Jokowi Makin Dipersepsikan Sebagai Pemimpin yang Anti Populis

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Hal ini terlihat dari munculnya akumulasi penghakiman publik terhadap Presiden. Gelombang penolakan demi penolakan terhadap berbagai UU kontroversial kemudian menjadi puncak kekecewaan publik terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Fenomena second term curse sebenarnya sudah lama dikenal di dunia politik Amerika Serikat (AS). Berdasarkan penelitian Alfred Zacher dalam bukunya yang berjudul Presidential Power in Troubled Second Terms, disebutkan hanya sekitar sepertiga presiden-presiden AS yang memenangkan pemilihan ulang, sukses menorehkan kepemimpinan di periode kedua.

Meski jamak terjadi, namun Zacher menyebut tak ada faktor pasti yang melatarbelakangi fenomena ini. Penyebab seorang presiden mengalami gejala kutukan periode kedua sangat beragam dan melibatkan banyak faktor.

Ari Saphiro – mengutip pernyataan Donna Hoffman dari University of Northern Iowa – dalam tulisannya yang berjudul Is There Really a Second-Term Curse? mengatakan salah satu penyebab terjadinya kutukan periode kedua adalah karena lunturnya pengaruh presiden terhadap parlemen. Memudarnya pengaruh presiden tersebut bahkan terjadi di dalam partai pendukung pemerintah sendiri.

Presiden yang mulai kehilangan pengaruhnya itu lantas dijuluki sebagai the lame duck atau bebek lumpuh.

Istilah lame duck awalnya mengacu pada pengusaha yang tengah menuju kebangkrutan. A Dictionary of Phrase and Fable karya Ebenezer Cobham Brewer mendeskripsikan lame duck sebagai pekerja saham atau dealer yang tidak akan, atau tidak bisa membayar kerugiannya dan harus 'berjalan keluar dari gang seperti bebek yang lumpuh.’ Pada tahun 1800-an, frasa tersebut dikonotasikan secara politik untuk menggambarkan politisi yang mulai kehilangan pengaruh politiknya.

Tak ada periode pasti kapan seorang presiden mulai menjadi politikus lame-duck. David A. Graham dalam tulisannya di The Atlantic mengatakan biasanya seorang presiden mengalami gejala lame duck satu bulan sebelum masa jabatannya berakhir.

Akan tetapi, dia melihat saat ini mulai banyak presiden yang mengalami gejala serupa jauh sebelum masa jabatannya berakhir. Selain itu, fenomena tersebut kini tak hanya menimpa presiden yang menjabat di periode kedua. Pemimpin yang baru menjabat satu periode juga bisa terserang gejala lame duck.

Graham mencontohkan salah satu politikus yang menderita gejala lame duck terlalu dini adalah Presiden AS Donald Trump. Gejala tersebut, menurutnya, sudah terjadi bahkan sejak tujuh bulan sebelum masa jabatannya berakhir.

Sejumlah alasan yang membuat Graham menilai Trump telah menjadi politikus lame duck adalah karena banyaknya agenda legislasi Presiden yang mandek di parlemen, relasi dengan para pemimpin dunia yang dinilai berantakan, hingga tingkat kepuasan publik (approval rating) yang tak terlalu tinggi.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Fajar

Baca Juga