JPU Suparlan Dakwa Residivis Pengedar Narkoba Dengan Pasal Pengguna

Alan bin Toni Denisend (bawah)

AKURATNEWS - Baru saja menghirup udara bebas, Alan bin Toni Denisend kembali berurusan dengan hukum, atas kasus penyalahgunaan narkoba.

Residivis yang divonis 10 tahun penjara pada 2016 silam, kembali ditangkap, lantaran kedapatan memiliki narkotika jenis ekstasi, merk GTR warna merah maron. Padahal, baru oktober 2020 ia keluar dari penjara.

Berdasarkan data di website SIPP Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, ekstasi yang diperoleh dari tersangka mencapai 30 butir. Namun, dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Suparlan, hanya disebutkan 17 butir saja.

Saat dikonfirmasi wartawan, Suparlan beralasan, 13 butir lainnya telah dipakai oleh terdakwa, sebelum ia (Alan) dibekuk anggota Sat Res Narkoba Polrestabes Surabaya.

“Itu kan sudah dipakai sebelumnya. Jadi, yang ada itu hanya 17 butir saja,” kata Suparlan, usai sidang di PN Surabaya, Selasa (27/4).

Dengan barang bukti yang sudah menyusut itupun, maka Suparlan menuntut tersangka dengan pasal 112, tentang memiliki dan menguasai narkotika.

Dalam sidang yang digelar secara daring itu, terdakwa mengakui kalau barang haram itu dibelinya hanya untuk konsumsi pribadi. Tidak untuk dijual kembali. “Untuk saya pakai sendiri Yang Mulia,” kata Alan menjawab pertanyaan majelis hakim.

Selain kasus ekstasi, pada 8 Agustus 2020 silam, terdakwa juga sempat menyuruh M Hendrik Yahya alias Konteng (berkas terpisah), untuk mengambil ranjauan sabu. Beratnya 100 gram. Terdakwa menyuruh Hendrik melalui pesan singkat Whats app.

Ranjauan itu ada di Sukodono Sidoarjo. Narkotika itu lalu dibagi menjadi lima bungkus. Dua plastik masing-masing 40 dan 10 gram. Keduanya lalu dikirimkan lagi dengan cara diranjau di Pasar Lawang . Kegiatan itu dilakukan pada 9 Agustus 2020 pukul 19.00 WIB.

Dihari yang sama, 20 gram sabu dikirimkan kepada Koder dan 10 gram lainnya dikirim ke Pasar Nguling Pasuruan. Keesokan harinya, satu bungkus sabu seberat 20 gram dikirimkan melalui jasa ekspedisi JNE.

Dari perbuatan tersebut, terdakwa memberi upah Hendrik sebesar Rp 2 juta sekali pengiriman. Bayaran itu diberikan dengan cara transfer melalui rekening BCA.

Alan hanya beberapa hari menikmati kebebasannya dari penjara. Ia ditangkap pada 14 November 2020 lalu, pukul 19.00 WIB di rumahnya di Dusun Orokuwali, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Dalam pemeriksaan tersebut, tim mendapatkan satu Handphone Xiomi yang digunakan untuk memesan Narkotika tersebut. 17 butir ekstasi dengan berat sekitar 5,10 gram. Pil ekstasi tadi terdakwa pesan dari Tri alias Sinyo (DPO).

Satu butir ekstasi tersebut dihargai Rp 150 ribu. Pembayaran dilakukan terdakwa melalui transfer. Selanjutnya, terdakwa mengambil barang tersebut dengan cara ranjauan. Setelah mendapatkan barang tersebut, Alan lalu membagi dua.

Masing-masing berisikan 17 butir yang disimpan untuk persediaan. Dan 13 butir lainnya digunakan di Hotel Metton Ngagel Surabaya. Bahkan, seminggu sebelum terdakwa ditanggap, ia juga sempat memesan 10 butir ekstasi.

Alan terancam hukuman enam tahun penjara. Denda Rp 800 juta, subsider tiga bulan penjara.

Penulis:

Baca Juga