Ini Sisi Baik dan Buruk Saat Artis Serta Pesohor Negeri Ramai-ramai Beli Klub Sepakbola

AKURATNEWS - Setelah dua selebriti, Raffi Ahmad dan Atta Halilintar serta anak presiden yang juga entreprenur muda, Kaesang Pangarep membeli klub sepakbola di Indonesia, Gading Marten pun melakukan hal yang sama. Bahkan disinyalir, pesinetron Prilly Latuconsina akan mengikuti langkah mereka.

Pertanyaannya, sebenarnya fenomena apakah ini? Menurut pengamat perilaku artis dan trainer komunikasi kreatif, Lutfi JW, hal ini adalah fenomena bisnis psikososial yang mengandung sisi baik dan buruk.

"Sepakbola adalah olahraga paling digemari masyarakat dunia dari berbagai level atau strata. Bahkan banyak orang yang merasa hidupnya seperti hampa tanpa sepakbola. Artinya, secara psikologis, olahraga ini sangat besar efeknya bagi kejiwaan manusia. Beberapa sampai stres, depresi bahkan bunuh diri ketika klubnya kalah. Di lain sisi, satu negara bisa euforia ketika menang di Piala Dunia atau juara dalam sebuah kompetisi," ujar Lutfi di Jakarta, baru-baru ini.

Sepanjang pengamatannya, sepakbola sudah menjadi bisnis besar dan memiliki potensi pengeruj laba yang sangat signifikan. Walau itu belum terjadi di Indonesia, namun seiring berjalannya waktu, bisnis yang lahir dari sepakbola juga akan menimpa Indonesia.

"Dan artis yang memiliki dana berlimpah sudah selayaknya terjun ke bisnis sepakbola. Karena ini adalah langkah cerdas dan langkah menjemput bola. Bisnis di sepakbola tidak akan ada matinya. Mengapa? karena sudah menyangkut ego, emosi atau komunitas. Maka saya sebut ini adalah bisnis psikososial," imbuh Luthfi yang juga pernah memiliki klub sepakbola di Pati, Jawa Tengah ini.

Lalu apa manfaat positif dari tren artis membeli klub sepakbola? Menurut Lutfi, ada tiga manfaat besar dari fenomena ini, tidak hanya untuk pemilik klub sepakbola tetapi juga bagi netizen dan negara.

"Berdasarkan pengamatan dan kalkulasi saya, setidaknya ada tiga manfaat yang sangat besar lahirnya fenomena ini. Pertama, munculnya tren atau gaya hidup baru yang bermanfaat dan bermutu di kalangan selebritis. Kedua, netizen dan pecinta sepakbola akan cenderung mendapatkan pemain, permainan dan kompetisi yang bermutu tinggi karena kekayaan klub untuk mendatangkan pemain-pemain berkualitas dari seluruh dunia. Ketiga, perputaran uang dari industri sepakbola ini akan memicu ekonomi kreatif bangsa," papar Lutfi.

Pria yang juga praktisi neuro linguistic programming ini menyebut, trend atau fenomena positif ini akan memicu munculnya tren-tren baru dari kalangan selebritis dengan mutu dan manfaat yang lebih baik bagi publik. Dan ini sangat mungkin karena banyak sekali artis Indonesia yang punya dana melimpah untuk mampu membeli klub sepakbola.

"Jika fenomena ini berlanjut, maka terjadi simbiosis mutualisme antara para selebritis dengan penggemarnya," imbuh Lutfi.

Lalu, apa sisi buruk dari fenomena ini menurutnya. Lutfi menyebut, sisi buruk fenomena ini ketika sang pemilik klub dan atau klub bola yang dimiliki artis ini diseret atau terseret ke ranah politik.

"Ini akan menjadi preseden buruk dan membuat iklim bisnis olahraga tidak kondusif lagi," ucap Lutfi.

Ia pun berharap, fenomena ini agar memiliki manfaat yang besar bagi beberapa aspek kehidupan masyarakat Indonesia lewat hadirnya pemerintah sebagai fasilitator dan pembina yang adil dan beradab.

"Kedua, partai dan artis pemilik klub untuk berpolitik secara lebih elegan, etis dan memiliki empati yang besar kepada masyarakat," pungkas Lutfi.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga