oleh

Harga Minyak Turun, Merespon Kenaikan Suplai dan Permintaan

Akuratnews.com – Harga minyak turun pada perdagangan hari Kamis (01/11). West Texas Intermediate yang menjadi patokan harga minyak mentah AS, turun ke level terendahnya sejak April. Hal ini mendorong patokan global, Brent juga turun di bawah rata-rata perdagangan selama 200 hari.

Ini merupakan yang pertama kalinya dalam masa lebih dari setahun. Adanya laporan peningkatan suplai minyak yang cukup besar dalam produksi global bulan lalu menjadi sentiment kuat jatuhnya harga minyak mentah saat ini.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman bulan Desember di bursa New York Mercantile Exchange (NYMEX) turun US $ 1,62, atau 2,5%, ke harga di $ 63,69 per barel. Harga untuk patokan AS ini sepajang bulan Oktober membukukan kerugian 10,8%, menandai harga penyelesaian terendah sejak 9 April.

Harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman bulan Januari turun $ 2,15, atau 2,9%, ke $ 72,89 per barel di ICE Futures Europe London. Ini merupakan harga terendah sejak 21 Agustus yang berada dibawah rata-rata harga selama 200-hari , sekaligus yang pertama kalinya sejak September 2017. Sepanjang bulan Oktober, harga Brent telah turun 8,8%. Penurunan ini tercatat secara prosentase bulanan adalah yang terbesar untuk kedua kalinya sejak Juli 2016.

Para pialang mencermati pasokan minyak mentah baru-baru ini yang mengalami peningkatan. Sanksi AS atas Iran yang berlaku pada November ini, awalnya dianggap bisa mendorong harga naik. Sebagian pihak bahkan berpikir harga bisa naik kembali di $100 per barel.

Sayangnya, peningkatan produksi minyak mentah baik oleh Arab Saudi dan sejumlah negara lain, mampu memenuhi potensi penurunan ini, bahkan cenderung membuat stok melimpah kembali. Alhasil harga minyak mentah dunia turun dan diperdagangkan dalam kisaran $60 – 80 per barel saja. Harga minyak Brent tertarik kebawah dari kisaran $85 menjadi ke $75 per barel.

Sebuah kajian yang dilakukan oleh Bloomberg dan Reuters, secara terpisah telah mengungkapkan bahwa anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menaikkan produksi pada bulan Oktober ke tingkat tertinggi sejak akhir 2016. Dilaporkan bahwa OPEC menaikkan produksinya menjadi 33,31 juta barel per hari pada Oktober, naik 390.000 barel per hari dari September, menurut survei Reuters baru-baru ini. Survei Bloomberg mengatakan output grup naik 430.000 barel per hari menjadi 33,33 juta barel per hari bulan lalu.

Sementar disisi lain, laporan dari Lembaga Informasi Energi menunjukkan bahwa produksi minyak mentah AS setiap bulan mencapai 11,3 juta barel per hari pada bulan Agustus, naik dari 10,9 juta barel per hari pada bulan Juli. Tingkat Agustus menandai pertama kalinya output AS per bulan mencapai 11 juta barel per hari, “menjadikan Amerika Serikat sebagai produsen minyak mentah terkemuka di dunia,” kata EIA.

Kenaikan produksi ini telah mengimbangi kekhawatiran seputar sanksi baru AS terhadap Iran, yang berefek penuh minggu depan. Guncangan embargo Iran mendorong resiko harga miring ke atas akan tergantung pada tingkat kepatuhan China dan India, dua negara pembeli terbesar minyak mentah Iran.

Disisi lain, jatuhnya bursa saham global yang dipimpin oleh bursa AS juga member andil dalam menekan harga minyak mentah lebih rendah. Pasalnya, kekhawatiran pasar akan masa depan ekonomi global yang berpengaruh pada tingkat permintaan minyak mentah membuat harga turun. Indek saham S & P 500 bahkan turun dalam catatan bulanan terbesar dalam tujuh tahun di bulan lalu. Memang bursa saham lebih tinggi pada perdagangan hari Kamis, dimana indek S & P 500 naik beruntun tiga hari pertama dalam enam minggu.

Minyak di bawah tekanan sejak Rabu setelah EIA mengatakan pasokan minyak mentah AS naik 3,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 26 Oktober, kenaikan mingguan keenam berturut-turut. Kemampuan stok minyak mentah terus naik lebih tinggi bahkan ketika ekspor Iran turun menjelang sanksi AS menunjukkan pasar telah mempertahankan beberapa adaptabilitas dalam hal pasokan secara keseluruhan. (LH)

Komentar

News Feed