Jangan Sakiti Rakyat, Saatnya Lindungi Rakyat

Akuratnews.com - Teringat hadis Rasulullah saw, bahwa Allah sangat membenci pemimpin yang mengejar jabatan, jika pemimpin hanya mengejar dunia dengan menyakiti hati rakyat, niscaya Allah akan memberi balasan yang akan disesalinya,

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ

Abu said (abdurrahman) bin samurah r.a. Berkata: rasulullah saw telah bersabda kepada saya : ya abdurrahman bin samurah, jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh allah untuk melaksanakannya, tetapi jika dapat jabatan itu karena permintaanmu, maka akan diserahkan ke atas bahumu atau kebijaksanaanmu sendiri. Dan apabila kau telah bersumpah untuk sesuatu kemudian ternyata jika kau lakukan lainnya akan lebih baik, maka tebuslah sumpah itu dan kerjakan apa yang lebih baik itu. (bukhari, muslim).

Disaat urgensitas kebijakan tepat diperlukan rakyat hari ini dalam menghadapi wabah Corona, rakyat termasuk di dalamnya para pakar politik, hukum, sosial dan tata negara selalu berupaya ikut membantu pemimpin negeri dengan memberi masukan terkait kebijakan yang harus segera dikeluarkan secepat mungkin.

Kebijakan terbaru yang ditunggu-tunggu rakyat terkait cara mengatasi dan pengurangan aktifitas penularan virus covid-19 akhirnya keluar juga. Perkiraan kebijakan yang diambil dari masukan demi masukan para ahli dan anak bangsa tersebut akan digunakan sebagai referensi penguasa sejalan dengan keluarnya kebijakan ini.

Alih-alih kebijakan baru mampu mengurangi beban rakyat, faktanya bukan sukacita yang didapat atas pengumuman tersebut, justru rakyat harus kembali mengelus dada. Di luar dugaan siapapun, pemerintah malah mengeluarkan kebijakan penetapan darurat sipil. Oleh Presiden Joko widodo dibacakan dalam pidatonya beberapa hari lalu. Ia menilai pembatasan kebijakan sosial sudah perlu diterapkan dalam skala besar. Physical distancing atau jaga jarak fisik harus diterapkan secara tegas, disiplin, dan efektif. Semua itu untuk mencegah penyebaran COVID-19 (detiknews.com, 31/3/2020).

Benarkah penetapan "Darurat Sipil" yang dibutuhkan rakyat saat ini? Jika kita melihat kondisi kritis yang ada, sangat tidak tepat pemberlakuan penanganan darurat sipil yang merujuk pada perpu 1959, akan tetapi penerapan karantinalah yang dibutuhkan rakyat dalam menghadapi wabah ini, hal tersebut tertuang dalam UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Bahkan ahli hukum dari UGM Yogyakarta, Oce Madril, tidak habis pikir atas rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerapkan darurat sipil sebagai langkah terakhir mengatasi penyebaran Corona. Padahal, Jokowi menandatangani UU Kekarantinaan Kesehatan sebagai payung hukum menanggulangi wabah penyakit (detiknews.com, 31/3/2020).

Karena ketidakjelasan dari arah dan tujuan kebijakan pemerintah, rakyat banyak yang merespon dengan kritis. Apakah kebijakan Darurat Sipil ini memiliki dampak signifikan bagi pengobatan pasien, pencegahan paparan virus yang meluas, menekan korban meninggal akibat covid-19, penyediaan alat kesehatan, fasilitas Rumah Sakit dan obat-obatan yang semestinya disediakan oleh negara?

Sehingga harus jelas apa sebenarnya yang diinginkan penguasa hari ini. Padahal perlindungan kepada rakyat dari pemimpinnnya merupakan cerminan penguasa arif, amanah, dan sayang pada rakyatnya. Ketika penerapan karantina diberlakukan, negara akan mempersiapkan segala kebutuhan rakyat saat masa karantina berlangsung. Karena khalifah di masa daulah Islam
penah melakukan hal tersebut dan berjalan dengan baik hingga wabah tho'un hilang dari wilayah yang dikarantina saat itu.

Adapun kebijakan terbaik saat ini dengan melakukan lockdown di area garis merah yang terpapar. Apa pun konsekuensi yang dihadapi oleh pemerintah nanti bukanlah menjadi soal. Karena melindungi kesehatan dan keselamatan rakyat lebih penting di atas segalanya. Kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab seorang pemimpin.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (bukhari, muslim).

Maka peran negara saat ini sangat dibutuhkan rakyat dalam mempersiapkan karantina (lockdown) yang rawan penyebaran virusnya. Justru penerapan darurat sipil bukan solusi tepat saat ini. Sejatinya pemimpin amanah akan selalu mengikuti syariat yang Allah tetapkan, maka jalan keselamatan suatu negara akan tercapai kapanpun, dimanapun. Wallahu a'lam bishawab.

Baca Juga