Balas kematian Soleimani

Iran Serang Pasukan AS di Irak

Iran siap memulai program pengembangan nuklir kembali, ungkap Kepala Pengembangan Program Nuklir Iran pada Minggu (12/01) di Teheran. (MW)

Jakarta, Akuratnews.com - Setidaknya dua pangkalan militer di Irak, yaitu Irbil dan Al-Asad, yang menampung pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat dihantam lebih dari selusin rudal balistik Iran. Demikian menurut Kementerian Pertahanan AS.

"Kami mengetahui laporan serangan terhadap fasilitas AS di Irak. Presiden telah diberi pengarahan dan memantau situasi dengan cermat dan berkonsultasi dengan tim keamanan nasional," demikian ujar juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham.

Pentagon belum merilis laporan terkait korban atau kerusakan dalam serangan yang dilancarkan Iran.

"Kami sedang menilai kerusakan," kata juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman. "Sementara kami mengevaluasi situasi dan respons, kami akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan personel AS, mitra, dan sekutu di kawasan."

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan AS Mark Esper segera merapat ke Gedung Putih setelah mendapat kabar soal serangan tersebut.

Televisi pemerintah Iran mengatakan serangan itu merupakan balasan atas kematian Mayor Jenderal Qasem Soleimani, pemimpin Pasukan Quds, unit elite Pengawal Revolusi Iran (IRGC).

Soleimani dibunuh pada Jumat (3/1) lewat serangan udara pesawat tanpa awak AS saat sedang berada di Baghdad. Pemogokan tersebut berlangsung atas perintah Donald Trump.

"Kami memperingatkan semua sekutu AS, yang memberikan pangkalan mereka kepada pasukan teroris bahwa setiap wilayah yang merupakan titik awal tindakan agresif terhadap Iran akan menjadi sasaran," ujar IRGC lewat pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Iran, IRNA.

Iran meluncurkan serangan beberapa jam setelah penguburan Soleimani.

Stasiun TV Al Mayadeen melaporkan bahwa serangan kedua terjadi di Irbil tidak lama setelah rudal pertama menghantam Al-Asad.

AS memiliki sekitar 5.000 tentara di Irak.

Merespons serangan tersebut, Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan kepada BBC, "Kami akan segera menetapkan fakta di lapangan. Prioritas pertama kami adalah keamanan personel Inggris."

Penulis: Redaksi

Baca Juga