Inilah Tips Produksi Penyiaran Musik Mandiri dan Independen

Jakarta, Akuratnews.com - Era digital memacu para kreator konten berlomba-lomba membuat produksi dan penyiaran yang memiliki beragam segmen dan kreativitas dan tak lagi bertumpu pada lembaga besar alias mandiri.

Lalu bagaimana sebenarnya para kreator konten, termasuk di bidang musik ini memulai upayanya menyajikan konten musik yang mampu menyedot perhatian publik?

Bagaimana pula tips-tips yang bisa diambil bagi para kreator konten pemula agar bisa sesukses mereka, namun tetap memperhatikan aturan yang ada?

Di Webinar DIKSI #06 yang bertema 'Produksi dan Penyiaran Musik Secara Mandiri dan Independen' yang digelar Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI) mengupas tuntas hal tersebut.

Christian Bong, musisi, influencer dan Founder serta Direktur Indo Music Grup yang menjadi pembicara pertama menjelaskan, ia mengawali langkahnya menjadi konten kreator dari membuat konten-konten tutorial gitar di sela-sela menjadi guru les.

"Semua dicicil dari nol. Dimulai dari satu HP dan pulsa internet saja," cerita Bong.

Lalu ia mulai beranjak pada pembuatan sejumlah jingle iklan saat konten-kontennya itu mulai dapat perhatian dari publik.

Dan kini, ia pun menjelma menjadi pengusaha musik dan telah melakukan Join Venture dengan beberapa pihak.

Ditekankannya, menjadi konten kreator harus menerapkan sejumlah hal seperti: be responsible, indy but not ignored, pelajari sejarah, pelajari teori, kebiasaan setiap negara dan hargai senior.

"Cukup sering terjadi di Indonesia, konten kreator ketika diajak collab oleh senior menolak dengan alasan udah nggak laku. Ini yang nggak boleh dilakukan,' tegas Bong.

Ia juga berpesan, spirit indy tetap harus ditanamkan pada semua konten kreator.

"Jangan proyek atau endorse yang kita dapat, mematikan jiwa indy kita," pesan Bong.

Pembicara kedua di webinar ini, Indra Aziz, musisi, influencer dan founder VocalPlus berbicara soal teknis menjadi seorang konten kreator.

'Yang terpenting untuk menjadi konten kreator bukan hanya soal kesiapan alat saja. Penting juga memperhatikan konten yang dibuat. Terutama jika konten musik, yang diperhatikan adalah isi kontennya dahulu," ujar Indra.

Ia mencontohkan, konten tutorial banyak disukai penonton. Lalu konten soal review, hot topic juga kerap menjadi perhatian penonton.

"Jika penonton diberi konten-konten seperti itu, sambutannya bagus," ujar Indra.

Sedangkan Aviwkila, duo musisi dan kreator konten musik yang digawangi Uki dan Ajeng dan kini memiliki dua juta subscriber di YouTube menyebut, passion menjadi salah satu modal penting dalam berkarya.

"Jangan terus-terusan lihat viewer dan subscriber kita. Pokoknya bikin aja terus konten," ujar Uki, personil Aviwkila.

Hal ini nantinya, lanjut Uki, berkaitan dengan jam terbang sang konten kreator sebagai bahan dan proses evaluasi.

"Tapi perlu diingat, terlalu perfeksionis juga nggak selamanya bener. Karena ada yang coba bikin perfect kontennya tapi nggak pernah jadi-jadi juga," ucap Uki yang diamini Ajeng.

Sebuah hal penting juga tak boleh dilupakan dalam kaitannya dengan proses karya konten kreator musik, yakni terkait hak cipta atas sebuah karya.

Hal ini penting diperhatikan lantaran konten kreator musik banyak bersinggungan dengan hak cipta, apalagi jika mereka kerap meng-cover lagu karya musisi lain.

"Jika mau serius cover lagu, kulik-kulik soal hak cipta, hal ini akan membuat kita semakin leluasa. Dengan adanya izin, akan membuat konten kreator berkembang," ujar Indra Aziz.

Sedangkan Christian Bong menyebut, hak cipta merupakan sebuah hal dimana kembali lagi pada upaya konten kreator menghargai para seniornya.

"Hak ekonomi yang kita dapat juga harus ada pembagiannya kepada yang berhak, dalam hal ini musisi penciptanya. Dalam hal ini, FESMI yang bisa ngurusinnya," ujar Bong.

Duo Aviwkila menambahkan, walau ekosistemnya belum terbentuk secara sempurna, namun terkait royalti dari karya cipta ini tetap tak boleh dilupakan.

"Makanya, cover-cover lagu kita semua kita urus syncronize licence-nya," ujar Uki.

Sebagai penutup, Ketua Umum FESMI, Chandra Darusman mengatakan, jika musisi ingin menggelar pertunjukan musik, izin menyanyikan lagu karya musisi lain diurus langsung oleh penyelenggaranya.

Begitu juga untuk pertunjukan online. Setiap pertunjukan, lisensinya dua persen dari hasil karcis atau biaya produksi.

"Kalau pertunjukannya di upload, harus ada izin juga dari publisher-nya," pungkas Chandra.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga