memblokir pinjaman IMF, dan juga berpotensi memungkinkan AS untuk memberikan sanksi kepada negara yang melakukan bisnis dengan Maduro. AS sendiri mengimpor sekitar 17,7 juta barel minyak mentah dan produk minyak bumi dari Venezuela pada Oktober 2018, menurut Administrasi Informasi Energi.

Harga Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman bulan Maret turun 39 sen, atau 0,7%, menjadi menetap di $ 52,62 per barel di New York Mercantile Exchange (NYMEX) setelah sempat jatuh ke $ 51,86. Sementara minyak mentah Brent turun 36 sen, atau 0,6%, menjadi $ 61,14 pada ICE Futures Europe.

Selama sesi Rabu, harga minyak telah turun tajam, menembus batas kisaran perdagangan sebelumnya, menyusul laporan bahwa Uni Eropa akan segera meluncurkan mekanisme yang akan memungkinkan perusahaan untuk melewati sanksi AS, dan bisa berdagang dengan Iran.Uni Eropa diperkirakan akan meluncurkan mekanisme tersebut guna memfasilitasi perdagangan nondollar dengan Iran. Langkah ini sebagai cara menghindari sanksi AS, demikian dilansir dari Reuters.

Mekanisme tersebut jelas memungkinkan Uni Eropa untuk meluruhkan sanksi AS, tapi itu mungkin akan segera diimbangi oleh laporan bahwa Pemerintahan Trump akan mengamanatkan segera kepada perusahaan-perusahaan energi bahwa mereka harus bersiap-siap untuk memberikan sanksi terhadap Venezuela.

Pada perdagangan hari Selasa, harga minyak mentah di bawah tekanan atas peringatan lemahnya pertumbuhan ekonomi global 2019 dari IMF. Peringatan ini memperkuat kekhawatiran pasar dari data ekonomi sebelumnya yang menyatakan bahwa ekonomi Negeri Tirai Bambu ini akan melemah.

Namun demikian, harga mendapat sokongan naik dari angka produksi minyak mentah yang keluar tepat sebelum penutupan perdagangan. Lembaga Informasi Energi AS meramalkan adanya kenaikan produksi minyak serpih sebanyak 62.000 barel per hari di bulan Februari, dari bulan sebelumnya, menjadi 8.179.000 barel per hari. Lembaga ini sebelumnya memperkirakan akan terjadi kenaikan lebih dari dua kali lipat untuk Januari dari Desember.

Harga minyak telah naik sekitar 20% sejak mencapai posisi haga terendah tahunan pada minggu terakhir Desember, sebagian besar bergerak seiring dengan naiknya kembali ekuitas global. Indikasi sebagai kemampuan untuk lepas dari pasar bearish.

Langkah pengurangan produksi minyak mentah oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya menjadi sumber kekuatan harga naik kembali. OPEC bersama 10 produsen lainnya, yang dipimpin oleh Rusia, sepakat pada akhir 2018 untuk secara kolektif menahan produksi minyak mentah sebesar 1,2 juta barel per hari pada paruh pertama 2019. Langkah ini ditempuh guna membatasi kelebihan pasokan dan meningkatkan harga.

American Petroleum Institute (API) merilis data mingguan bahwa persediaan minyak AS kemarin, diikuti oleh data resmi dari EIA pada hari Kamis ini. Keduanya memang terlambat sehari dalam merilis data dari biasanya, karena liburan pada hari Senin, perayaan Hari Martin Luther King, Jr.

Sejumlah analis yang disurvei oleh S&P Global Platts memperkirakan EIA akan melaporkan penurunan 600.000 barel dalam stok minyak mentah untuk pekan yang berakhir 18 Januari, bersamaan dengan peningkatan pasokan 2,9 juta barel untuk bensin dan 900.000 barel untuk sulingan. (HQM)

Penulis:

Baca Juga