Opini

Kasus Covid-19 Bertambah di Masa New Normal, Salah Siapa?

Akuratnews.com - Penanganan pandemi Covid-19 nyatanya belum maksimal, karena pada faktanya ada saja laporan terbaru bertambahnya kasus positif terpapar virus corona ini, mulai dari klaster pasar, klaster sekolah menjadi momok baru ditengah masyarakat. Entah siapa yang patut dipersalahkan dalam hal ini. Berbagai daerah yang tadinya aman kini terpapar virus hingga dilabeli dengan zona hitam (black zone).

Namun seyogianya saat ini dibutuhkan penanganan khusus agar penularan tidak meluas dan cepat respon bagi pemerintah daerah. Selain ketegasan pemerintah dalam menyelesaikan kasus pandemi Covid-19 ini dibutuhkan pula disiplin yang diperketat bagi masyarakat hingga penerapan sangsi bagi siapa saja yang melanggar, namun itu semua di awali edukasi kepada masyarakat untuk taat dan disiplin dengan protokoler penanganan Covid-19.

Dari data Google Covid-19 Community Mobility Trends hingga 10 Juli 2020 di Indonesia, mobilitas warga mendekati kondisi normal seperti minggu ketiga Januari hingga awal Pebruari 2020 di tempat kerja, toko dan farmasi. Peningkatan aktivitas pun terjadi di sektor wisata dan ritel.

Padahal, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah dan korban jiwa berjatuhan. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melaporkan, jumlah total kasus di Indonesia 76.981 orang. Menurut Kementrian Kesehatan, laju penambahan tiap 10.000 orang pada April lalu atau 60 hari sejak kasus pertama diumumkan, lalu menjadi 20.000 pada 21 Mei atau hanya dalam 21 hari, dan 60.000 menjadi 70.000 dalam 6 hari. (kompas.com)

Kampanye New Normal yang digadang gadang menjadi awal kesuksesan kondisi melawan Covid-19 nyatanya berbalik arah menjadi musibah yang menakutkan. Kesalahan membaca kondisi kerap kali dilakukan penguasa dalam mengambil kebijakan. Fokus perbaikan ekonomi menjadi langkah yang mematikan bagi rakyat saat ini. Maka perlu sikap negarawan bagi penguasa untuk mengakui kesalahan dalam meriayah (mengurus) rakyatnya, dan mulai konsentrasi untuk memperbaiki kondisi yang ada guna menyelamatkan nyawa rakyat dari virus Corona ini.

Solusi Integral Penanganan Covid-19

Selama negara masih memikirkan keuntungan di sektor ekonomi, dan mengabaikan jiwa rakyat, pandemi ini tidak akan terselesaikan. Otak kapitalisme pemimpin negeri ini begitu merasuk di setiap keputusan, dan itu merambah persoalan dari hulu ke hilir,  kepala hingga ujung kaki tak ada kesejahteraan bagi rakyat. Maka masihkah kita berharap dengan sistem yang menyengsarakan rakyat ini?

Negara punya kekuatan untuk menjadikan negeri ini menjadi normal kembali, hanya kata kuncinya, siapkah dengan aturan yang sesuai dengan fitrah manusia dan menjadikan kondisi ini aman bagi seluruh rakyat, mendapatkan rahmat dari Sang Pencipta.

Penyelesaian pandemi pernah dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khathab, saat memimpin negeri Islam, beliau mempunyai kebijakan untuk menjaga dan mengisolasi daerah di Damascus yang terkena wabah thoun, dan kebijakan untuk mensuplai seluruh kebutuhan rakyatnya tanpa terkecuali hingga wabah berakhir. Tak pernah memikirkan untung rugi negara.

Di dalam hati dan ketinggian akhlak,  mereka memahami bahwa rakyatnya merupakan tanggung jawab terhadap Allah SWT.  Sebagaimana Hadits Nabi :

"Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus".  (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Para Khalifah sangat takut kepada Allah jika saat mereka memimpin mereka zalim dan tidak mampu menjaga nyawa rakyatnya dari apapun. Hingga wajar kesungguhan dan kecintaan mereka terhadap rakyatnya melebihi cinta mereka terhadap dirinya sendiri, hingga firman Allah SWT mereka cerna di dalam hati mereka dalam menjalankan tugas sebagai Khalifah.

“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42).

Sungguh mulia Islam menjaga nyawa manusia, dengan para pemimpin yang amanah, sungguh-sungguh mengurusi rakyatnya dengan sepenuh jiwa mereka. Rakyat merindu dan menanti kehadiran pemimpin negeri yang mencintai rakyatnya serta memenuhi segala kebutuhannya. Semoga sistem Islam dapat menggantikan rusaknya sistem kapitalisme yang tak peduli dan punya hati untuk kesejahteraan manusia. Wallahu'alam bishowwab.

Baca Juga