Jadi Tersangka Usai Bela Klien Tak Cakap, Haposan Situmorang Surati Presiden dan Kapolri

AKURATNEWS - Dijadikan tersangka lantaran membela kliennya, Umroh binti Djana, pengacara Nora Haposan Situmorang SH MH berkirim surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Dalam suratnya kepada Kapolri, Haposan berharap ada perlindungan hukum dari tindakan diskriminatif, kriminalisasi atas pemohon yang dilakukan oknum anggota aparat penegak hukum.

"Saat ini saya tengah berjuang membela klien, Umroh binti Djana dan anaknya Gonis atas hak kepemilikan tanah seluas 6.270.M2 dengan bukti Hak Girik C 441, Persil 1. Blok S.1 sebagaimana terdaftar dalam buku C Desa/Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Dan saat ini saya justru mengalami tindakan diskriminatif," ujar Haposan di Jakarta, Kamis (9/12).

Haposan pun dilaporkan ke polisi oleh lawannya. Bahkan saat ini statusnya sudah menjadi tersangka. Karena itu, ia pun mengajukan pra peradilan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan terkait status tersangkanya. Sidang perdana sedianya akan digelar Senin (13/12) mendatang.

Ia menjadi kuasa hukum Umroh binti Djana karena melihat kondisi mentalnya yang tak cakap (cacat fisik dan tidak punya kemampuan untuk berpikir) sejak 2008 silam.

Kepemilikan bidang tanah atas nama Umroh binti Djana sendiri dikuatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, sebagaimana dalam perkara Nomor: 322/Pdt. G/2008/PN Jak Tim.

Menurutnya, tanah Umroh binti Djana seluas 6270 meter persegi itu juga diklaim banyak orang. Namun tanah seluas 5.017 meter persegi dari 6.270 meter persegi kepunyaan Umroh dibebaskan pemerintah guna keperluan proyek Banjir Kanal Timur (BKT). Dan, ganti rugi atas pembebasan tanah dimaksud dikonsinyasikan di PN Jaktim oleh Panitia Pengadaan Tanah (P2T) proyek BKT. Total ganti rugi sebesar Rp7.775.346.600.

"Herannya, meski ibu Umroh sebagai pemilik tanah dan diperkuat bukti kepemilikan sah serta diperkuat keputusan PN Jaktim, tapi hanya mendapat bagian sebesar Rp1 miliar. Selebihnya, justru dinikmati pihak yang juga mengklaim sebagai pemilik, padahal berdasarkan bukti-bukti, klaim itu non identik alias palsu," jelas Haposan.

Atas dasar itu, Haposan mengadukannya ke Polda Metro Jaya pada 28 Januari 2021. Namun kemudian ia dilaporkan balik pihak lawan pada 10 Maret 2021. Sampai akhirnya, dirinya ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan pengaduan palsu

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga