Irjen Ferdy Sambo dan Bharada E Dilaporkan ke Bareskrim

JAKARTA RAYA - Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo dilaporkan Tim Advokat Penegakan Hukum dan Keadilan (TAMPAK) ke Mabes Polri. Laporan itu terkait insiden baku tembak antara Brigadir J dan Bharada E di rumah dinas Ferdy Sambo.

“Pembunuhan ini sudah jelas, sudah ada kematian. Tapi persoalannya, sampai sekarang belum ditemukan siapa pelaku-pelakunya,” ujar Koordinator TAMPAK, Robert Keytimu di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (18/7).

Robert melanjutkan, pelaporan dilakukan karena kasus penembakan ini terjadi di rumah dinas Ferdy Sambo. Sehingga, peran Ferdy sangat penting sebagai saksi dalam kasus tersebut. Robert berharap Polri segera menindaklanjuti laporan TAMPAK. Supaya seluruh pihak mengetahui duduk perkara sebenarnya.

“Karena kejanggalan-kejanggalan dalam persoalan ini yang justru membingungkan, membuat persoalan jadi besar, dan memengaruhi opini publik sehingga tidak jelas,” ujanya.

Selain itu, TAMPAK melaporkan Bharada E yang diduga menembak Brigadir J. Sosok Bharada E pun dinilai masih samar-samar.

“Siapa ini Bharada E? Ada atau tidak barang (sosok) ini?” ujar anggota TAMPAK, Saor Siagian.

Saor menyebut Divisi Propam Polri seharusnya menjadi benteng terakhir untuk mencari keadilan.

“Bayangkan, di rumah pimpinan yang katanya benteng ini terjadi pembunuhan. Setelah tiga hari, baru diungkap,” ucapnya.

Sementara itu, keluarga Brigadir J melayangkan laporan polisi terkait dugaan pembunuhan berencana ke Bareskrim Mabes Polri, Senin (18/7).

Salah satu tim kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak mengatakan laporan sudah teregister dengan nomor: LP/B/0386/VII/2022/SPKT/BARESKRIM POLRI, tanggal 18 Juli 2022.

"Laporan kami sudah diterima. Kami melaporkan sebagaimana dijelaskan soal pembunuhan berencana," ujar Kamaruddin di Bareskrim Mabes Polri.

Adapun laporan itu merujuk Pasal 340 (KUHP), kemudian ada pasal pembunuhan, ada pasal penganiayaan juncto pasal 55 dan pasal 56. Kamaruddin lantas menunjukkan bukti laporan diterima dengan nomor STTL/251/VII/2022/BARESKRIM.

Namun, dia mengatakan untuk laporan terkait pencurian dan peretasan harus dilengkapi dengan bukti-bukti.

"Kemudian ada soal pencurian dan soal peretasan, tapi itu harus dilengkapi dulu," katanya.

Dia memastikan laporan yang diterima soal dugaan pembunuhan berencana, pembunuhan, dan penganiayaan. Kamaruddin mengatakan dugaan pencurian dan peretasan harus dilengkapi dengan foto dan ponsel yang diretas untuk diserahkan.

"Yang tercantum di sini adalah soal pembunuhan berencana, pembunuhan, dan penganiayaan," pungkasnya.

Sementara itu, Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, pihak kedokteran forensik masih merampungkan hasil autopsi insiden ini. Selain itu, laboratorium forensik tengah melakukan uji balistik dari proyektil, selongsong, dan senjata api di tempat kejadian perkara (TKP).

"Di tempat kejadian perkara, pihak INAFIS akan melakukan olah TKP untuk menemukan sidik jari DNA, mengukur jarak dan sudut tembakan, CCTV, handphone, dan lainnya," ungkap Dedi Prasetio, Senin (18/7).

Sejalan dengan penyelidikan forensik, lanjut Dedi, Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri juga melakukan pemeriksan ke sejumlah saksi-saksi dan memberikan asistensi ke tim penyidik dari Polres Jakarta Selatan.

Dengan keseluruhan proses pembuktian ilmiah ini, Dedi berharap fakta yang sebenarnya akan terungkap. Nantinya, Polri akan menyampaikan secara objektif dan transparan kepada masyarakat.

"Mohon bersabar dulu biar tim bekerja. Jadi nanti hasilnya akan sangat jelas dan komprehensif karena bukti yang bicara secara ilmiah dan ada kesesuaian dengan hasil pemeriksaan para saksi-saksi," ujarnya.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga