JAMAN: Insan Pers Harus Lepas Dari Pengaruh Politik Manapun

Jaringan Media Nasional (JAMAN)

Jakarta, Akuratnews.com - Ketua Umum Jaringan Media Nasional (JAMAN), Helmi Rhomdoni, mengatakan, peringatan Hari Pers Nasional yang diperingati setiap 9 Februari momentum mengingat kembali kelahiran dan keberadaan pers di tengah masyarakat.

Menurut Helmi, peringatan Hari Pers Nasional 2016 juga mengingatkan kembali betapa penting pers, karena pers adalah jembatan informasi antara masyarakat dengan pemerintah dan begitu pula sebaliknya.

"Hari Pers kali diharapkan bisa menjadi momentum keberadaan Pers ditengah masyarakat, karena Pers adalah jembatan informasi masyarakat" kata Helmi kepada Akuratnews.com di Jakarta, Rabu. (08/02/17).

Helmi berpesan agar seluruh insan pers berdiri tidak memihak, kecuali kepada kebenaran dan kepentingan umum. Itu sebabnya, pers nasional dipesan agar merdeka dari pengaruh politik manapun, atau tidak partisan. Ini sesuai dengan Pasal 6 UU Nomor 40/1999, tentang peranan pers.

"Insan Pers harus lepas dari pengaruh Partai Politik manapun, Pers harus mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial," ujar Helmi.

Helmi pun menyoroti isu penting terkait siaran pers yang dikeluarkan Dewan Pers tertanggal 4 Februari 2017 tentang Verifikasi 74 perusahaan pers, JAMAN telah menerima penegasan bahwa Dewan Pers tidak menyampaikan secara terbuka nama-nama perusahaan pers maupun menyerahkan sertifikat standar perusahaan pers yang telah diverifikasi Dewan Pers, pada acara Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon, 9 Februari 2017.

"Dewan Pers sudah menegaskan tidak akan menyampaikan perusahaan pers yang sudah terverifikasi secara terbuka," tegasnya.

Terkait dengan beredarnya berita yang tidak benar atau hoax dari media dan banyak disebar di akun media sosial, Helmi mengharapkan, Pemerintah harusnya bisa melakukan filterisasi bisa lewat Menkominfo atau lembaga pengawas media yang di akui Dewan Pers.

Dengan begitu publik tau mana berita atau karya jurnalistik yang benar dan sesuai data dan fakta bukan dari hasil menyadur kemudian menambahkan sehingga menimbulkan opini publik yang meresahkan masyarakat. (Ahyar)

Penulis:

Baca Juga