Industri Rokok Meraup Keuntungan Ganda dari Anak?

Akuratnews.com - Industri rokok di Indonesia tidak terlepas dari kontroversi dan permasalahan terkait hak anak. Hingga saat ini, industri rokok masih belum menerima tanggung jawabnya terhadap angka pekerja anak yang tinggi di perkebunan tembakau sebagai rantai pasoknya.

Pekerja anak di perkebunan tembakau berpotensi terkena risiko kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, salah satunya ancaman Green Tobacco Sickness (GTS), yaitu berbagai jenis gangguan kesehatan yang disebabkan paparan nikotin yang terkandung dalam daun tembakau baik pada saat panen maupun pengolahan tembakau.

Ironisnya, industri rokok juga mengambil keuntungan dari penjualan rokok melalui iklan, promosi dan sponsor yang agresif menyasar anak sebagai target konsumen. Sejumlah studi menunjukkan terpaan iklan dan promosi rokok sejak usia dini meningkatkan persepsi positif akan rokok, keinginan untuk merokok, dan mendorong kembali merokok setelah berhenti.

Seperti studi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (2007) bahwa 46,3 persen remaja mengakui iklan rokok mempengaruhi mereka untuk mulai merokok, serta studi Lembaga Pengawas Kesehatan Publik Amerika Serikat (Surgeon General of the United States) yang menyimpulkan iklan rokok mendorong anak-anak mencoba merokok serta menganggap rokok sebagai hal yang wajar. Kondisi inilah yang antara lain memicu naiknya angka perokok anak di Indonesia. Prevalensi prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun terus meningkat dari tahun ke tahun, dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% atau 3,3 juta anak pada 2018 (Riskesdas 2018).

Hasil kajian terbaru Emancipate Indonesia dan Yayasan Lentera Anak pada 2021 menegaskan bagaimana industri rokok telah meraup keuntungan ganda dari anak-anak. Nadya Noor Azalia LL.B, LL.M., Research & Development Specialist Emancipate Indonesia, memaparkan sejumlah kondisi terkini pekerja anak di perkebunan tembakau yang tidak jauh berbeda dengan kondisi pekerja anak di perkebunan tembakau dalam laporan penelitian Human Rights Watch Indonesia (HRW Report) pada 2016).

Hal ini disampaikan Nadya dalam kegiatan Diseminasi “Industri Rokok Meraup Keuntungan Ganda dari Anak: #SaveSmallHands yang berlangsung secara daring, di Jakarta, Selasa, 12 Agustus 2021.

Menurut Nadya, kondisi pertama bahwa faktor ekonomi dan tradisi masih menjadi penyebab utama keterlibatan pekerja anak di perkebunan tembakau. Bagi orang tua, keikutsertaan pekerja anak membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga dan dapat membiayai uang jajan anaknya.

Umumnya anak-anak terbiasa ikut orang tuanya bekerja mengelantang daun tembakau sejak di tingkat Sekolah Dasar, dan  bekerja di perkebunan tembakau saat musim panen.

Kondisi kedua, para petani dan pekerja anak yang menjadi responden penelitian tidak  mengetahui mengenai GTS maupun risiko kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang dihadapi anak-anak. Sejumlah responden mengakui belum pernah ada sosialisasi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja maupun larangan atas keterlibatan pekerja anak di perkebunan tembakau.

Responden juga menyatakan bahwa pihak perusahaan terkadang mengunjungi daerah mereka untuk mengontrol proses produksi, kuantitas dan kualitas daun tembakau, tapi tidak pernah menegaskan bahwa mereka tidak akan membeli daun tembakau apabila para petani melibatkan pekerja anak dalam proses produksi.

Sedangkan kondisi ketiga, tidak ada perubahan signifikan dalam perbandingan jenis pekerjaan, upah, jam kerja, dan risiko kesehatan pekerja anak pada 2016 dan 2021. Jenis pekerjaan yang dilakukan anak di lokasi penelitian antara lain menanam dan memelihara tanaman, memberi pupuk dan pestisida, memanen daun tembakau, menggelantang daun tembakau dan melepaskan daun tembakau yang telah dioven dari tongkat. Dalam sehari, anak-anak bisa memperoleh upah Rp. 7.000 sampai Rp. 20.000 tergantung berapa banyak jumlah daun tembakau yang perlu digelantang.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis:

Baca Juga