Harga Minyak Naik, Bangkit Dari Kerugian Sebelumnya

Harga Minyak
Harga Minyak

Jakarta, Akuratnews.com - Harga Minyak di bursa berjangka naik dalam perdagangan hari Selasa (15/01). Pulih dari kerugian yang diderita selama sebelumnya.



Dorongan kenaikan dipicu kebijakan China yang akan mengambil langkah stimulus untuk meningkatkan ekonominya. Ini sebagai respon setelah serangkaian data ekonomi Negeri Tirai Bambu yang suram sebelumnya.

Sehari sebelumnya, harga minyak turun di tengah tanda-tanda lanjutan
pelemahan ekonomi China. Namun sebuah kabar dari Beijing di hari Selasa,
menunjukkan bahwa mereka akan mengambil langkah-langkah lebih besar untuk
menopang pertumbuhan yang lesu. Kabar ini mengangkat harapan bahwa permintaan
yang kuat untuk minyak dari China dapat dipertahankan.

Bank Rakyat China akan meningkatkan upaya untuk memacu
ekonomi mereka dengan meningkatkan ketersediaan kredit untuk perusahaan kecil,
memotong pajak dan meningkatkan investasi infrastruktur, kata pejabat Beijing.

Sebelumnya, data perdagangan China yang dirilis pada awal
pekan ini lebih buruk dari yang diperkirakan. Hasilnya menimbulkan kekhawatiran
bahwa ekonomi China terkunci dalam penurunan yang dapat membebani ekspansi
global di tengah percekcokan tarif yang berkepanjangan antara China dan AS.

Dalam masa enam minggu, perubahan suasana pasar begitu drastis.
Tertekan dalam menghadapi potensi resesi ekonomi, bergeser ke harapan akan
pertumbuhan yang moderat. Optmisme pasar dibangun dari kemajuan yang didapat
dalam proses rekonsiliasi hubungan dagang AS – China dan upaya Beijing
menstabilkan perekonomiannya.

Dengan faktor fundamental yang demikian, harga minyak mentah
jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari naik $ 1,60, atau 3,2%,
menjadi $ 52,11 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah
Brent naik $ 1,65, atau 2,8%, ke $ 60,64 per barel di ICE Futures Europe.

Harga minyak mentah telah naik lebih dari 20% dari posisi
terendah tahunan yang dicapai pada akhir 2018. Kenaikan didorong adanya tanda-tanda
penyeimbangan atas kelebihan pasokan global. Pihak Organisasi Negara-negara
Pengekspor Minyak-plus berusaha memangkas kapasitas produksinya. Harga anjlok
hingga 40% selama kuartal keempat tahun lalu, dari tertinggi posisi tertinggi
selama empat tahun terakhir yang dicapai baru-baru ini pada awal Oktober. Pemotongan
produksi yang disepakati antara OPEC + diharapkan untuk mendukung harga dalam
jangka panjang.

Para investor cukup berani dan mengambil risiko dengan mengambil
tekanan lebih lanjut dari harga minyak. Indeks saham A.S. naik pada hari
Selasa. Namun demikian, dengan latar belakang yang ada selama beberapa minggu
dan bulan mendatang, diperkirakan terjadi penurunan produksi minyak. Hal ini
akan mendorong harga naik kembali. Kecuali kesepakatan yang terjadi di antara para
produsen yang berpartisipasi, tidak terjadi atau dilanggar.

Data mingguan pasokan minyak bumi AS dari American Petroleum
Institute dan data resmi dari Lembaga Informasi Energi akan dirilis hari Rabu
ini. Analis yang disurvei oleh S&P Global Platts memperkirakan EIA akan
melaporkan penurunan 250.000 barel dalam stok minyak mentah untuk pekan yang
berakhir 11 Januari.

Di antara laporan bulanan, prospek harga minyak dalam jangka
pendek menurut EIA akan turun 0,8% di tahun 2019, dimana harga Brent menjadi $
60,52. Sementara untuk minyak WTI tahun ini tetap tidak berubah pada $ 54,19.
Untuk tahun 2020, agen pemerintah melihat rata-rata $ 60,76 untuk Brent dan $
60,76 untuk WTI, dengan produksi AS diperkirakan naik menjadi 12,86 juta barel
per hari.

EIA memperkirakan bahwa produksi minyak mentah AS bisa
mencapai 11 juta barel per hari pada tahun 2018. Kapasitas ini memecahkan rekor
yang ditetapkan tahun 1970, kata Kepala EIA Linda Capuano.

OPEC pada hari Kamis besok diperkirakan akan merilis laporan
pasar minyak bulanannya, diikuti oleh paparan data dari Badan Energi
Internasional pada hari Jumat. (WK)

Penulis:

Baca Juga