Ini Peran Penting Pemuda dalam Pemilu 2019

Aliza Gunando dalam Dialog Nasional 'Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Mengawal Pemilu 2019', Aula PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018). Foto: Rahmi/Akuratnews.com
Aliza Gunando dalam Dialog Nasional 'Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Mengawal Pemilu 2019', Aula PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018). Foto: Rahmi/Akuratnews.com

Jakarta, Akuratnews.com - Pemuda memiliki peranan penting dalam mewujudkan demokrasi Indonesia. Sebagai salah satu alat mencapai demokrasi, pemilu harus berjalan dengan aman dan damai serta terhindar dari perpecahan antar anak bangsa.

Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Aliza Gunando mengatakan, demi mewujudkan demokrasi, pemuda harus berperan aktif dalam mensukseskan dan mengawal Pemilu 2019.

"Kita harus jadi pelaku. Berperan aktif mensukseskan dan mengawal Pemilu 2019," ujarnya dalam dialog nasional 'Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Mengawal Pesta Demokrasi Pemilu 2019', yang diadakan di Aula Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018).

Menurutnya, mengawal pemilu bukanlah suatu kewajiban, melainkan hak bagi pemuda. Aliza menyebutkan, dalam mengawal Pemilu 2019, ada dua peranan penting yang harus dilakukan. Pertama, pemuda harus masuk dalam sistem pemilu.

"Kita harus masuk dalam sistemnya. 23 hari sebelum pemilu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) akan merekrut relawan Tempat Pemungutan Suara (TPS). Satu orang satu TPS, dan akan dibubarkan tujuh hari setelah pemilihan," tukasnya.

"Ikut. Masuk dalam sistem. Karena ketika kita masuk sistem, maka tugas mengawal itu bisa kita jalankan. Itu baru peran pemuda yang aktif," sambung dia.

Kemudian yang kedua, Aliza yang juga merupakan aktivis kebangsaan tokoh pemuda Golkar ini menyebutkan, pemuda berperan penting untuk mengajak orang-orang disekitarnya datang ke TPS. Ia menilai, salah satu masalah dalam pemilu adalah banyaknya pemilih yang malas datang ke TPS dan memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya.

"Jadi, jika kita tidak bisa masuk ke dalam sistem, kita bisa mengajak diri sendiri dan juga orang-orang disekitar untuk datang ke TPS," tuturnya.

Dewasa ini, media sosial seolah jadi alternatif media dalam menyampaikan pendapat ataupun menunjukkan sikap pro dan kontra akan suatu hal. Menyikapi fenomena tersebut khususnya yang berkaitan dengan politik, Aliza menghimbau, agar pemuda Indonesia tidak ikut terpengaruh dan memecah belah persatuan.

"Kalau tidak bisa menjalankan dua peran tadi, paling tidak jangan alay (bersikap berlebihan) di media sosial. Jaga persatuan bangsa," tegas dia. (Rhm)

Penulis:

Baca Juga