IOI : Transfer Teknologi, Perlu Dibuat Roadmap

Ki-Ka : Laksdya TNI (Purn) Dr. D.A. Mamahit, M.Sc, Presiden IOI Made Dana Tangkas.

Jakarta, Akuratnews.com – Indonesia sebagai Negara besar sejatinya memiliki kemampuan dalam menciptakan teknologi terbarukan. Namun, tak dipungkiri kendala seperti permodalan atau lebih besarnya disebut investasi masih menghantui di tengah cita-cita mencapai industry yang teknologinya merupakan hasil dari karya anak bangsa.

Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI) Made Dana Tangkas, menjelaskan Indonesia sebagai Negara yang memiliki Sumber Daya Manusia yang mumpuni, diharapkan ke depan produk-produk komponen bisa diproduksi di tanah air. Walaupun, bahan baku dari komponen tersebut masih import.

“Apa yang bisa dilakukan ke depan adalah mestinya barang-barang (North American Free Trade Agreement/NAFTA) diolah di Indonesia, termasuk resin dan sebagainya. Kemudian termasuk baterai, kita memiliki nikel, mangan dan cobal (sebagai bahan baku). Mulai sekarang 5 hingga 10 tahun ke depan sudah bisa dipikirkan itu (memperoduksi-red),” terangnya kepada awak media, di Kementerian Perindustrian, Jakarta (2/7).

Lebih jauh dia menjelaskan, bagaimana pemerintah perlu melakukan skala prioritas dalam upaya industry 4.0, sehingga target dalam lima tahun, level apa yang bisa dicapai.

“Sepuluh tahun level apa. Ini kita coba belajar dari itu bagaimana Indonesia, di mana IOI sebagai lembaga Think Thank akan membuat berbagai kelompok kerja untuk mengusulkan ini termasuk dengan perguruan tinggi, sehingga kita focus. IOI tahu pasarnya, tahu industrinya sehingga dimasukkanlah dunia ini antara riset antar level 1-5, selanjutnya level 6-9. Level 1-5 menjadi prototype sehingga dari sini menjadi komersialisasi yang akan kita gerakkan,” paparnya.

Made, mengatakan saat ini Indonesia banyak punya periset yang ikut lomba, di mana mereka hanya membuat protype satu atau dua unit saja, bukan memproduksi.

“Ini permasalahannya di level 1-4 selesai, 5-9 belum. Komersialnya belum untuk level 5-9. Kelemahannya kita hebat di level 1-4, tapi level selanjutnya belum. Karena kita butuh investor dan investasi besar, butuh pengerahan SDM secara lebih luas, kompetensi lebih luas. Yang tak kalah penting untuk membuat mobil itu memerlukan ribuan komponen agrigater, assembler yang perlu bersinergi antar komponen tersebut,” jelasnya.

“Kemampua ini tidak bisa dibuat oleh periset saja. Tetapi harus ada kemampuan bisnis, teknis , kemampuan industri dan ini yang perlu dibuat lebih luas,” tambahnya.

Terkait dengan target, Made, mengungkapkan Indonesia memilik target dalam pengembangan transfer teknologi. Di mana pada tahun 2025, sekitar 20 persen kendaraan yang digunakan akan berbasis elektrikal.

“Artinya bagaimana dengan roda dua, roda empat, kereta api, kapal laut yang tentunya harus dikembangkan. Saat ini kita sedang menyusun roadmap tentang biofuel dan dilanjutkan dengan roadmap penggunaan baterai. Target kita untuk roda empat ada 20 persen berbasis electrical. Keinginann kita di tahun 2025 sudah jelas penggunaan biofuel untuk kendaraan-kendaraan, baik roda dua, mobil, alat berat dan sebagainya,” pungkasnya.

Penulis:

Baca Juga