Opini

Kasus Covid-19 Semakin Meningkat, Salah Siapa?

Akuratnews.com - Jumlah pasien terkonfirmasi positif Virus Corona atau covid-19 yang dihimpun melalui data Gugus Tugas percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus mengalami peningkatan. Di bulan September 2020 ini, jumlah keseluruhan sudah di angka 90 kasus. Berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, kasus Covid-19 tersebar di empat (4) kecamatan yang ada di PPU yaitu Kecamatan Penajam, Kecamatan Waru, Kecamatan Babulu dan Kecamatan Sepaku. Sementara itu, saat ini sebanyak 300 kasus Suspek Covid-19 tertinggi juga terjadi di Kecamatan Penajam. Kepala Dinas Kesehatan PPU, sekaligus sebagai Juru Bicara Pemerintah Kabupaten PPU, dr Arnold Wayong tidak henti terus meghimbau masyarakat untuk selalu patuh dan disipilin dalam menerapkan protokol kesehatan tentang Covid-19 sebagai upaya pencegahan dan terhidar dari virus (kaltim.tribunnews.com, 6/9/2020).

Selain itu, pelayanan dua puskesmas di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, ditutup sementara karena petugas kesehatan di masing-masing puskesmas tersebut menjalani tes usap atau "swab test" terkait antisipasi penyebaran COVID-19. Puskesmas Maridan, Kecamatan Sepaku dan Puskesmas Sotek, Kecamatan Penajam menutup sementara pelayanannya. Sebelum hasil usap keluar tegas Arnold Wayong, seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Maridan dan Sotek wajib menjalani karantina. Dua puskesmas tersebut juga akan dilakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan di setiap ruangan puskesmas untuk mencegah penyebaran COVID-19 (kaltim.antaranews.com, 6/9/2020).

Sebelumnya juga terjadi penambahan dari pegawai pemerintahan dan pendidikan, dan lonjakan ini sangat signifikan. Tak sedikit akhirnya dari beberapa dinas dan para guru melakukan tes swab dan rapid test setelah ditemukannya kasus positif dari pegawai pemerintahan dan guru. Tak tanggung-tanggung sebanyak 6  guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada senin (24/8/2020) terkonfirmasi positif Virus Corona atau covid-19. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga PPU, Alimuddin memastikan, bahwa  terpaparnya para guru tersebut bukan berasal dari sekolah melainkan adanya kontak dengan pasien covid-19 kemudian salah satu diantaranya kontak dengan warga sekolah.

Dengan adanya lonjakan kasus, sebagian dinas pun memberlakukan work from home (wfh) kembali, dan dari sektor pendidikan juga diberlakukan Belajar Dari Rumah (BDR) setelah sebeklumnya melakukan new normal. Tempat wisata juga mulai ditutup, namun masih saja ada yang ramai dikunjungi. Ini terjadi karena selain tidak ada pencerdasan dini ke masyarakat tentang masalah covid-19, tidak ada jaminan ekonomi selama pandemi, akses potensi penularan yang tidak ketat serta simpang siurnya berita tentang pandemic sehingga menimbulkan ketidakpercayaan dan kurang waspada di tengah masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan masih ada sebagian masyarakat yang menganggap remeh virus ini, dan melakukan aktivitasnya bahkan tanpa protokol kesehatan.

Terlihat bahwa solusi terkait masalah pandemi ini belumlah optimal, bahkan terkesan tambal sulam. Perlu kehati-hatian dalam penanganan setiap permasalahan termasuk penanganan virus corona ini, jika salah penanganan maka bukannya selesai permasalahan justru menimbulkan masalah baru. Seperti inilah dalam sistem kapitalis, bahkan permasalahan yang ada bisa menjadi bola salju yang terjadi berulang-ulang jika penanganan dan solusinya tidak tepat sasaran.

Berbeda dengan sistem Islam, dimana segala sesuatu disandarkan pada hukum Allah SWT. Bagi seorang muslim, Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan hukum. Allah SWT berfirman: “Bukankah Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan hukum?” (QS. At-Tiin: 8). Kemudian dalam firmanNya: “Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36).

Terkait wabah, Rosulullah SAW sudah mencontohkan apa yang harus dilakukan ketika terjadi wabah, yaitu dengan tidak masuk ke wilayah terjadi wabah, dan yang berada di dalam wilayah yang terkena wabah tidak keluar dari wilayah tersebut. Selain itu dalam laman serambinews.com (14/04/2020) disebutkan sejarah Islam mencatat, praktek social distancing dalam mengatasi wabah ini diperkenalkan oleh Amr Bin Ash, lebih dari 1400 tahun yang lalu.  Amru bin Ash bin Wa'il bin Hisyam yang hidup pada tahun 583-664 Masehi, adalah Sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan tokoh Quraisy yang mahir dalam urusan politik, strategi berperang, dan dalam bernegosiasi. Amru Bin Ash ditunjuk sebagai Gubernur Negeri Syam, persis ketika negeri itu dilanda wabah yang merenggut banyak nyawa manusia. Dengan kemampuan berpikir analitis dan kemampuan inovasi yang dimilikinya, Amr Bin Ash mencoba membaca pola penyebaran wabah saat itu. Setelah melakukan pengkajian, Amru Bin Ash memerintahkan penduduk Syam untuk melakukan karantina mandiri dan menjaga jarak sosial (social distancing).

Maka sudah sepantasnya setiap permasalahan dikembalikan pada aturan Sang Pemilik Alam Semesta, yang akan mampu menyelesaikan problematika kehidupan secara tuntas. Wallahua’lam bishawab

Baca Juga