Opini

Jejak Khilafah Di Nusantara, Bukti Sejarah Yang Tak Terelakan

Akuratnews.com - Terlepas dari pro dan kontra, film dokumenter JKDN semakin menyedot perhatian masyarakat, baik dari kalangan sejarawan, para ulama hingga ke lapisan masyarakat biasa. Adapun, film ini sebenarnya dibuat ubtuk menjawab tantangan jaman, ketika saat ini "Khliafah" mulai banyak diperbincangkan. Sebagaimana judulnya, film ini mengungkap Jejak Khilafah di Nusantara darii sisi sejarah.

Isu yang sedang hangat diperbincangkan ini, digoreng sedemikian rupa untuk memframing opini publik. Melihat, pihak yang kontra lebih ditonjolkan di media. Seperti sebuah artikel yabg dimuat dilaman detikNews.com (25,08,20) yang berjudul " Lubang Sejarah Film Jejak Khilafah".

Artikel ini sepertinya hendak menggiring opini publik, bahwa di film dokumenter JKDN memaksakan sebuah narasi yaitu Nusantara adalah bagian dari khilafah dunia. Walaupun, sang penulis membenarkan bahwa ketika masa Kesultanan Aceh dibawah Sultan Alaudin Riayat Syah Al Kahar, Sultan Alaudin ditahun 1566 meminta bantuan kepada Sultan Suleiman The Magnificent karena kondisi berperang dengan portugis Malaka. Seperti tertulis dalam Bustanus Salatin karya Nuruddin Ar Raniry.

Berita negatif tentang JKDN sejatinya menunjukkan kekalahan intelektual dan bukti kepanikan pihak-pihak tertentu yang mana mereka aruskan dengan tujuan menciptakan stigma di tengah-tengah masyarakat terhadap film JKDN dan khilafah.

Sebelumnya, memang sudah tampak upaya keras pihak rezim untuk mengerdilkan gagasan khilafah yang arusnya kian tak terbendung di tengah umat. Upaya monsterisasi, persekusi, alienasi, bahkan kriminalisasi para pengusungnya masif dilakukan.

Istilah radikalisme, moderasi Islam, dan narasi Pancasila pun digunakan sebagai senjata untuk menyerang gagasan khilafah. Targetnya, membangun narasi bahwa khilafah adalah ide berbahaya dan tak layak ditarik dalam konteks kekinian. Mereka beranggapan khilafah hanya sekedar romatisme sejarah yang tidak perlu digaungkan lagi. Apalagi sampai harus diperjuangkan agar tegak kembali.

Padahal, materi tentang khilafah masih terus diajarkan di madrasah dan pesantren, serta materinya masih eksis tertulis di buku-buku sekolah. Tak hanya mengungkap sisi sejarah kegemilangannya saja, bahkan mengungkap posisinya sebagai bagian dari ajaran Islam. Hingga akhirnya rezimpun memidahkan materi khilafah yang semula di pelajaran fiqih islam ke pelajaran sejarah kebudaaan Islam.

Amat terlihat kepanikan rezim dalam membendung opini khilafah di masyarakat. Namun, tentu saja tidak mudah menghilangkan begitu saja tinta emas yang mengukir peradaban Islam yang begitu mengagumkan. Peradaban ini berdiri kokoh bukan dalam waktu yang sebentar, melainkan mampu bertahan hingga hampir 13 abad lamanya. Jejak peradabannya tersebar hampir diseluruh dunia.

Salah satu bukti peninggalan Kesultanan Sumatera Pasai yang sampai saat ini tetap dijaga adalah makam beberapa Bani Abbas yang terkubur di Lhokseumawa, Aceh Utara. Satu pusara marmer yang besar dan indah telah ada di Gampong Kuta Kureng di Lhokseunawe. Di epital makamnya, informasi sang pemilik makam telah terpahat dalam kaligrafi yang rumit namun indah :

"Inilah kubur Sang Pemuka Para Pembesar, Abdullah bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Yusuf bin Abduk Aziz bin Al Manshur Abi Ja'far al Mustanshir Billah Amir al Mu'minin Khalifah al-Abbasi. Semoga Allah menyiramkan rahmat ke tas pusaranya. Wafat pada malam Jum'at 23 dari bulan Rajab tahun 816 Hijriah(1414M)"
(Sumber, Guidebook: Tinggalan Sejarah Samudera Pasai, Lhokseumawe, Center for Information of Sumatra Pasai Heritage,2014,h. 15-25)

Keberadaan makam ketururunan Khalifah Abbasyiahbdi Pasai ini merupakan bukti jelas bahwa Kesultanan Pasai menjalin hubungan erat dengan Khilafah Abbasyiah yang saat itu sudah berpusat di Kairo, Mesir.

Apalagi setelah banyak arsip Kekhilafahan Turki Usmani yang dipublish ke umum, fakta-fakta ini semakin menguak Jejak Khilafah di Nusantara. Daintaranya adalah pada 2017 penerbit Hitay dari Istanbul mempublikasi sebuah buku yang berisi kumpulan arsip yang dimaksud. Alhasil, menjadi semakin tergambar relasi Turki dengan Indonesia dan seberapa besar pengaruh Kekhilafahan ini di Nusantara.

Arsip yang lainnya adalah BOA, HR.TO.390/87 menyebutkan soal petisi yang berisi permohonan bantuan orang-orang di Nusantara kepada Khalifah untuk menghadapi penjajahan.

Khilafah memang bukan rukun iman. Juga bukan rukun Islam. Namun para ulama menyebutkan bahwa khilafah adalah mahkota kewajiban.

Dan baginda Rasulullah Saw sendiri menyifatinya sebagai simpul utama tempat terikatnya ajaran-ajaran Islam.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ

تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah kekuasaan dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR Ahmad)

Tanpa khilafah, syariat Islam kaffah nyatanya memang tak bisa dijalankan. Padahal tak ada pilihan bagi seorang muslim selain melaksanakan Islam secara keseluruhan. Karena jika tidak, berarti dia telah mengikuti jalan setan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 208)

Sungguh, tidak ada lagi jalan bagi umat Islam untuk kembali menjadi Khairu Ummah adalah dengan berjuang kembali menegakkan Khilafah. Hanya Khilafah yang akan menjaga agama, kehormatan, harta,dan nyawa seluruh umat muslim.

Wallohua'lam

Penulis: Lilis Suryani

Baca Juga