oleh

Indonesia Berpotensi Menjadi Pusat Data Di Asia Pasifik

Jakarta, Akuratnews – Investasi pusat data di kawasan Asia-Pasifik terus meningkat. Banyak investor tertarik dengan pasar negara berkembang di Cina, India dan Indonesia.

Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL), permintaan untuk penyimpanan data meningkat, banyak perusahaan mencari tempat fasilitas penyewaan bersama, daripada memilikinya sendiri. Permintaan ini memprediksi bahwa pendapatan di kawasan Asia Pasifik untuk pusat data bersama atau colocation akan melampaui Amerika Serikat dengan peningkatan yang mencapai 40% dari pangsa pasar global di tahun 2020.

Didorong oleh pertumbuhan penduduk yang cepat dan masuknya e-commerce di kawasan ini, maka data yang dihasilkan dari berbagai produk dan layanan digital di kawasan Asia Pasifik meningkat dengan cepat. Untuk mengatasi jumlah informasi tersebut, perusahaan-perusahaan beralih menyimpan data di layanan cloud. Penyedia layanan cloud terkemuka seperti Google, Amazon, Microsoft, dan Alibaba bersaing untuk menambah zona cloud di kawasan tersebut, itu sebabnya transaksi layanan cloud publik di Asia Pasifik dapat mencapai U$ 15 miliar pada tahun 2018.

“Ketika pasar cloud berkembang, organisasi-organisasi perlu membangun dan memelihara kapasitas infrastruktur dengan cepat agar dapat mengikuti perkembangannya“, kata Bob Tan, Director of Alternatives, JLL Asia Pasifik. “Kami melihat terdapat peningkatan jumlah investor yang ingin meningkatkan eksposur mereka ke sektor data center karena memiliki beragam manfaat dan cenderung mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dibanding jenis aset tradisional seperti kantor atau ritel.”

Menurut laporan baru dari JLL, para investor dan operator yang sudah mapan di kawasan Asia-Pasifik sedang memiliki tujuan di luar lokasi utama seperti Singapura, Hong Kong, Sydney dan Tokyo.

Mr Tan menambahkan: “Pada umumnya, investor memilih kota-kota ini dikarenakan infrastruktur yang kuat, konektivitas dan bisnis proses yang relatif mudah. Lokasi-lokasi ini akan tetap menjadi pasar yang utama, kota-kota di Cina, India dan Indonesia adalah lokasi hotspot yang baru dikarenakan memiliki basis populasi yang besar, tingkat penggunaan internet yang tinggi serta aktivitas media sosial yang aktif. Dalam beberapa tahun terakhir, perlindungan data dan undang-undang keamanan cyber di negara-negara ini memaksa pengguna untuk beralih ke pusat data di darat, sehingga permintaan lebih lanjut meningkat.”

Sebagai lokasi pusat data yang tumbuh paling cepat di dunia, kebutuhan Cina akan ruang colocation terus bergantung pada pertumbuhan fintech yang cepat, transformasi digital dan ketergantungan pada analisis data, menurut laporan tersebut. JLL memprediksi bahwa kota-kota kelas kedua di Cina juga akan menarik minat, dikarenakan ketersediaan lahan dan listrik, biaya operasi yang lebih rendah, dan meningkatnya jaringan serta infrastruktur pendukung.

Demikian juga, laporan ini menekankan bahwa basis populasi besar di India dan inisiatif yang diprakarsai oleh pemerintah, kemungkinan akan mendorong pertumbuhan pasar layanan cloud. Sebagai negara kedua terbesar untuk pengguna internet seluler, perekonomian Internet di India akan berlipat ganda pada tahun 2020. Digital India adalah kampanye pemerintah yang bertujuan untuk mengubah negara itu menjadi negara dengan perekonomian yang diberdayakan secara digital, hal ini diharapkan dapat mendorong permintaan yang lebih besar untuk membangun pusat data yang berkualitas tinggi.

Dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan akan mencapai US$ 60 miliar pada tahun 2020, hal ini didorong oleh meningkatnya penggunaan Internet dan smartphone. Laporan ini juga menunjukkan bahwa semakin banyak UKM lokal yang ingin menyediakan fasilitas colocation untuk mengurangi pengeluaran modal serta biaya pemeliharaan, namun dapat beroperasi dengan efisiensi yang tinggi dibandingkan dengan fasilitas on-site.

Namun, dalam laporan ini digambarkan bahwa pusat data adalah kelas aset yang unik, dan untuk memasuki pasar menjadi sebuah tantangan karena kurangnya para ahli untuk sektor ini dikarenakan membutuhkan keahlian dan pengetahuan yang khusus.

“Mengingat esensi dari bisnis ini, banyak investor mencari mitra berpengalaman yang memahami pasar dengan baik dan dapat memenuhi standar tingkat layanan yang ketat, serta dapat memecahkan masalah, menjaga peralatan dengan baik, dan dapat mengelola biaya energi”, dijelaskan oleh Mr. Tan. “Karena sulit untuk mencapai kriteria ini secara alami, sebagian besar investor menemukan mitra lokal melalui investasi bersama dan usaha patungan, sementara perusahaan lain telah melakukan hal tersebut dengan mengakuisisi platform lokal, sehingga mereka dapat memahami dalam waktu singkat.”

Metode lain untuk memperoleh eksposur adalah membangun pusat data atau penjualan-dan-penyewaan kembali fasilitas yang ada. Dalam skenario pertama, investor akan terlibat dengan operator pada tahap awal dan mengembangkan pusat baru berdasarkan spesifikasi yang mereka miliki. Pada skenario kedua, investor memperoleh pusat data yang sudah ada langsung dari operator atau pengguna, tetapi memberikan kendali operasional penuh kepada mereka.

Di masa depan, Mr. Than percaya bahwa pusat data akan terus berada dalam rencana para investor. “Kami yakin bahwa banyak prospek untuk kawasan Asia – Pasifik dan akan terus meluas, dengan modal yang signifikan untuk pasar negara berkembang. Mengingat ukuran dan potensi pasar yang besar, kawasan ini menawarkan permintaan serta peluang pertumbuhan yang tinggi”.

Loading...

Komentar

News Feed