Perang Brutal di Suriah

Idlib Membara, Rezim Suriah Serang Rumah Sakit dan Sekolah

Idlib, Akuratnews.com – Perang saudara di Suriah hampir memasuki tahun ke sembilan, perang yang tercatat paling brutal dan abai terhadap hukum perang ini masih mencuat hingga saat ini. Rezim Bashar Al Assad dibantu Rusia, dengan pasukan Koalisi pimpinan Amerika Serikat di satu sisi dan Militan Islamic State Iraq and Syiria atau ISIS di sisi lainnya, versus pejuang-pejuang militan disebut-sebut menjadi sebab 'pembantaian' jutaan manusia di tanah Syam ini.

Kecemasan dunia internasional kepada nasib rakyat Suriah, terutama perempuan dan anak-anak, berbanding sama dengan kecemasan mereka terhadap tenaga medis mau pun relawan Amnesti Internasinal yang kerap jadi sasaran serangan rudal.

Seperti dilaporkan, Amnesty Internasional pada Kamis (28/3/2019) mengatakan rezim Suriah dan sekutu Rusia-nya kembali menyerang fasilitas medis dan sebuah sekolah di provinsi Idlib yang dikuasai oleh pejuang militan dengan serangan udara dan artileri selama sebulan terakhir.

Kantor berita Al Arabiya melansir pernyataan Amnesti yang menyebutkan, "Setelah delapan tahun perang, rezim Suriah terus menunjukkan ketidakpedulian terhadap hukum perang dan kehidupan warga sipil,"

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), rezim menyerang provinsi di barat laut Suriah yang dikuasai oleh Hai’ah Tahrir Syam (HTS) sejak Februari. Dalam serangan itu, sedikitnya 170 warga sipil tewas dan ribuan orang menjadi pengungsi.

Amnesti mengatakan, rezim Suriah dan Rusia melakukan serangan brutal yang menghantam rumah sakit, bank darah, dan fasilitas medis lainnya, serta toko roti dan sekolah.

“Pemerintah Suriah, dengan dukungan Rusia, jelas menggunakan taktik militer yang melanggar hukum yang menyebabkan pengungsian besar-besaran, dalam beberapa kasus pemindahan paksa,” ujar pernyataan Amnesti.

Amnesti juga mengatakan laporannya didasarkan pada kesaksian saksi yang didukung oleh “analisis video, sumber informasi terbuka dan citra satelit”.

Pada 15 Maret, Amerika Serikat menuduh Rusia dan rezim Asad bertanggung jawab atas peningkatan kekerasan di Idlib. “Terlepas dari klaim Rusia untuk menargetkan ‘teroris’, operasi ini telah menyebabkan puluhan korban sipil dan menargetkan tim penyelamat ketika mereka berusaha menyelamatkan nyawa di lapangan,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Editor : Red/Akuratnews.com

Penulis:

Baca Juga