Kasum TNI Resmi Menutup Konferensi Internasional TNI dan ICRC

Jakarta, Akuratnews.com - Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letnan Jenderal (Letjen) TNI Joni Suprianto secara resmi menutup koferensi internasional antara TNI dan International Committee of Red Cross (ICRC) kantor perwakilan Indonesia-Timor Leste.

Konferensi internasional ini diselenggarakan selama dua hari pada 26 dan 27 Juli 2019 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, yang diikuti oleh perwakilan militer dari 28 negara.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan visi, persepsi dan konsepsional tentang peacekeeping operation, serta menggalang kerjasama regional dan global untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat sipil dan personel medis dalam konflik bersenjata serta penugasan prajurit wanita dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia.

“Kita sebagai penyelenggara Mabes TNI dan ICRC perwakilan Timor Leste-Indonesia merasa bangga dan mendapatkan kehormatan karena peserta dari beberapa negara telah mengirimkan delegasinya untuk mengikuti konferensi ini,” kata Kasum TNI Letjen TNI Joni Supriyanto saat menutup konferensi internasional ICRC, Kamis (27/6/2019).

Joni mengungkapkan, dalam konferensi ini telah diperdengarkan berbagai paparan, pengalaman informasi-informasi serta menyamakam visi misi serta berbagai permasalahan tantangan kedepan dalam pelaksanaan peacekeeping.

"Kondisi yang aman dan damai adalah harapan semua orang, namun harus disadari konflik bersenjata masih terjadi hingga saat ini berbagai negara," ungkapnya.

"Kondisi ini sangat memprihatinkan dan kita semua dituntut untuk berpartisipasi secara aktif dalam setiap upaya untuk mewujudkan dan mempersiapkan perdamaian dunia," tambahnya.

4 Catatan Penting Memelihara Ketertiban dan Perdamaian Dunia

Menurut Kasum TNI, ada 4 catatan penting dalam memelihara ketertiban dan perdamaian dunia, dimana yang pertama adalah persiapan angkatan bersenjata moderen untuk operasi pemeliharaan perdamaian PBB di abad ke-21 adalah keniscayaan bagi suatu negara.

"Kemudian yang kedua adalah ‘protection of civilian  in armed conflict’ harus menjadi prioritas pada setiap operasi pemulihan perdamaian bagaimana disebutkan dalam revolusi dewan kemanan PBB nomor 1674 tahun 2006," ujarnya.

Sedangkan yang ketiga adalah ‘protection of medical personel and armed conflict’ harus terus dipromosikan dan disebarluaskan dalam pelaksanaan peacekeeping revolusi yang diamanatkan dalam revolusi dewan kemanan PBB nomor 2286 tahun 2016

"Dan yang terakhir adalah roles of women in peacekeeping operation. Poin ini harus terus ditingkatkan di masa depan karena dibeberapa wilayah konflik pelibatan wanita dalam misi pemeliharaan PBB sangat efektif," terangnya.

“Peran wanita sangat effektif dalam pelayanan perawatan perlindungan dan pemberiam pemulihan kesehatan maupun psikis dan traumatik akibat  kekerasan seksual  atau kekejaman perang selama konflik berlangsung,” sambungnya.

Penulis: Yandi Permana
Editor: Hugeng Widodo

Baca Juga