oleh

Hoax Dan Imunitas Tubuh

Opini, Akuratnews.com – Dalam sebuah diskusi yang berjudul Media Dalam Dinamika Politik Identitas, yang digelar di Jakarta pada pertengahan Juli 2018 lalu. Pengamat budaya, Profesor Ariel Heryanto saat itu mendapat pertanyaan dari peserta diskusi, “bagaimana cara melawan hoax?” Prof Ariel justru balik bertanya, “mengapa harus dilawan..?”. Menurut Ariel, saat ada ketimpangan, orang butuh jalur atau wadah untuk mengungkapkannya, namun ketika wadah itu tidak ada, orang akan mencari caranya sendiri, bisa dengan ujaran kebencian ataupun hoax.

Ariel yang pernah menjabat Professor untuk School of Culture, History, and language di Universitas Nasional Australia, mengibaratkan hoax itu sebagai debu yang berterbangan di Ibukota. Jadi jika ada orang sakit karena debu, berarti orang itu tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Jadi jangan salahkan debunya, kita lah yang harus meningkatkan sistem imun tubuh kita, agar tidak mudah terserang virus hoax.

Virus berita bohong atau hoax nampaknya kian kuat menyerang tubuh kita. Kekuatannya bahkan bisa menyerang siapa saja. Meskipun tingkat pendidikan dan posisi sosialnya tinggi, toh hoax pun bisa menyerang pola pikirnya, mengaburkan rasionalitas hingga membuat daya nalar otak berantakan.

Sensasi Hoax

Dalam sebuah politik pemerintahan, hoax bisa berupa propaganda. Wodrow Wilson (1913-1921) Presiden Amerika Serikat ke-28 termasuk yang sukses dalam melakukan propaganda di dalam negeri saat terjun ke dalam perang dunia I. Noam Chomsky dalam Politik Kuasa Media menyebut, Wilson mengubah opini publik warga Amerika yang saat itu antiperang menjadi massa yang histeris dan haus perang. Caranya dengan propaganda menyebarkan berita dengan menakuti warganya bahwa Jerman adalah negara penjahat dan pembunuh manusia. Wilson pun berhasil mengelabui dengan meyakinkan publik demi hasratnya ambil bagian dalam “perang Eropa” itu (2017; 3).

Wilson tampil dengan mengemas berita agar publik terpesona dan mendukung langkah Wilson. Bagi Chomsky, Wodrow Wilson melakukan rekayasa keadaan hingga seakan-akan ketika kita menyerang dan menghancurkan suatu pihak, kita terlihat sedang melindungi dan mempertahankan diri dari penyerang (Politik Kuasa Media, 2017: 25). Apa yang dilakukan Wilson adalah gambaran lain dari hoax

Kata hoax sendiri sebenarnya berarti menipu atau mengelabui. Dalam sejumlah literatur, penggunaan asal kata hoax dilakukan pada sebuah pertunjukan atau sulap. Robert Nares dalam bukunya A Glossary; Or, Collection of Words, Phrases, Names, and Allusions to Customs, menyebut bahwa hoax berasa dari kata hocus pocus. Menurut Nares, hocus pocus bermakna to cheat, to impose uppon yang berarti untuk menipu, untuk memaksakan (London, 1882, Vol 1: hal 425).

Nares menjelaskan, kata Hocus Pocus merujuk pada seorang pesulap terkenal italia, Verelii Epit yang menyebut Ochus Bochus saat dia memainkan sebuah pertunjukan sulap. Jadi Ochus Bochus atau Hocus Pocus adalah semacam mantra dalam sulap yang dilakukan untuk mengelabui penonton agar penonton terkesima. Saat Hocus Pocus diucapkan ada sensasi keterpesonaan yang ingin ditunjukan pesulap kepada penonton.

Robert A. Yelle dalam bukunya Explaining Mantras: Ritual, Rhetoric, and the Dream of a Natural Language in Hindu Tantra, bahkan menyebut kata hocus pocus sebagai kata sihir atau “magic Words”. Kata Hocus Pocus disebut sebagai mantra yang digunakan dalam ritual tradisional Hindu Tantra (Routledge, New York, 2003: hal 16), lagi-lagi ujungnya demi sensasi keterpesonaan.

Dalam perkembangannya kata Hocus Pocus kemudian hanya digunakan hocus-nya saja, yang belakangan sering disebut menjadi hoax. Berdasarkan literasi diatas, hoax artinya cara untuk menipu atau mengelabui demi sebuah sensasi, kesenangan, dan keterpesonaan. Bagi orang yang setuju dengan isi hoax itu, hoax akan dikonsumsi menjadi pembenaran terhadap sesuatu yang diyakininya.

