Kadis Yoseph Marto Mengangkat Nilai Kearifan Lokal Melalui Mini Museum

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur, Yoseph Marto. Foto: Akiratnews.com, Yohanes Marto.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur, Yoseph Marto. Foto: Akiratnews.com, Yohanes Marto.

Manggarai Timur, Akuratnew.com - Lepas dari jabatan struktural sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (KADIS PUPR) Manggarai Timur (MATIM) Yoseph Marto, ternyata Beliau memiliki jiwah seni yang telah melekat dalam dirinya.

Sekali waktu, ketika akuratnews.com berkunjung ke Mini Museum milik Kadis PUPR Matim itu, di Museum miliknya itu tampaklah kreativitas tanpa batas dan jiwah seni begitu melekat dalam diri Kadis PUPR Matim itu.

Terpajang di beberapa titik ruangan Mini Museum itu, lukisan bunga mawar dan lukisan ular naga dengan memanfaatkan media Bambu. Selain itu, ditempat itu juga terlihat bebera koleksi benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang sejak beberapa puluh tahun yang lalu.

Yoseph Marto menjelaskan bahwa, barang-barang antik milikinya itu, dikoleksi sejak masih kuliah di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Beliau mengatakan bahwa, semua benda pusaka yang dikoleksinya itu memiliki nilai estetika kebudayaan yang harus dijaga dan dilestarikan untuk anak cucu sebagai generasi penerus bangsa.

Ditemui di Mini Museum miliknya itu, Kadis PUPR Matim itu mengungkapkan bahwa melalui Mini Museum itu Beliau ingin menyalurkan bakat dan jiwah seni yang telah lama melekat dalam dirinya. Selain itu, Beliau ingin menjadikan mini Museum itu sebagai wahana edukasi tentang pentingnya melestarikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai jati diri masyarakat Manggarai.

"Kita tidak memiliki banyak literatur untuk mempejari nilai-nilai seni dan warisan kebudayaan atau tradisi nenek moyang orang Manggarai. Karena itu, mungkin dengan menjaga dan melestarikan benda-benda peninggalan seperti ini, nilai-nilai tersebut bisa terus terjaga dan bisa diwariskan untuk beberapa generasi," ungkap Yoseph Marto ketika ditemui di Mini Museum miliknya vpada hari Jumat, (14/02/2020)

Di Mini Museum itu, terdapat banyak jenis koleksi benda-benda pusaka, mulai dari alat jerat tradisional, tali yang terbuat dari ijuk, benda seni berbahan dasar rotan dan bantu, alat timbah air tradisional berbahan dasar bambu, alat musik tradisional, dan beberapa benda pusaka lainnya ada di Mini Museum itu. Meski belum tertatah dengan baik, tapi museum ini menarik untuk dikunjungi karena memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi.

Menurut Yoseph Marto, wacana tentang penguatan pengetahuan seni budaya dan nilai-nilai kearifan lokal sangat penting untuk diangkat dan dilestarikan. Hal tersebut berangkat dari kekhwatirannya jika suatu saat nilai budaya lokal akan hilang akibat gejolak revolusi industri 4.0. Menurutnya, persoalan yang tidak terelakkan di Era industri 4.0 adalah derasnya arus infromasi dan komunikasi akan berdampak negatif yang bahkan cenderung mengarah pada pudarnya nilai-nilai budaya luhur.

"Berangkat dari kenyataan yang terjadi saat ini, kita melihat gejaja menglobal atau gejolak revolusi industri 4.0. Banyak kecemasan melihat gejala-gejala tersebut terutama dampaknya terhadap budaya kita khususnya di Manggarai, sehingga penguatan pengetahuan tentang nilai kearifan lokal menjadi untuk diperbincangkan di ruang publik," kata Yoseph Marto.

Melihat gejala tersebut, Kata Yoseph Marto, maka perlu untuk membangun pemahaman dan membangkitkan kesadaran tentang nilai kearifan lokal dan tradisi budaya sehingga memberi fondasi keberlanjutan dalam tatanan kehidupan yang akan datang terutama bagi generasi penerus bangsa.

"Sambil kita tetap menyesuaikan diri dengan segala perubahan dan tuntutan era revolusi industri 4.0 itulah maka penguatan pengetahuan seni budaya dan kearifan lokal tersebut dilakukan melalui cagar budaya atau wahana Museum kebudayaan sehingga mampu akan memberi makna tersendiri dalam proses mempertahanan dan melestarikan serta sosialisasi nilai kearifan lokal kepada generasi yang akan datang," ungkapnya.

"Pengaru global sangat nyata, terutama bagi generasi yang hidup di era industri 4.0 saat ini. Budaya asing kini kian mewabah dan mulai mengikis eksistensi budaya lokal yang sarat makna," ungkap Yoseph Marto.
Agar eksistensi budaya lokal tetap kukuh, Menurut Yoseph, "Harus ada upaya pemertahanan budaya lokal," imbuhnya.

Beliau juga mengungkapkan, Fenomena generasi industri 4.0 yang menggandrungi budaya asing dan bahkan indentik dengan kecanggihan sistem informasi dan teknologi (IT) seharusnya disikapi dengan penuh kewaspadaan.

"Harus ada kewaspadaan terhadap semua gejala yang muncul di era industri 4.1 saat ini. Banyak hal dan banyak aspek tentunya. Selain itu, harus ada kesadaran untuk mengangkat dan melestarikan kembali budaya lokal," ungkapnya.

Menurut Yoseph Marto, kebudayaan lokal merupakan jati diri dan kebanggaan yang dimiliki oleh suatu wilayah sekaligus mencerminkan keadan sosial masyarakat.

"Cerita rakyat, lagu daerah, ritual kedaerahan, adat istiadat daerah, dan segala sesuatu yang bersifat kedaerahan. Semua hal adalah kebanggaan, cinta atau identitas yang semestinya harus dilestarikan," jelasnya.

Karena itu, pria yang akrab disapa Yos itu memandang pentingnya peran pemerintah daerah dalam upaya menanamkan nilai-nilai budaya lokal bagi generasi muda. Menurutnya, sinergitas antara OPD sangat penting dan pemerintah daerah juga harus melibatkan anak-anak mudah Manggarai.

"Tentu peran pemerintah sangat penting dalam upaya penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal, seperti nilai religius, nilai moral, dan khususnya nilai kebangsaan kepada generasi muda saat ini," tutup Yoseph Marto.

Penulis: Yohanes Marto

Baca Juga