ICJR Kritik Keras Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Kasus Trisakti dan Semanggi Melalui Jalur Rekonsiliasi

Supriyadi Widodo Eddyono, Direktur Eksekutif, Institute for Criminal Justice Reform ( ICJR).

Jakarta, Akuratnews.com - Direktur Eksekutif, Institute for Criminal Justice Reform ( ICJR), Supriyadi Widodo Eddyono, mengatakan, Jaksa Agung belum menjalankan tugas dengan baik proses pemeriksaan hasil penyelidikan Komnas HAM 2002, Pemerintah harusnya mampu membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc.

Supriyadi menyebutkan, pada Senin, 30 Januari 2017 Pemerintah yang diwakili Kemenko Polhukam melakukan rapat koordinasi dengan Komnas HAM, Pada intinya, pemerintah memutuskan menempuh jalur non-yudisial berupa Penyelesaian kasus Trisakti dan Semanggi melalui jalur rekonsiliasi. Pemerintah memilih jalur ini sebagai “Pilihan Politik”.

Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menyayangkan dan mempertanyakan langkah yang diambil pemerintah ini.

ICJR menilai bahwa Pemerintah tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menempuh jalur Non-yudisial tanpa adanya kejelasan proses yudisal, terlebih lagi hanya didasarkan pada alasan pilihan politik.

" Ini  justru mengingkari janji politik Presiden Joko Widodo yang ingin menyelasaikan masalah pelanggaran berat HAM masa lalu," kata Supriyadi kepada Akuratnews.com, Selasa (31/01/2017).

ICJR mengungkapkan,  berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Pemerintah melalui Keputusan Presiden dapat membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc untuk memeriksa dan memutus kasus-kasus pelanggaran berat HAM.

Sehingga , perlu untuk dipahami bahwa pada dasarnya penyelidikan Kasus Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II, telah selesai diselidiki Komnas HAM sebagai penyelidik berdasarkan UU Pengadilan HAM pada Maret 2002, namun sampai saat ini, Jaksa Agung belum menjalankan amanat UU Pengadilan HAM dengan melakukan penyidikan yang layak terhadap kasus-kasus tersebut.

Menurutnya, hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM seharusnya cukup untuk menaikkan kasus-kasus tersebut ke proses penyidikan, belum lagi, " Karena baik korban, saksi dan pelaku pada dasarnya masih hidup dan lebih dari cukup untuk memberikan keterangan dalam proses peradilan," ungkap Supriyadi.

Sementara, ICJR mengingatkan bahwa ketidakjelasan proses hukum terkait kasus Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II dapat diartikan sebagai tindakan melanggengkan praktik impunitas dan mengkhianati perjuangan Hak Asasi Manusia.

Lebih dari itu, kata dia, ICJR menganggap bahwa tindakan Pemerintah melalui Jaksa Agung sebagai tindakan Unwilling (Tidak ada kemauan atau itikad) dimana Pemerintah melalui Jaksa Agung enggan untuk meneruskan proses peradilan pidana dalam kasus pelanggaran berat HAM padahal memiliki kemampuan untuk itu.

ICJR pada dasarnya mendukung  langkah-langkah rekonsiliasi,"  Namun tanpa adanya pengungkapan kebenaran terlebih dalam jalur yudisial dengan seluruh kemampuan yang saat ini dimiliki oleh Pemerintah, maka Pemerintah dapat dianggap lari dari tanggung jawab kemanusiaan," tegasnya. (Agus)

Penulis:

Baca Juga