Jargon Kesetaraan Gender Tak Seindah Kenyataan

Ilustrasi Kesetaraan Gender
Ilustrasi Kesetaraan Gender

Akuratnews.com - Tanggal 8 Maret biasa diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (International Woman’s Day). Meski sudah berlalu, namun jargon-jargon dan ceremony peringatan kesetaraan gender masih terus didengungkan.

Posisi perempuan yang masih dianggap lebih lemah, terbatas, dan rendah dibanding pria, membuat propaganda tersebut kian membahana. Seolah semua perempuan menuntut hal yang sama, yakni mendapat hak penuh dan perlakukan yang sama dengan pria dalam segala bidang. Seperti ekonomi, sosial, pendidikan dan politik. Semua ingin posisi yang sama, tanpa ada diskriminasi.

Apakah semua tuntutan tersebut akan dapat melindungi kaum perempuan? Faktanya, seperti dilansir dari Kompas.com bahwa Komisi Nasional ( Komnas) Perempuan mencatat kenaikan sebesar 300 persen dalam kasus kekerasan terhadap perempuan lewat dunia siber yang dilaporkan melalui Komnas Perempuan.

Kasus tersebut sebagai pola baru di tahun ini yang ternyata persoalannya adalah belum memiliki perlindungan hukum dan keamanan dalam internet terutama untuk perempuan.

Kenaikan yang cukup signifikan dari semula 97 kasus pada 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019. Hal itu dikarenakan perempuan banyak menjadi korban intimidasi berupa penyebaran foto atau video porno.

Hal di atas menunjukkan bahwa jargon-jargon kesetaraan gender yang diserukan ternyata tak seindah kenyataan. Karena faktanya bahwa kaum perempuan justru direndahkan dan diremehkan. Harapan perempuan akan ditinggikan, dimuliakan, dihormati dengan cara menuntut kesetaraan, nyatanya hanyalah sebuah ilusi. Hal tersebut diakibatkan oleh tatanan/sistem aturan di masyarakat yang tak mendukung.

Di era Kapitalis saat ini, dimana hanya berorientasi pada keuntungan materi duniawi. Kian menggema kampanye kesetaraan gender atau emansipasi. Namun, kaum perempuan justru dikapitalisasi, dieksploitasi menjadi komoditi ekonomi, dan dijadikan sebagai objek pemuas oleh para kaum pemuja birahi.

Perempuan dijauhkan dari keluarga agar fokus pada kerja dan kerja. Akidah perempuan pun tergilas, perannya membias, dan kehormatannya terlibas. Akhirnya peran utama perempuan sebagai pendidik generasi pun hancur dan kandas! Lalu apa yang didapat jika kaum perempuan telah hancur? Pasti hanyalah generasi yang lemah dan jauh dari pemahaman agama.

Sungguh berbeda dengan Islam yang memandang perempuan sangat mulia, berharga, dan memiliki peran luar biasa. Kehormatannya dipelihara dan akidahnya dijaga. Karena Islam diturunkan dengan seperangkat aturan yang sempurna dari sang pencipta yakni Allah Subhanahu wa ta’ala.

Aturan Islam dibuat untuk melindungi dan mengayomi. Bukan untuk menyakiti, bukan pula mengekang. Namun, untuk menempatkan perempuan sesuai porsinya di tempat yang mulia.

Dalam islam, perempuan dan pria memiliki kewajiban yang sama seperti shalat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf nahyi munkar dan sebagainya. Perempuan juga punya hak yang sama dalam mendapat pahala dan surga-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Islam juga tidak melarang perempuan untuk bekerja, sekolah maupun melakukan interaksi sosial dan politik. Namun semua itu sesuai kapasitas tanpa mengorbankan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu dalam keluarganya.

Bahkan, perempuan memiliki peran yang sangat penting dan kedudukan yang lebih utama daripada pria, yakni sebagai ummu wa rabbatul bait ( ibu dan pengatur rumah tangga ). Sehingga kaum ibu lebih ditinggikan tiga derajat di atas kaum pria. Karena tugas mulia seorang perempuan dalam melahirkan dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi shalih penerus peradaban mulia. Juga dikatakan bahwa surga berada ditelapak kakinya, sebab begitu istimewa dan mulianya seorang perempuan.

Sungguh, tiada sistem di dunia ini yang memuliakan perempuan seperti di dalam Islam. Maka, kaum perempuan harus dipahamkan bahwa hanya dengan melaksanakan dan mentaati aturan Allah maka kemuliaan perempuan yang hakiki akan terwujud.

Jelas, sangatlah tidak layak jika perempuan masih menuntut persamaan hak sementara dia sudah mendapat hak nya sesuai kapasitas dan kewajibannya.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 32)

Baca Juga