Insan Pers Perlu Mendorong Pemilih Bergairah Ke TPS

Jakarta, Akuratnews.com – Peran Strategis pers sebagai penyambung lidah rakyat diharapkan  melalui tulisan-tulisannya bisa menggugah warga untuk bergairah mendatang Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada hari Rabu 17 April 2019.

“Pesta demokrasi dengan hajatan akbar Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif ini harus berlangsung dalam suasana gembira. Masyarakat diharapkan dengan suka cita datang ke TPS. Di situ insan pers mempunya andil melalui tulisannya,” begitu kata Pemerhati media Zulfikri ketika berbicara pada Dialog Pendidikan Politik di Hotel Swiss Bell, Jakarta, Senin (1/4/2019).

Dialog yang mengundang 150 peserta dari pemilih awal, aktivis Ormas, aktivis LSM, pelajar dan mahasiswa ini digelar Direktorat Politik Dalam Negeri ini menghadirkan sejumlah pembicara yaitu Dirpoldagri, Drs. La Ode Ahmad, M.,Si, pengajar IPDN, Prof Nuriah Nurdin, dan Kabag Perencanaan Dirjen Polpum Kemedagri, Sri Handoko Taruna.

Menurut Zul, masyarakat selama ini mendapat gambaran yang menakutkan tentang nasib Indonesia paska pemilihan presiden. Gambaran negatif ini tentu hasil penulisan insan pers.

“Keterbelahan masyarakat ini persis terjadi ketika Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Masyarakat terbelah dalam sentimen agama, dan etnis. Hampir setiap hari ada saja berita hoax, ujaran kebencian dan provokasi massif bertebaran di media sosial,” papar Zul mantan koresponden Taloid DeTIK tahun 1993 ini.

Sayangnya, kata Zul, para elit yang berada di pemerintahan seperti Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan justru mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia akan menjadi negara Khilafah jika kubu Prabowo-Sandi memenangkan pemilihan presiden nanti.

Dia menilai, pernyataan Luhut ini merefleksikan kepanikan yang luar biasa.  Luhut telah menabur genderang perang dengan menyeret isu agama dalam kancah Pilpres.

Memang ada petinggi TNI, seperti Jenderal (Purn) Gatot, yang juga mantan Panglima TNI yang mengkounter pernyataan Luhut. Namun sayangnya dari segi efektifitas penggunaan media, Jenderal Gatot kurang optimal. Dia hanya melawan pernyataan Luhut melalui Twitter dan bukannya melalui jumpa pers secara resmi.

Idiom "bad news is good news" memang kental mewarnai pemberitaan Pemilu 2018-2019. Padahal publik berhak informasi yang jujur, menghibur, dan mendidik.

Pemilu, kata Zul, sesungguh merupakan pesta demokrasi dan para elit telah mengotori pesta menjadi sesuatu yang menakutkan.

Zul yang kini Pemred Kesbang.com menambahkan, banyak berita-berita yang provokatif ini karena pers kita dimiliki oleh para politisi. Akibatnya, produk jurnalistik telah dicemari dengan kepentingan politis dari pemilik modal yang notabene dimiliki oleh para politisi.

Terhadap banyaknya berita provokatif dari para elit, kata Zul, sayangnya lembaga seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers kurang bisa menjadi wasit yang handal. Kedua institusi andalan masyarakat itu justru kurang berani menegur para pemilik media raksasa.

“Kita berharap ke depan, KPI, Dewan Pers, dan masyarakat turut aktif mengontrol media yang selama ini menjadi ajang kekeruhan politik di republik ini,” pungkas Zul yang juga Sekjen Forum Komunikasi Ormas Jakarta (FORKOJA).

Penulis: Ahyar
Editor: Hugeng Widodo

Baca Juga