Jenuh Beli, Bobot Bursa Efek Indonesia Dipangkas

Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) naik oleh sentimen positif global dari kesepakatan AS dengan Meksiko. (Lukman Hqeem)
Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) naik oleh sentimen positif global dari kesepakatan AS dengan Meksiko. (Lukman Hqeem)

Jakarta, Akuratnews.com - Credit Suisse, selaku perusahaan sekuritas global menurunkan rekomendasi terhadap pasar saham Indonesia menjadi 10% underweight (mengurangi bobot) dari sebelumnya 20% overweight (menambah bobot) karena penguatan signifikan pasar saham domestik sejak Mei 2018.

Penurunan rekomendasi tersebut menjadi faktor yang dianggap pelaku pasar sebagai penyebab penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sejak pagi hari ini, Selasa (12/02), hingga penutupan siang. Pada sesi I, IHSG minus hingga 1,05% di level 6.426,67. Sepanjang tahun ini, IHSG sendiri sudah naik 3,75%.

Dalam risetnya kemarin (11/02), Analis Credit Suisse Alexander Redman dan Arun Sai menilai terjadi penguatan indeks MSCI Indonesia US Dollar sebesar 34% di atas indeks MSCI Emerging Market (EM) sejak pertengahan Mei 2018.

"Saat ini kami melihat ada kesempatan untuk menurunkan eksposur ke aset di Indonesia sebelum pasar memasuki fase underperformance karena enam alasan," ujar Redman dalam risetnya.

Terdapat sejumlah alasan yang mendasari Credit Suisse untuk menurunkan rekomendasi atas pasar saham Indonesia di antaranya adalah penguatan rupiah sudah cukup signifikan sehingga sudah jenuh beli (overbought).

Saham Indonesia sedang ditransaksikan pada valuasi premium yang sudah tidak menarik (sudah mahal). Pasar saham Indonesia sudah jenuh beli (overbought) dan jenuh dimiliki (over-owned) dibanding posisinya secara historis.

Secara siklus, pada 2019 Credit Suisse berkomitmen untuk melirik Asia Utara, yang secara inkonsisten dengan rekomendasi overweight pada pasar saham Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tergantung dari revisi penurunan target yang besar.Mengetatnya likuiditas akan membatasi pertumbuhan aset perbankan sedangkan profitabilitas sektor perbankan diprediksi akan stagnan dan valuasinya masih mahal.

Jurnalis: Luqman Haqeem
Publisher: Ahmad

Penulis:

Baca Juga