Indonesia Resmi Resesi, Ini Dampaknya Bagi Masyarakat

Jakarta, Akuratnews.com - Seperti sudah diprediksi sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia kembali terkontraksi menjadi 3,49 persen.

Dengan demikian, Indonesia resmi mengalami resesi untuk kali pertama sejak 1999,csetelah kuartal sebelumnya juga minus 5,32 persen.

"Ekonomi Indonesia di Triwulan III masih mengalami kontraksi 3,49 persen," ujar Kepala BPS, Suhariyanto dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (5/11).

Selain Indonesia, beberapa negara lain juga telah mengalami resesi. Di antaranya, Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Australia, Uni Eropa, hingga Hong Kong.

Berbagai kebijakan yang dilakukan untuk menekan penyebaran virus Covid-19, seperti penutupan sekolah dan beberapa kegiatan bisnis, pembatasan sosial berskala besar, bahkan lockdown wilayah yang mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi dan investasi.

Lalu,  apakah dampak resesi terhadap keseharian masyarakat?

Resesi sendiei adalah hasil, resultansi dari ekonomi yang menciut. Ekonomi bisa menciut karena penurunan aktivitas dunia usaha dan rumah tangga.

Dari sisi dunia usaha, PSBB membuat proses produksi terganggu karena belum semua karyawan bisa pergi ke kantor. Apalagi kalau ada kasus positif, kantor atau pabrik wajib ditutup sementara. Sementara aktivitas masyarakat yang terbatas dan bahkan sebagian masih di rumah saja membuat penjualan menurun.

Berdasarkan laporan Analisis Hasil Survei Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha keluaran BPS, dari 34.559 unit usaha yang disurvei nyaris 83 persen mengaku mengalami penurunan pendapatan.

Unit Usaha Kecil (UMK) juga ikut terimbas. 84,2 persen pelaku UMK mengaku mengalami penurunan pendapatan. Sementara di Unit Usaha Besar (UMB) adalah 92,29 persen.

Ini membuat dunia usaha kelimpungan untuk mempertahankan bisnisnya. Salah satu upaya yang ditempuh agar perusahaan tetap hidup adalah efisiensi dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Saat ini, jumlah pengangguran bertambah naik setiap harinya. Angka pengangguran saat ini tujuh juta, angkatan kerja 2,5 juta dan korban PHK tujuh juta.Total 16,5 juta pengangguran.

Di tengah ancaman tsunami PHK, rumah tangga memilih untuk meningkatkan tabungan untuk jaga-jaga menghadapi situasi terburuk. Konsumsi pun dikurangi, yang kemudian semakin menurunkan permintaan yang sudah rendah.

Bank Indonesia mencatat, pada Agustus 2020 konsumen mengalokasikan 20,42 persen pendapatan mereka untuk ditabung. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Desember 2018.

Dalam situasi ekonomi yang tidak pasti, seperti resesi, masyarakat tentu berpandangan bahwa langkah terbaik adalah menabung. Ya itu tadi, Selamatkan Diri Masing-masing (SDM), harus berjaga-jaga kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti PHK.

Namun kalau uang masyarakat terkumpul di bank, maka tinggal sedikit yang tersisa untuk berputar di sektor riil. Pada akhirnya peningkatan jumlah tabungan akan menciptakan paradoks, yaitu membuat resesi menjadi semakin dalam. Semakin banyak pengusaha yang tumbang, semakin banyak pekerja yang menjadi korban PHK.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga