Opini

Kala Dunia Terpana Melihat Serambi Mekkah

Akuratnews.com - Sebagaimana diberitakan oleh BBC News (29/6), sebanyak 94 pengungsi muslim Rohingya yang telah sekian lama terkatung-katung di lautan akhirnya diselamatkan oleh warga Aceh pada Kamis (25/6). Kapal muslim Rohingya yang pada awalnya ditolak oleh pemerintah setempat dengan alasan kekhawatiran akan virus Covid-19, akhirnya ditarik mendekati pantai karena warga terus mendesak tersebab dorongan kemanusiaan.

Para nelayan bahkan bersikukuh untuk menerima muslim Rohingya meskipun tidak mendapati izin dari pemerintah yang justru berencana untuk mengembalikan para pengungsi Rohingya ke laut dengan dibekali bensin perahu, makanan, serta pakaian. Kontan saja rencana ini ditolak mentah-mentah oleh para nelayan di sana. Mereka meminta agar muslim Rohingya diberikan tempat tinggal di pengungsian untuk sementara waktu. Syaiful Amri, salah seorang nelayan menegaskan, “Kalau pemerintah tidak mampu, kami saja masyarakat yang membantu mereka, karena kami adalah manusia dan mereka adalah manusia juga dan kami memiliki hati,” (PikiranRakyat.com 29/6).

Dilansir oleh Liputan6.com (30/6), peristiwa penyelamatan muslim Rohingya ini telah disorot media asing seperti Al Jazeera dalam artikel bertajuk ‘Best of Humanity’: Indonesian fishermen rescue stranded Rohingya. Kemudian dalam media press situs Amnesty International yang menyebutkan bahwa ini adalah bentuk optimisme dari sikap solidaritas. Sejalan pula dengan sejumlah media lainnya seperti situs Dhakatribune dan ABC News.

Cerminan ukhuwah Islamiyah yang luar biasa telah berhasil dicontohkan warga Aceh pada kita. Masyaallah. Ketika banyak negara di dunia menolak pengungsi muslim Rohingya, rakyat Aceh dengan tangan terbuka mengulurkan tangannya. Bukti tak terbantahkan bahwa aqidah Islam adalah ikatan yang paling mulia di antara banyak ikatan antarmanusia yang ada. Maka wajar, dalam sekejap saja peristiwa ini lantas menyita perhatian dunia dan membuatnya terpana.

Berbicara soal nasib muslim Rohingya tentu kita tidak bisa menutup mata pada nasib yang sama yang menimpa kaum muslimin di berbagai belahan bumi lainnya. Seperti muslim Uyghur, Palestina, Afghanistan, Kashmir, Aleppo Suriah, Irak, Yaman, Afrika Tengah, Patani di Thailad, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pada faktanya ukhuwah Islam yang selama ini senantiasa berusaha kita wujudkan dalam bentuk bantuan seperti pakaian, obat-obatan, makanan, selimut, dan lain sebagainya, hanya sebatas meringankan beban, namun tak kunjung menyelesaikan penderitaan mereka. Atau lebih tepatnya kita tak pernah mencapai dan menyelesaikan akar permasalahan yang sesungguhnya.

Jika kita berkaca pada permasalahan yang melanda kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, yang mereka diantaranya ditindas, dikurung, diusir, dijajah, hingga dibantai, maka akan merujuk pada satu kesimpulan bahwa kaum muslimin membutuhkan suatu kekuatan besar. Suatu perisai yang kokoh yang mampu melindungi mereka dari segala macam kejahatan musuh-musuh Islam yang kian hari kian bengis.

Dalam hal ini ukhuwah Islam sebagaimana yang ditunjukkan oleh rakyat Aceh perlu diwujudkan oleh seluruh kaum muslimin dalam satu naungan institusi internasional yang mengambil peran sebagai perisai kaum muslimin. Tidak lain adalah Khilafah Islamiyah. Perisai yang mampu melindungi seluruh kaum muslimin di dunia dari berbagai macam penjajahan dan penindasan.

Lupakah kita ketika Daulah Khilafah menguasai dunia selama 1300 tahun lamanya dengan segala wibawa dan kehormatannya? Menjadi negara adikuasa yang tak terkalahkan dan ditakuti oleh negara-negara di dunia. Menjadi kekuatan yang sangat dipertimbangkan dalam kancah perpolitikan internasional. Bahkan Amerika yang hari ini menjadi negara adidaya dengan semua kuasanya, dulu hanya negara kecil yang memohon pertolongan pada Daulah Islam Turki Utsmani kala mengalami kebakaran yang menghabiskan hutan-hutan dan pemukiman warganya.

Dengan bersatunya seluruh kaum muslimin yang saat ini tersebar di seluruh dunia dan terpisah dalam negeri-negeri kecil maka akan menjadi kekuatan besar dan kokoh seperti sedia kala. Tidak hanya itu, penerapan hukum Allah ﷻ secara kaffah adalah jaminan akan kesejahteraan dan kemuliaan hidup seluruh umat manusia. Cengkeraman musuh-musuh Islam pun akan terlepas dengan sendirinya. Jangankan untuk mencengkeram, sekadar menengadahkan kepala untuk memandang Daulah Islam pun tak akan berani mereka lakukan. Jaminan Allah ﷻ dalam QS. An-Nisa’ ayat 141:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.”

*Penulis adalah: Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi

Baca Juga