IHSG Diharapkan Mempertahankan Tren Kenaikannya

IHSG
IHSG

Jakarta, Akuratnews.com - Bursa saham Indonesia kembali ditututp menguat dalam perdagangan hari Kamis (08/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, bahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga.

IHSG ditutup naik 0,62%. Ini merupakan kenaikan ke delapan secara beruntun dan menjadi siklus terpanjang sejak Juli 2018. Mata uang Garuda sendiri menguat 0,27% di hadapan greenback dengan terakhir diperdagangkan dipasar spot pada posisi US$ 1 dibanderol Rp 14.535.

Situasi global mendukung kenaikan bursa, seperti hasil pemilu sela AS dan data ekonomi dari China. Pemilu sela menghasilkan kemenangan Partai Demokrat di House of Representatives. Sementara itu, Partai Rebublik mempertahankan posisi mayoritasnya di Senat. Dengan House yang dikuasai oleh Partai Demokrat, kebijakan-kebijakan pro pertumbuhan ekonomi seperti pemotongan tingkat pajak akan menjadi sulit untuk diloloskan. Pada 2 minggu sebelum Pemilu sela ini, Donald Trump menebar wacana akan memangkas pajak penghasilan individu kelas menengah sebesar 10%.

Trump juga berusaha mendongkrak perekonomian melalui belanja secara besar-besaran. Langkah ini kemungkinan akan dijegal oleh Partai Demokrat. Pasalnya, defisit anggaran di Negeri Paman Sam sudah begitu tinggi. Pada tahun fiskal 2018, defisit anggaran di AS tercatat sebesar US$ 729 miliar, naik 17% dari posisi tahun fiskal 2017, sekaligus merupakan yang terbesar sejak 2012.

Pada akhirnya, perekonomian AS yang kini sedang panas bisa menjadi dingin. Hal ini akan membuat The Federal Reserve tak perlu kelewat agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Sayangnya ini bukan kabar baik bagi dolar AS. Selama ini persepsi kenaikan suku bunga acuan AS yang lebih agresif memang selalu menjadi bahan bakar penguatan greenback.

Kedua, rilis data perdagangan internasional China. Sepanjang Oktober 2018, ekspor China tumbuh sebesar 15,6% secara tahunan. Mengalahkan konsensus yang dihimpun oleh Reuters sebesar 11% YoY. Sementara itu, impor tumbuh sebesar 21,4% YoY, juga mengalahkan konsensus yang sebesar 14% YoY.

Pelaku pasar lantas menilai bahwa China ternyata tidak terlalu terluka akibat perang dagang dengan AS. Meski data-data ekonomi domestik melambat, seperti Purchasing Managers Index (PMI), tetapi kinerja eksternal China masih meyakinkan.

China sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia, sangat mempengaruhi negara-negara Asia lainnya. Ketika kinerja ekonomi China impresif, maka ada harapan bisa mengangkat para tetangganya termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari rilis angka cadangan devisa. BI mengumumkan cadangan devisa per akhir Oktober 2018 sebesar US$ 115,16 miliar, naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu US$ 114,85 miliar.  Naiknya cadangan devisa akan memberikan amunisi tambahan bagi bank sentral untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, penerbitan obligasi global oleh PT Inalum sebesar US$ 4 miliar juga memberikan amunisi bagi rupiah. Perolehan dana ini dipakai untuk membeli saham PT Freeport Indonesia. Hasil penerbitan ini mampu menambah pasokan valas di dalam negeri sehingga rupiah menguat. Bahkan mungkin saja faktor ini menjadi kunci penguatan rupiah kali ini. (LH)

Penulis:

Baca Juga