Isu Reshuffle Kabinet, Publik Mulai Bereaksi

Pada titik ini, tentu saja persoalan benar tidaknya reshuffle kabinet akan terjadi dalam waktu dekat hanya menjadi semacam obrolan-obrolan di warung kopi semata. Akan tetapi, dengan fakta isu ini telah dilontarkan oleh Koordinator Tim Sembilan Partai Golkar, Cyrillus Kerong, itu menimbulkan pertanyaan tersendiri terkait mengapa kegaduhan publik justru terjadi sekarang.

Jawabannya mungkin sederhana, yakni karena adanya cuitan dari Dede yang menyebutkan dirinya baru bertolak dari Istana Bogor. Dengan kata lain, cuitan tersebut dipahami publik sebagai semacam bocoran informasi yang tentu memberikan kesan adanya “kebenaran”.

Suka atau tidak, konteks tersebut menunjukkan terdapat semacam pembiaran, bahkan ada pula dugaan bahwa isu tersebut memang sengaja dilontarkan.

Secara teoritis, fenomena tersebut memang dapat kita pahami melalui teori komunikasi publik yang disebut dengan manajemen isu. Ini adalah proses strategis dan antisipatif yang membantu organisasi – dalam konteks ini adalah pemerintah – untuk mendeteksi dan merespons berbagai perubahan tren atau isu yang muncul di lingkungan sosial-politik.

Karena perubahan tren dan isu tersebut dapat mengkristal menjadi suatu masalah yang dapat memberikan dampak destruktif, maka organisasi terkait perlu untuk memberikan respon yang tepat untuk mencegah terjadi kristalisasi masalah. Salah satu caranya adalah dengan melemparkan isu lain agar isu yang tengah dipergunjingkan masyarakat tidak mengkristal – hal yang sering disebut sebagai pengalihan isu.

Merujuk pada teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya isu reshuffle, kemungkinan terdapat suatu isu yang tengah dicoba untuk dialihkan dari perhatian masyarakat. Pasalnya, berdasarkan informasi yang didapatkan PinterPolitik, sampai saat ini memang tidak terdapat perbincangan di Istana terkait reshuffle kabinet dalam waktu dekat.

Walaupun demikian, didapatkan informasi pula bahwa tiga menteri yang menjadi rising star, yakni Menteri BUMN Erick Thohir, Mendikbud Nadiem Makariem, dan Menteri Pariwisata Wishnutama tengah mendapat laporan negatif dari berbagai pihak. Terkhusus Wishnutama, kinerjanya benar-benar disorot seiring dengan lesunya pariwisata saat ini sebagai dampak fenomena virus corona.

Mencoba membaca rasionalisasi pemerintah, seperti halnya yang diungkapkan oleh Puan Maharani, itu mungkin adalah semacam peringatan terbuka atas kinerja berbagai menteri yang dinilai belum maksimal. Tidak hanya itu, itu juga mungkin ditujukan pula kepada para menteri yang kerap menimbulkan kegaduhan publik karena memberikan pernyataan kontroversial.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Redaksi

Baca Juga