Humas IPB: Akun Prada IPB Bukan Akun Resmi IPB dan Tidak Mewakili IPB

Ilustrasi berita hoax. (Ilustrasi akuratnews.com)

AKURATNEWS - Serangan masif, sistematis dan terstruktur terhadap industri pengguna galon polikarbonat semakin berani menunjukkan diri bahkan dengan menggunakan nama organisasi besar, seperti Kampus Ternama Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan akun PRADA_IPB. Akun tersebut tidak sendiri dalam menthread tentang isu BPA pada kemasan galon polikarbonat. Diketahui secara serentak PRADA_IPB menthread bersama akun akun pseudoname @NinjaCir3ng @Si_Bigau dan @negativisme.

Jika dilihat dari aktivitas akun-akun sosmed tersebut sebelumnya tidak pernah membahas isu air kemasan maupun kesehatan, namun tiba-tiba serentak mengangkat narasi kampanye negatif terhadap isu BPA pada galon polikarbonat.

Terkait dengan akun PRADA_IPB, pihak universitas IPB membantah bahwasanya akun tersebut mewakili pihak universitas. Namun dari pada itu, pihak universitas tidak membantah mengetahui akun yang menggunakan logo IPB dalam Display Picturenya, digagas oleh sekelompok kecil alumni IPB.

"Kami mengetahui keberadaan akun Prada IPB, yang digagasnya oleh sekelompok kecil alumni IPB. Tidak ada kaitannya dengan IPB dan sama sekali tidak bisa disebut membawa bendera IPB," ungkap Yatri Biro Komunikasi IPB melalui pesan WhatsApp saat dihubungi.

Sementara itu, pengamat sosial media menduga ada sponsor yang menggerakkan dan kemungkinan bermotif komersial sangat terbuka. Menurut Astari Yanuarti, Co-founder REDAXI (Indonesian Antihoax Education Volunteers), kemungkinan akun-akun tersebut digerakkan sangat terbuka, dan patut diduga ada motif komersial di baliknya.

Menurutnya, secara umum, salah satu karakter penyebaran hoaks adalah daur ulang isu yang serupa. Artinya, hoaks yang sudah disebarkan dalam periode tertentu, akan disebarkan lagi di masa mendatang, meskipun sudah ada klarifikasi terhadap hoaks tersebut.

“Pola ini juga terjadi pada hoaks terkait bahaya BPA pada balita, ibu hamil, dan menyusui. Hoaks yang sudah tersebar sejak beberapa tahun lalu dan sudah diklarifikasi oleh berbagai pihak yang berwenang seperti Badan POM dan para dokter, namun sampai hari ini masih diedarkan oleh berbagai pihak di media sosial. Bahkan hoaks ini masih dipercaya oleh sebagian pihak sehingga tidak heran jika sampai hari ini masih beredar,” katanya.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga