Jurus Prabowo-Sandi Tekan Utang: Pangkas Proyek Infrastruktur

Jakarta, Akuratnews.com - Calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memberi perhatian serius pada utang pemerintah. Pasangan ini berjanji akan memangkas utang jika terpilih dalam pemilihan presiden (Pilpres) April mendatang.

Ada sejumlah cara memangkas utang tersebut. Salah satunya memangkas belanja yang tidak efisien, termasuk di proyek infrastruktur.

Di sisi lain, Prabowo-Sandi juga akan mengejar penerimaan negara dengan cara meningkatkan tax ratio hingga 16%.

Berikut jurus Prabowo-Sandi memangkas utang seperti dirangkum Akuratnews.com

  1. Kubu Prabowo-Sandi Kritik Utang, Cicilan Lebih Besar dari Anggaran Infrastruktur.

Tim sukses Prabowo-Sandi memberi tanggapan terkait utang pemerintah. Utang pemerintah saat ini menembus Rp.4.418,3 triliun.

Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dradjad Wibowo menerangkan, secara teori utang pemerintah masih aman. Namun, dia mengatakan, kondisi yang mengkhawatirkan ialah porsi untuk membayar utang yang memakan porsi besar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dia mencontohkan, di tahun 2017 porsi pembayaran utang pemerintah Rp 500 triliun. Angka itu lebih tinggi dibanding alokasi untuk infrastruktur Rp 400 triliun.

"Utang itu kalau dari sisi debt ratio itu kita memang masih kecil, secara teori ekonomi masih relatif aman. Cuma persoalannya adalah debt service, pembayaran utang memakan porsi APBN yang besar. Tahun 2017 saja membayaran utang kita itu di atas Rp.500 triliun, anggaran untuk infrastruktur Rp 400 triliun," kata Dradjad di Media Center Prabowo-Sandi Jakarta, Rabu (23/1/2019).

"Artinya apa, untuk bayar utang Rp 100 triliun lebih besar dari infrastruktur, padahal infrastruktur yang dibangga-banggakan kan tapi kalah dengan pembayaran utang," sambungnya.

Dia mengatakan, pangkal masalah tersebut ialah tax ratio yang masih kecil. Maka, jika Prabowo-Sandi menang dalam pemilihan umum April mendatang akan meningkatkan tax ratio sampai 16%.

"Jadi yang membuat utang ini menjadi masalah karena memakan porsi yang terlalu besar di APBN, kenapa demikian karena tax ratio masih kecil," ujarnya.

Drajad mengatakan, Prabowo-Sandi berjanji akan memangkas utang pemerintah tersebut. Soal targetnya, dia belum bisa menerangkan secara rinci.

"Target pengurangan utang kita belum matengkan, tapi yang jelas komitmennya adalah untuk mengurangi utang. Tentu harus kita itung sesuai proyeksi pertumbuhan dunia, karena proyeksi pertumbuhan dunia karena lembaga-lembaga dunia mengatakan proyek pertumbuhan ekonomi dunia turun 2019. Sehingga base-nya lebih rendah. Nanti akan kita itung ulang," ujarnya.

  1. Prabowo-Sandi Pangkas Proyek Infrastruktur

Dradjad Wibowo mengatakan, ada sejumlah strategi yang ditempuh Prabowo-Sandi untuk memangkas utang jika terpilih nanti. Sebutnya, mengurangi penerbitan obligasi dan penarikan utang bilateral. Secara bersamaan, akan meningkatkan tax ratio sampai 16%.

"Step pertama penerbitan obligasi, penarikan utang bilateral multilateral akan kita kurangi itu langkah pertama. Itu sudah otomatis harus dikurangi," kata dia.

Kemudian, dia mengatakan, Prabowo-Sandi akan menyisir belanja-belanja yang tidak efisien. Salah satunya, belanja untuk infrastruktur.

"Belanjanya harus kita sisir lagi, kan banyak sekali belanja yang sekarang ini nggak efisien, belanja infrastruktur banyak yang nggak efisien," ujarnya.