Tetapi jika isi hoax itu bertentangan dengan keyakinan kita, secara tidak sadar kita sedang diserang oleh pesona sensasi tampilannya. Di media sosial, hoax yang berseliweran cenderung memiliki tampilan yang kuat & menarik, seolah-olah nyata. Jadi, meski kita tidak setuju dengan isi atau pesan hoax itu, sebagian dari kita tetap membaginya kepada teman dan kolega sebagai sebuah kesenangan atau gurauan.

Hasil survey Lembaga Masyarakat Telematika Indonesia pada Februari 2017 mencatat, dari 1.116 responden, 47% nya mengaku membagikan informasi yang belum tentu benar ke orang lain karena informasi itu didapat dari orang yang bisa dipercaya. Artinya, saat seseorang mendapat informasi baik bahasa/gambar dari seseorang yang dipercayanya, maka ada dorongan untuk membaginya ke orang lain. Lalu siapa yang menjamin, bahwa orang yang dipercaya itu juga tidak terpapar hoax? atau jangan – jangan orang yang bisa dipercaya itu, mendapat informasi dari orang yang bisa dipercayai juga sebelumnya. Inilah pintu masuk hoax bisa menjadi viral.

Yasraf Amir Piliang dalam Dunia Yang Dilipat menyebut, kondisi yang mewarnai kehidupan kontemporer kita adalah cepatnya informasi dan citraan namun terjadi pendangkalan makna (1998; 132). Kondisi ini membuat orang makin sulit membedakan mana informasi/citra yang benar, mana informasi/citra yang dusta.

Orang lebih mendahulukan penampilan ketimbang substansi, mengutamakan kesenangan daripada pengetahuan. Bagi Yasraf Amir Piliang (2018) dalam Teori Budaya Kontemporer, di media sosial orang lebih tertarik mengomentari atau membahas sesuatu demi kesenangan, bukan demi terungkapnya sebuah kebenaran atau tersebarnya pengetahuan. Kita lebih tertarik mencari “jalan pintas” ketimbang menghargai sebuah proses, hal ini mengkondisikan kita untuk “antiberpikir”.

Homo Teknologius

Sebuah pertanyaan muncul ditengah-tengah kita sekarang. Benda apa yang kita sentuh pertama kali saat kita bangun tidur di pagi hari? Jika smartphone jawabannya, maka sadar atau tidak sadar smartphone telah menyandera kita. Citra layar smartphone benar-benar mempesona dan menarik kita untuk sesegera mungkin berinteraksi dengannya. Lalu lintas informasi akan terjadi terus menerus namun serba singkat, terpatah-patah, dan tergesa untuk kepingan kesadaran yang sesaat. Disanalah lalu lintas hoax bermula.

Saat teknologi komunikasi di tangan kita membuat kegandrungan buta, maka sesungguhnya kehebatan layar smartphone sedang memainkan peran hoax. Pesona citra yang muncul dari layar gadget begitu mempesona, membuai, namun menipu. Kita dibuat menjadi hidup dan bermakna, seolah-olah memiliki ruang sosial terkini hanya didalam kotak layar gadget itu. Pesonanya mengaburkan kesadaran kita, mengacaukan daya berpikir kita, dan mereduksi rasionalitas kita.

Kita menikmati hubungan “artifisial” tetapi sesungguhnya menjauhkan kita pada hubungan “faktual”. Kita merasa ramai dalam dunia artifisial, tetapi sendiri dalam dunia faktual. Pada titik ini kita menjadi homo teknologius. Marshall McLuhan (1911-1980) pernah mengingatkan, we shape our tools and then our tools shape us. Kita membentuk teknologi, lalu teknologi yang membentuk kita.

Homo teknologius membuat jejaring sosial kita berkembang hanya dengan sebuah pencetan tombol ditangan, maka sesungguhnya wawasan sehari-hari kita mengerut hingga seukuran laman facebook, dunia kita yang luas mengecil sesempit layar telpon genggam. Maka meningkatkan imunitas tubuh dan otak agar tidak mudah terserang virus hoax menjadi penting. Perbanyaklah literasi dan diskusi. Buka lebar-lebar ruang sosial faktual, kurangi ruang sosial digital. Karena ketika kita menjadi korban virus hoax, maka jangan salahkan virusnya. Meminjam ucapan Profesor Ariel Heryanto, Jika hoax itu adalah sampah, ya buanglah sampah pada tempatnya, tak usah sakit hati apalagi di konsumsi.

Penulis Oleh: Taufan Hariyadi
Mahasiswa S-2 Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina, Jakarta

Komentar

News Feed