Humas IPB: Akun Prada IPB Bukan Akun Resmi IPB dan Tidak Mewakili IPB

Ilustrasi berita hoax. (Ilustrasi akuratnews.com)

Dia mengungkapkan penyebaran hoaks  tidak hanya dilakukan oleh buzzer, tapi semua orang bisa menjadi penyebar hoaks secara sadar maupun tidak. Katanya, motif penyebar hoaks pun beraneka rupa, ada yang karena uang, ideologi, kesehatan, kepedulian, politik, dan emosional.

“Terkait dengan masalah bahaya BPA dalam kemasan produk makanan dan minuman yang melibatkan penyebaran berulang  hoaks yang sama selama beberapa tahun terakhir, saya menilai berbau kepentingan bisnis bertameng kepedulian pada masalah kesehatan. Sehingga beberapa kali terjadi perang tagar di media sosial terkait dengan isu ini,” tukasnya.

Dikatakan, hoaks akan selalu ada di media sosial. Keberadaan lembaga-lembaga cek fakta memang membantu publik untuk mengetahui apakah informasi yang mereka terima itu benar atau salah. Namun, tidak akan bisa menghentikan peredarannya, sebab jumlah penyebaran hoaks jauh lebih tinggi daripada klarifikasinya.

“Karena itu, yang paling penting adalah melatih daya kritis pengguna media sosial, sehingga mereka tidak mudah percaya dengan semua info yang beredar di media sosial, serta mencari bahan pembanding lain agar memahami keseluruhan fakta. Bila pengguna media sosial belum memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, maka mereka bisa dibiasakan untuk tidak mudah menekan tombol berbagi pada info-info tersebut,” ujarnya.

Dia juga memprediksi perang tagar soal BPA pada galon air minum  masih akan berulang di tahun 2022, termasuk hoaks-hoaksnya.

Sebelumnya, ASPADIN berulangkali menyatakan bahwa ada kampanye negatif terhadap kemasan polikarbonat. Padahal selama ini anggota ASPADIN menggunakan beragam kemasan yang diperbolehkan oleh peraturan perundangan di Indonesia termasuk kemasan polikarbonat.

“Dalam dua tahun belakangan, muncul narasi yang menyudutkan salah satu jenis kemasan, padahal semua kemasan memiliki resiko masing masing. Itulah kenapa kami keberatan dengan kebijakan yang diskriminatif terhadap satu jenis kemasan atau produk saja,” ucap  Ketua ASPADIN, Rachmat Hidayat.

Seperti terlihat, serangan negatif di sosial media bahkan secara terang terangan menyerang merk Aqua, pionir industri air kemasan di Indonesia. Namun, Aqua tidak menanggapi serangan-serangan itu di sosial media, karena percaya bahwa netizen bisa membedakan konten organik dan konten bayaran.

Sebelumnya, ada narasi yang mengaitkan BPA dengan autisme, hal yang secara tegas dibantah oleh dokter spesialis anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Anak, dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH yang menegaskan bahwa tidak pernah ada anak menjadi autis karena mengkonsumsi air galon guna ulang.

Begitu juga narasi BPA dikaitkan dengan kanker yang juga dibantah Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP. Dia mengatakan, belum ada bukti air galon guna ulang menyebabkan penyakit kanker.

Termasuk isu membahayakan anak dalam kandungan, dokter spesialis kebidanan dan kandungan Dr M Alamsyah Azis SpOG(K) MKes KIC mengatakan, belum ada seorang ibu hamil yang janinnya terganggu kesehatannya karena mengonsumsi air galon guna ulang.

Selanjutnya 1 2
Penulis:

Baca Juga