"Kita sisir, kita realokasi, infrastruktur mungkin akan kita rasionalisasi," tambahnya.

Dradjad mengatakan, proyek infrastruktur dipangkas bukan karena sudah dibangun pemerintah saat ini. Sebab, kata dia, berdasarkan laporan Bank Dunia banyak infrastruktur yang 'acak-acakan'.

"Enggak, yang dibangun Pak Jokowi bahasa Bank Dunia acak-acakan, justru kita kurangi karena pelaksanaan pembangunan infrastruktur sekarang ini betul-betul, kalau pakai bahasa…kalau saya ringkas omongan Bank Dunia acak-acakan, kita benerin supaya nggak acak-acakan, terlalu ambisius," sambungnya.

Tapi, itu bukan berarti Prabowo-Sandi memangkas belanja negara. Sebab, Prabowo-Sandi punya program memperkuat sejumlah bidang.

"Pangan, swasembada pangan, energi, air bersih, lembaga negara, sama angkatan perang," tutupnya.

  1. Jurus Prabowo-Sandi Dongkrak Tax Ratio

Calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berjanji akan meningkatkan tax ratio atau rasio jumlah pajak yang dikumpulkan pada suatu masa dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) hingga 16%. Caranya, dengan memangkas tarif pajak (tax cut)

Dradjad Wibowo mengatakan, pengurangan pajak tidak akan mengurangi jumlah penerimaan. Secara sederhana, dia bilang, dengan pajak yang rendah maka makin banyak orang yang membayar pajak.

"Ibaratnya kita menggeser pajak, seperti orang bisnis ritel ke orang bisnis grosir. Marginnya kecil tapi omzetnya lebih besar," katanya.

Dradjad mengatakan, pajak yang bakal dipangkas ialah pajak penghasilan (PPh). Namun, dia belum bisa memaparkan pajak penghasilan mana yang akan dipangkas serta besarannya.

"Sementara PPh, nanti apakah orang pribadi atau badan terlebih dahulu akan dibahas setelah Probowo-Sandi terpilih, saya pribadi lebih pengin PPh orang pribadi, tapi tentatif," ungkapnya.

Pemerintah sendiri telah melaksanakan program pengampunan pajak atau tax amnesty. Tapi, Dradjad menilai itu belum mampu menggenjot tax ratio. Sebab, base erosion and profit shifting (BEPS) yakni strategi perencanaan pajak yang memanfaatkan kelemahan dalam peraturan perpajakan domestik untuk 'menghilangkan' atau mengalihkan keuntungan ke negara lain yang punya tarif rendah atau bebas pajak, belum tertangani.

"Jadi begini pemerintah sudah melakukan macam-macam cara untuk menaikan basis pajak, faktanya tax ratio tambah merosot, tax amnesty yang katanya nanti akan meningkatkan basis pajak, tax ratio faktanya nggak. Kenapa demikian BEPS tidak tertangani, basis erosion and profit shifting itu nggak tertangani," ujarnya.

"Karena tarif kita terlalu tinggi dibandingkan negara sekitar kita, sehingga orang memilih menempatkan uangnya di negara lain," sambungnya.

Oleh karena itu, dia bilang, Prabowo Sandi akan menurunkan tarif pajak tersebut. Sejalan dengan itu, Prabowo-Sandi akan mendorong penerapan teknologi informasi (TI/IT) untuk menertibkan pajak.

"Kalau dia (pajak) kita turunkan, kira-kira sekompetitif negara-negara sekitar, dia akan rugi naruh negara sekitar, kan kena biaya adminsitrasi compliance segala macam dia akan rugi. Kemudian di kita, kita akan kejar, ini sudah diturunkan (pajak), karena nanti akan ketahuan, dengan konsep yang kita buat itu, siapa menempatkan dana di mana akan mudah ditelusuri," tutupnya. (Rio)

Penulis:

Baca Juga