Ihza & Ihza Law Firm, Menilai Putusan Yang Menjerat Kliennya Aneh

Pimpinan Ihza & Ihza Law Firm Prof. Yusril Ihza Mahendra (Foto : Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews. Com – Direktur Utama PT Nusantara Ragawisata Christoforus Richard alias Christoforus Richard Massa, harus mendekam di tahanan atas kasus kepemilikan tanah yang tidak pernah dijualnya. Keputusan yang menjerat Richard, dinilai kuasa hukumnya, di bawah bendera Ihza & Ihza Law Firm, tidak tepat. Pasalnya untuk kasus kepemilikan sudah diputuskan oleh Mahkamah Agung (MA) sah milik Richard

Pimpinan Ihza & Ihza Law Firm Prof. Yusril Ihza Mahendra menjelaskan bahwa kliennya merupakan Direktur Utama PT Nusantara Ragawisata yang sah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, yaitu perusahaan dan Pemilik yang Sah atas sebidang tanah dengan SHGB No. 72/Ungasan dan SHGB No. 74/Ungasan yang di keluarkan oleh BPN Kab. Badung dan Richard secara tidak langsung tentu berhak mewakili perusahaannya.

“Beliau sudah memiliki sejak lama (aset tanah yang disengketakan di Bali) tetapi tiba-tiba tanah ini dijual. Sampai saat ini tidak tahu siapa yang menjualnya. Tanah itu dijual oleh orang yang tidak jelas, dan juga tidak pernah disebutkan siapa yang menjual tanah tersebut. Richard menggugat ke pengadilan agar jual beli itu dibatalkan, dan pengadilan memenangkan pak Richard sampai ke MA. MA menyatakan bahwa jual beli itu dilakukan oleh orang yang tidak berwenang untuk menjual dan jual beli itu dinyatakan dibatalkan,” katanya di Kantornya, Kota Kasablanka, Jakarta, (31/7).

Lebih jauh dia menjelaskan, jika menilik dari perkara putusan tersebut, seharusnya perkara yang menjerat kliennya sudah selesai. Pihak pembeli berinisial TBL, mengklaim dirinya sebagai pembeli yang beritikad baik. Dalam hukum pembeli yang beritikad baik itu harus dilindungi. Tetapi tidak serta merta seseorang ,mengkliam dirinya beritikad baik.

“Ini ada tanah mau dijual, siapa yang menjual tentu orang yang ingin membeli pertama-tama bertanya, tanah ini milik siapa ? dan pasti pembeli akan datang ke notaris untuk minta tolong di cek  ke BPN setempat siapa pemilik yang sah.Itu tidak dilakukan yang bersangkutan. Tentu kita bertanya-tanya orang yang beritikad baik masa mau beli tanah pemilik dan penjualnya tidak jelas,” ungkap pria yang digadang-gadang sebagai Calon Meteri Hukum dan HAM ini.

Jadi sekarang beliau berdalih pembeli beritikad baik, masih kata Prof. Yusril, untuk menyatakan sebagai beritikad baik harus dibuktikan dipengadilan dan pengadilan sudah membuktikan bahwa pembelian itu batal karena tidak sah. Keputusan MA, tidak menyelesaikan kasus jual beli ini. Sekarang Richard (klien) kemudian diadukan ke pengadilan dan tiba-tiba dihukum karena dianggap telah memalsukan dokumen.

“Menjadi pertanyaan, dokumen apa yang dipalsukan ?. Ini pun jadi aneh lagi, dalam pemeriksaan fakta otentik dikatakan keterangan palsu tetapi ternyata surat yang disampaikan ke notaris setelah dilakukan pengujian oleh Bareskrim bukan tanda tangan Richard dan mereka sedang mengajukan PK atas perkara ini,” paparnya.

Prof. Yusril, menegaskan pihaknya menangani perkara ini secara professional dan melihat secara jernih dari segi hukum karena jual beli tanah ini sudah selesai karena sudah ada putusan MA, tetapi kemudian ada pembeli beritikad baik.

“Kalau sekarang ada yang menuntut pak Richard, seharusnya yang dituntut itu bukan pak Richard sebagai pemilik sah akan tanah itu tetapi orang yang menjual tanah itu. Tapi sampai saat ini jika ditanya bapak beli dari siapa, tidak pernah mau bilang. Dalam bantahan di media selalu menyebutkan saya pembeli beritikad baik, tetapi tidak pernah disebutkan siapa yang menjualnya, dari siapa dia membeli,” ujarnya.

“Jadi keputusan pengadilan memutuskan tanah itu adalah milik pak Richard, dan sertifikad yang dimiliki oleh TBM dibatalkan oleh BPN Bandung dan atas putusan pengadilan pemiliknya adalah Richard dan BPN Bandung menerbitkan sertifikat atas nama Richard. Jadi inti persoalannya jika ada yang membantah, silahkan lakukan bantahan di Pengadilan,” tegas Yusril.

Penulis:

Baca Juga