Kampanye #PilihBicara, Ajak Anak Muda Suarakan Permasalahan Rokok

Gerakan Muda FCTC dan SDSN youth Indonesia Paparkan bahaya limbah puntung rokok untuk lingkungan.

Ia menjelaskan, bahan penyusun puntung rokok adalah sejenis kapas plastik bernama Selulosa Asetat, yang memerlukan waktu agar bisa terurai oleh lingkungan. Selulosa Asetat adalah modifikasi dari senyawa kimia bernama Selulosa. Ia mengutip sejumlah penelitian yang menyebutkan bahwa puntung rokok yang terbuat dari Selulosa Asetat butuh waktu sekitar satu sampai lima tahun untuk terurai, bahkan bisa mencapai sepuluh tahun jika sudah terkena air laut.

Kristi Helena R Tanjun, pegiat Divers Clean Action, menambahkan bahwa riset yang dilakukan peneliti Universitas Georgia, Jenna Jambeck, menunjukkan bahwa pada 2015 Indonesia menjadi negara kedua penyumbang sampah di laut setelah China. Setidaknya ada 187,2 juta ton sampah dari Indonesia ada di laut. Faktanya, dari jumlah tersebut sampah puntung rokok menjadi sampah terbanyak ada di laut sebanyak 52 juta batang. Sisanya sampah tutup botol 13,5 juta, sampah alat makan sebanyak 10 juta dan lainnya.

Menurut Kristi, setiap tahun tercatat dunia menampung sebanyak 4,5 triliun sampah puntung rokok. Sebagian besar dibuang sembarangan, di pinggir jalan sampai pantai. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan dilakukan oleh jutaan orang. Setidaknya dua pertiga puntung rokok ditemukan berserakan di trotoar atau selokan, dan akhirnya berujung di lautan.

The Ocean Conservancy, sebuah kelompok advokasi lingkungan, melakukan penelitian selama 32 tahun dan berhasil mengumpulkan total lebih dari 60 juta puntung rokok dari seluruh pantai di dunia, termasuk Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan otomatis memiliki banyak pantai, laut, dan wilayah perairan lainnya.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis:

Baca Juga