Jenderal Ini Lolos Dari G30S/PKI Tapi Masuk Penjara Orde Baru

Jakarta, Akuratnews.com - Kamis (1/10) tepat peringatan Hari Kesaktian Pancasila ke-55. Peringatan ini sekaligus membuka kembali memori 55 tahun lalu saat pemberontakan G30S/PKI menyebabkan tujuh jenderal TNI AD terbunuh.

Ada sebuah fakta yang masih jarang diketahui publik terkait jumlah jenderal yang seharusnya jadi target Partai Komunis Indonesia (PKI) pada dini hari 1 Oktober 1965 itu.

PKI sebenarnya merencanakan menculik delapan jenderal. Selain tujuh jenderal yang terbunuh, sebenarnya masih ada nama yakni Brigjen Ahmad Soekendro.

Ia dan Jenderal AH Nasution menjadi perwira tinggi TNI AD yang lolos dari target PKI di malam itu.

Jenderal AH Nasution berhasil lolos dan selamat, namun putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean, menjadi korban PKI malam itu.

Dalam pertemuan terakhir operasi penculikan Dewan Jenderal di rumah Sjam Kamaruzzaman di Salemba Tengah, pada Hari-H, 30 September 1965 ditetapkann nama delapan jenderal yang akan dijemput.

Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayjen Soewondo Parman, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono, Brigjen Donald Izacus Pandjaitan, Brigjen Soetojo Siswomihardjo, dan Brigjen Ahmad Soekendro.

Siapa sebenarnya Brigjen Ahmad Soekendro dan mengapa ia selamat dari penculikan?

Achmad Soekendro dilahirkan di Banyumas tahun 1923. Seperti banyak anak muda seusianya, di zaman Jepang, ia memilih mendaftar menjadi anggota PETA.

Saat revolusi, Soekendro bergabung dengan Divisi Siliwangi. AH Nasution yang ‘menemukannya’ segera tahu dia bukan perwira biasa. Cara berpikir dan kemampuan analisanya di atas rata-rata perwira lainnya.

Karena itu saat Nasution menjadi KSAD, ia menarik Soekendro sebagai Asintel I KSAD. Dan memang tak mengecewakan.

Pada 1957, saat perwira-perwira daerah resah dengan kebijakan Jakarta dan berniat menuntut opsi otonomi, Soekendro, atas perintah Nasution menggelar operasi intelijen.

Orang-orangnya masuk ke daerah dan menginfiltrasi pola pikir para perwira di daerah. Hasilnya, saat suasana memuncak, praktis hanya komandan di Sumatra (PRRI) dan Sulut (Permesta) yang menyatakan diri berpisah dari Indonesia.

Tak hanya dalam lingkup nasional saja kiprah Soekendro. Seiring dengan tugas belajar yang diperolehnya di Amerika Serikat (AS), ia juga sukses menjalin kontak dengan CIA. Beberapa program kerjasama TNI dan CIA, mampir lewat tangannya.

Sampai-sampai ada anggapan pada masa itu, sosok Soekendro-lah jejaring utama yang menghubung Nasution dan juga Achmad Yani dengan CIA.

Bahkan dalam salah satu versi skenario Gestok, karena kecerdasan dan lobi baiknya dengan CIA, Sukendro disebut-sebut sebagai salah satu orang yang layak dicurigai sebagai dalang, seperti disebut dalam buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto karangan FX. Baskara Tulus Wardaya

Lalu kenapa Soekendro jadi target PKI?

Soekendro dipandang PKI termasuk sosok penting di tubuh militer. Namanya masuk dalam grup jenderal elite yang dekat dengan Nasution maupun Yani.

Belakangan grup ini dikenal sebagai Dewan Jenderal. Anggotanya 25 orang, namun empat motornya adalah Mayjen S Parman, Mayjen MT Haryono, Brigjen Sutoyo Siswomihardjo, dan Brigjen Soekendro sendiri.

Grup ini aktif melakukan counter politik untuk menandingi dominasi PKI. Nah, vokalnya Sokendro ini tentu saja membuat PKI geram. Bagi PKI, perwira intelektual yang satu ini adalah bahaya laten.

Dan di malam kudeta itu, Presiden Soekarno meminta Soekendro menjadi anggota delegasi Indonesia untuk peringatan Hari Kelahiran Republik Cina, 1 Oktober 1965. Selamatlah dia dari korban penculikan.

Namun kehidupan Soekendro setelah pemberontakan G30S/PKI tak pernah tenang. Selepas peristiwa itu, peran Soekendro mulai tersisih oleh kiprah Ali Moertopo.

Ia tidak bisa membendung jaring-jaring intelijen Ali yang kemudian mempercepat keruntuhan Soekarno.

Namun, setidaknya, Soekendro masih mencoba berusaha. Apa yang disebut mantan Dubes Kuba dan juga teman dekat Soekarno, AM Hanafi, dalam biografinya memperlihatkan hal itu.

Pada 11 Maret 1966, ketika Presiden diikuti para Waperdam tergopoh-gopoh menuju Bogor karena takut dengan Pasukan Kemal Idris, Soekendro menyarankan AM Hanafi untuk mengejar presiden dan menempelnya dimana pun juga Soekarno berada.

“Jangan tinggalkan Bapak sendirian,” kata Soekendro.

Sepertinya insting intelijen Suekndro masih cukup tajam untuk membaca arah zaman. Sayangnya, AM Hanafi hanya bisa menyesal karena tak kebagian helikopter pada hari itu.

Petang itu juga juga utusan Soeharto berhasil mendapatkan surat penyerahan kekuasaan atau yang dikenal dengan nama Supersemar.

Ketika Soeharto naik ke puncak kekuasaan, bintang Soekendro praktis redup. Namun meski tenggelam ia tak lantas terdiam.

Dalam sebuah kursus perwira di Bandung, ia secara mengejutkan mengakui keberadaan Dewan Jenderal.

Akibatnya, Soeharto yang notabene juga rekan dekatnya, lewat tangan Pangkopkamtib Jenderal Sumitro menggiringnya untuk ikut merasakan dinginnya sel RTM Nirbaya Cimahi selama 9 bulan. Tentunya tanpa pengadilan.

Lepas dari tahanan, Sokendro ditampung Gubernur Jateng, Supardjo Rustam. Ia diberi kepercayaan mengelola perusahaan daerah Jateng.

Meski demikian, radar Soemitro tak serta merta mendepaknya. Setiap kali terdengar ada gerakan antipemerintah, Sukendro adalah orang pertama yang didatangi Soemitro. Itulah sebabnya kehidupan Brigjen Ahmad Soekendro tak pernah tenang setelah lolos dari maut di malam tragis itu.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga