HMI Dibubarkan, PMII Dibiarkan: Refleksi Harlah PMII ke-60

Oleh: Abdul Wahid Ola
Tenaga Ahli Dirjen PPMD, Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi.

Opini, Akuratnews.com - Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) pernah akan dibubarkan oleh Presiden Soekarno. Alasan pembubaran HMI ini karna Bung Karno menilai kader-kader HMI saat itu terlalu reaksioner, anti revolusi dan bertingkah ke barat-baratan. Bung Karno beranggapan bahwa HMI adalah anak-anak Masyumi, tentu sama seperti bapaknya, reaksioner dalam bersikap.

Rencana pembubaran HMI ini disampaikan Presiden Soekarno kapada salah satu orang kepercayaannya KH Syaifuddin Zuhri, seorang Ulama NU yang saat itu dipercaya Bung Karno sebagai Menteri Agama tahun 1962-1967. Sebelumnya, KH Saifuddin Zuhri menjabat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Dalam perbincangan itu, Presiden Soekarno meminta pendapat dan pertimbangan KH Saifuddin Zuhri terkait rencana pembubaran HMI yang sudah dipikirkan secara matang oleh Bung Karno. Obrolan kedua tokoh ini disaksikan juga oleh Hasyim Ning, seorang pengusaha Nasional terbaik saat itu. Mendegar keinginan Bung Karno itu, sontak KH Saifuddin Zuhri kaget dan mencoba bertanya sekedar mencari alasan dibalik keinginan Bung Karno membubarkan HMI.

"Mengapa HMI ingin dibubarkan?" Tanya KH Saifuddin Zuhri pada Bung Karno.

"Saya menerima berbagai laporan bahwa dimana-mana HMI melakukan tindakan anti-revolusi dan reaksioner" Jawab Bung Karno.

"Kadar antri-revolusi maupun reaksionernya sampai dimana Pak Presiden?" Tanya lagi KH Saifuddin Zuhri .

"Yah, misalnya selalu bersikap aneh, tukang kritik, bersikap liberal seolah-olah hendak mengembalikan adat kebarat-baratan dan lain-lain" Sambung Bung Karno.

"Apakah HMI sudah bapak panggil untuk nasehati?" Tanya KH Saifuddin Zuhri.

"Secara umum dan terbuka sudah saya ingatkan berulang kali lewat pidato saya" Tegas Bung Karno.

"Mohon dipertimbangkan sekali lagi rencana pembubaran HMI ini" Pinta KH Saifuddin Zuhri.

Saat Bung Karno diam sejenak, KH Saifuddin Zuhri menegaskan dengan mengatakan, "HMI itu anak-anak muda. Mereka sudah termakan oleh pidato-pidato bapak di banyak peristiwa. Kalau saya anak muda, saya juga akan memberontak melihat hal-hal yang tidak beres di kanan-kiri kita. Mereka adalah kader-kader bangsa, dan sudah jamak mereka berpikiran dinamis seperti yang bapak pidatokan. Mereka bisa membentuk gelombang arus listrik. Karna itu, arus listrik harus disalurkan supaya menjadi kekuatan yang bermanfaat. Kalau HMI dibubarkan nanti mereka frustasi dan kita semua rugi".

"Mereka kan anak-anak Masyumi. Tentu sama seperti bapaknya, tetap saja reaksioner" Bantah Bung Karno.

"Pak, ketika masa jaya-jayanya Masyumi, mereka masih anak-anak SMP dan SMA. Mereka tidak tahu persis apa itu Masyumi. Kita jangan mengikuti falsafah yang mengatakan 'Karena Bapaknya berbuat salah, anak-anaknya pun berdosa semua". Tegas KH Saifuddin Zuhri.

"Tetapi bagaimanapun, HMI dan SBII bakal saya bubarkan. Kalau HMI bubar, NU kan untung karna PMII makin besar" Kata Bung Karno.

KH Saifuddin Zuhri tetap tidak mundur dari pendiriannya dan berusaha terus meyakinkan Bung Karno agar menarik keinginannya membubarkan HMI.

"Kalau Bapak hendak membubarkan HMI, artinya pertimbangan saya bertentangan dengan keinginan bapak. Tugasku sebagai pembantu Bapak hanya sampai disini" Kata KH Saifuddin Zuhri.

"Jangan berkata begitu. Saya tetap memerlukan bantuan saudara. Baiklah, HMI tidak akan saya bubarkan" Jawab Bung Karno.

Cerita ini menunjukkan betapa kebijaksanaan berfikir dalam memutuskan sebuah persoalan menjadi penting. Meski diketahui sebelumnya, HMI Ciputat dan HMI Yogyakarta pernah melakukan demonstrasi dan protes atas kebijakan KH Saifuddin Zuhri, namun Kiyai NU ini tidak memancing di air keruh pada saat dimintai pertimbangan oleh Bung Karno. Ia tetap bersikap bijak dan adil menghadapi persoalan yang harus diputuskan. Sebab, berlaku adil merupakan penghubung jarak antara hamba dan Tuhan menjadi lebih dekat, dan jangan karna kebencian kita pada sesuatu (kelompok/orang) membuat kita bersikap tidak adil dalam memutuskan [Q.S. Al-Maidah ayat 8]. Selain itu, lebih baik seorang pemimpin salah dalam memaafkan daripada salah dalam memberi hukuman/memutuskan (HR. At-Tirmidzi).

Dua prinsip utama diatas (bijak dan adil) merupakan fondasi berfikir yang harus dijadikan rujukan utama manusia dalam memutuskan sebuah persoalan dalam bersikap. Jika tidak, maka kebencian dan faktor suka-tidak suka menjadi dasar dalam menilai setiap problematika yang hadir. Alhasil, keputusan dan sikap tersebut bukan merupakan sumber kebaikan, namun menjadi sumber kesalahan. Apalagi saat ini dunia mengalami era post-truth yang cukup parah. Orang lebih percaya hoax daripada kebenaran yang sesungguhnya.

Oleh karna itu, PMII maupun HMI harus menjadi aktor perubahan yang lahir dari cara berfikir kritis yang adil dan bijak. Meski kehidupan terus mengalami kemajuan, namun cara kita menghadapi persoalan jangan sampai ketinggalan.

Selamat Harlah PMII yang ke-60. Teruslah bergerak, karna gerak adalah dinamika kehidupan menuju perubahan. Dan perubahan tidak mungkin bisa digapai jika tidak digerakkan. Disinilah mengapa kader PMII dibutuhkan!

Jakarta, 16 April 2020.

(Sumber Buku: KH. Saifuddin Zuhri, Berangkat Dari Pesantren, 2012 | Syaikhul Islam Ali, Kaidah Fikih Politik, 2018).

Baca Juga