Iklan Susu Kental Manis Dinilai Menyesatkan

dr. Rahmat Sentika, Sp.A, MARS, (kiri) Anggota Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Indonesia (IDAI)

Jakarta, Akuratnews.com - Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, Dr. Eni Gustina MPH, menyoroti masih banyak beredarnya promo iklan produk makanan minuman termasuk iklan susu kental manis (SKM). Promo itu menggambarkan SKM sebagai minuman yang baik dikonsumsi untuk anak-anak. Eni secara tegas mengatakan promosi iklan SKM yang mengklaim sebagai minuman susu untuk dikonsumsi anak-anak adalah menyesatkan.

Hal tersebut dikatakannya dalam diskusi publik bertema "Upaya Promotif dan Preventif Mencegah Masalah Malnutrisi pada Anak" di Jakarta, Senin (07/08/17) kemarin.

Eni juga menghimbau agar masyarakat peduli dengan tayangan-tayangan iklan yang tidak sesuai. Masyarakat dapat melaporkan jika ada tayangan iklan produk pangan yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

“Misalnya iklan susu kental manis. Susu kental manis itu isinya gula sama lemak. Tapi diiklan ditampilkan sebagai susu,” papar Eni.

Menurut Eni, kadar gula tinggi bisa membawa dampak negatif terhadap pola makan dan kesehatan keluarga. Padahal, kandungan gula yang tinggi dalam produk susu kental manis tidak cocok untuk anak-anak apalagi usia balita.

"Susu kental manis gulanya tinggi sekali, sementara kandungan susunya maksimal hanya 10 persen, itupun hanya untuk kategori tertentu. Lebih dari 40 persen dan tidak cocok diberikan kepada anak-anak yg mengakibatkan nafsu makan menjadi berkurang," jelas Eni.

Eni pun meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk lebih tegas terhadap regulasi tentang penyiaran yang sudah ada. “Setahu saya, KPI memiliki regulasi soal tayangan iklan yang menyesatkan, dan ada sanksi pidana serta denda 200 juta bagi yang melanggar,” jelas Eni.

Kementerian Kesehatan menurutnya akan terus memantau dan memperkuat aturan untuk menjaga dan meningkatkan status gizi anak Indonesia.

Sementara itu, Dewi Setyarini, Komisioner KPI Pusat yang turut hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut menjelaskan, langkah yang perlu dilakukan adalah menyatukan persepsi tentan tayangan ramah anak. Apapun yang muncul ditelevisi harus dibuat dengan perspektif anak, termasuk iklan susu kental manis yang substansi sebenarnya bukanlah susu, namun disebut sebagau susu.

“Untuk mewujudkan iklan ramah anak ini, diperlukan keterlibatan seluruh pihak. Untuk mengidentifikasi apakah konten sudah ramah anak, KPI tidak bisa melakukannya sendirian, melainkan butuh dukungan lembaga dan institusi terkait serta juga peran serta masyarakat,” ujar Dewi.

Ditempat yang sama, anggota Satgas Perlindungan Anak dan UKK Tumbuh Kembang IDAI, DR. dr.TB Rachmat Sentik, S.pA,. MARS juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap gencarnya promosi makanan dan minuman dengan kandungan gula, garam, lemak yang tinggi yang berdampak pada pola pikir masyarakat.

“Anak yang seharusnya diberi ASI, akhirnya sudah dikasih makanan macam-macam yang mengandung gula. Anak yang seharusnya diberi susu pertumbuhan, akhirnya diberi minuman susu kental manis dengan alasan praktis dan ekonomis. Disinilah peran rekan-rekan profesi kedokteran untuk terus mengedukasi masyarakat tentang asupan gizi yang perlu dan tidak baik untuk anak,” jelas dokter spesialis anak ini.

Dirinya berharap kedepannya ada kerjasama yang baik dari seluruh pihak untuk mewujudkan generasi emas Indonesia, seperti yang ditargetkan tercapai di tahun 2045. Sosialisasi, edukasi dan penegakan regulasi akan pangan yang aman untuk anak memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, produsen produk makanan dan minuman diharapkan juga mulai melakukan promosi yang bertanggung jawab dan memberikan edukasi kepada konsumen, menganai kandungan produk, cara penggunaan dan takaran penyajian.

"Jika konsumen teredukasi sejak dini, generasi penerus bangsa terhindar dari asupan makanan yang beresiko bagi kesehatan mereka dimasa mendatang" pungkasnya. (Ahy)

Penulis:

Baca Juga