oleh

Ini Temuan Bawaslu soal Disinformasi

Jakarta, Akuratnews.com – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memusatkan perhatian untuk mengawasi konten disinformasi di media sosial jelang Pemilu 2019. Pasalnya, disinformasi dianggap dapat membuat kualitas Pemilu menurun

“Disinformasi berbeda konsep dengan ujaran kebencian namun sangat mungkin mengandung ujaran kebencian,” kata Anggota Bawaslu Rahmat Bagja dalam diskusi bertajuk ‘Panas di Medsos, Dingin di Kotak Suara’ di Hotel Le Meridien, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (14/11/2018).

Selain itu, disinformasi juga dinilai dapat mengancam demokrasi, merusak rasionalitas, memicu konflik sosial dan disintegrasi. Rahmat lalu memaparkan data dari temuan Bawaslu selama Juli – September 2018.

Sebanyak 47,83 persen konten disinformasi ditemukan di Facebook. Lalu 12,17 persen konten disinformasi ditemukan di Twitter.

Menyusul Whatsapp dan Youtube masing-masing 11,74 persen dan 7,83 persen. Menurut Rahmat, pihaknya sudah melakuan sejumlah langkah-langkah untuk menanggulangi konten disinformasi di media sosial.

Diantaranya bekerjasama dengan Kemenkominfo dan platform media sosial untuk melakukan pemblokiran akun penyebar disinformasi dan ujaran kebencian. Bawaslu juga membentuk Satgas pengawasan media sosial.

Rahmat lantas menyatakan Pemilu 2019 mendatang harus menjadi perhatian bersama karena menggunakan 5 kotak suara dengan 185 juta DPT dan 16 Parpol. “Ini akan sangat rawan sekali dihasut oleh isu SARA dan politik identitas. Kami harapkan kita semakin bijaksana,” pungkas Rahmat. (Ysf)

Loading...

Komentar

News Feed