INDEF : Pertumbuhan Ekonomi Di Sektor Industri Di Indonesia Mengkhawatirkan

Peneliti INDEF, Bhima Yudhistira

Jakarta, Akuratnews.com - Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ekonomi di 2016 tercatat 5,02 persen. Angka ini memang naik dibanding tahun 2015 yang hanya tumbuh 4,8 persen.

Peneliti INDEF, Bhima Yudhistira mengatakan, bahwa kurang fair rasanya jika hanya membandingkan angka pertumbuhan dengan tahun sebelumnya, apalagi dengan negara maju. Klaim bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi sudah baik, mudah sekali dibantah.

"Misalnya negara berkembang seperti India terbukti mampu tumbuh 7,6 persen, Filipina tumbuh 6 persen  dan Vietnam sebesar 6,8 persen. Bhima Yudhistira, kepada Akuratnews.com, Rabu (8/2/2017).

Dia mengaku, jika dilihat secara lebih detail, kurang lebih 9 sektor usaha di Indonesia turun di 2016. Paling mengkhawatirkan adalah penurunan sektor industri dari 4,52 persen di triwulan III menjadi 3,36 persen di triwulan IV 2016. Sedangkan secara tahunan pertumbuhan sektor industri anjlok di angka 4,29 persen dibanding tahun 2015 yakni 4,33 persen Penurunan sektor industri sudah masuk kedalam kondisi darurat. Fakta ini juga dikuatkan oleh fenomena deindustrialisasi yang sudah terjadi sejak 4 tahun lalu. Porsi industri terhadap PDB menurun hingga dibawah 20 persen.

Menurutnya, permasalahan lesunya pertumbuhan sektor industri bukan saja soal permintaan global yang sepi, atau ketidakpastian geopolitik. Hal ini yang kadang kurang dipahami, padahal konsumsi di banyak negara sebenarnya sedang tumbuh.

" Intinya sektor industri di Indonesia yang kurang siap menghadapi perubahaan tren permintaan dari negara maju ke negara berkembang. Misalnya ditengah ekonomi yang sulit, industri di India bahkan bisa tumbuh 8,2persen di 2016 karena diversifikasi pasar dan penerapan teknologi yang baik," ungkapnya.

Selain itu, negara Indonesia perlu banyak belajar dari India soal reformasi kebijakan industri. Sama-sama dimulai tahun 2014 saat itu Narendra Modi terpilih sebagai Perdana Menteri di India dan Jokowi sebagai Presiden di Indonesia. Dengan waktu start sebagai Pemimpin yang sama, kualitas kebijakan India dan Indonesia jauh berbeda. Dua tahun kemudian daya saing Indonesia merosot, sedangkan daya saing India meningkat jauh. Mengapa? Salah satunya karena reformasi kebijakan industri di India fokus, sedangkan di Indonesia sampai ada 14 paket kebijakan. Seakan semua ingin diatur, akibat banyaknya paket kebijakan menjadi sulit untuk direalisasikan.

Hingga saat ini banyak yang bertanya sebenarnya paket kebijakan itu sebagai policy dressing atau real policy? Kalau sekedar policy dressing maka investor juga tidak terbuai oleh janji manis Pemerintah.

"Buktinya pertumbuhan realisasi investasi terus turun. Jika maksudnya adalah kebijakan sungguhan (real policy) yang ingin membangkitkan sektor industri, maka janji harga gas murah untuk industri masih jauh dari kenyataan," ujarnya.

Dia mengungkapkan, bahwa jadi ditengah darurat sektor industri tentu Pemerintah harus disadarkan kembali bahwa tanpa sektor industri pertumbuhan ekonomi akan terus loyo.

Kebijakan yang sudah sampai 14 itu harus di evaluasi terus menerus, dan kalau perlu ada moratorium paket kebijakan baru. Industri perlu kebijakan yang berkualitas dan terukur.

" Selama ini kebijakan industri sama seperti macan kertas, terlihat meyakinkan tapi sulit dicapai karena tidak realistis," tegasnya. (Agus)

Penulis:

Baca Juga