Kegiatan Dikuasai Pimpinan ARJ, Kombatan Pilih Hengkang dari Aliansi Relawan Jokowi

Ketua Umum Kombatan, Budi Mulyawan. (Foto dok. Akuratnews.com).

Jakarta, Akuratnews.com - Ketua Umum Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan), Budi Mulyawan menyatakan bahwa Kombatan tidak lagi bergabung dengan Aliansi Relawan Jokowi yang dipimpin oleh Aidil Fitri. Menurut Budi, Kombatan melihat ada prinsip-prinsip aliansi yang dilanggar di dalam kepengurusan ARJ, sebuah aliansi terbesar dari relawan pendukung Jokowi yang beranggotakan 200-300 organisasi relawan ini.

"Kami Kombatan melihat Aliansi Relawan Jokowi atau ARJ di bawah kepemimpinan Aidil Fitri sudah tidak pernah menjalankan prinsip-prinsip aliansi." Ujar Budi Mulyawan di kantor Pusat Kombatan, Layur-Rawamangun, Jakarta, Sabtu (20/7/2019).

Menurut Budi, prinsip-prinsip aliansi yang dilanggar itu adalah segala sesuatunya dilakukan sendiri oleh sang pemimpin dan tidak melibatkan organisasi atau pengurus lainnya.

"Segala sesuatunya ditentukan sendiri. Segala sesuatunya satu pintu, baik itu urusan perencanaan program, keuangan, panitia, jadi dia (Aidil Fitri) merangkap panitia, bendara, semuanyalah ketika ada event (kegiatan)," terangnya.

Tak cuma soal kegiatan semata, namun begitu juga dengan gerakan-gerakan politik yang dilakukan oleh ARJ. "Dari menjelang pilpres sampai setelah pilpres, seluruh kegiatan itu tidak mencerminkan prinsip-prinsip aliansi.

Atas dasar itulah, Kombatan memilih mundur dari ARJ dan tidak ingin terlibat dalam kesalahan tersebut. "Akhirnya kami melihat keberadaan Kombatan di ARJ itu mubazir. Kami nggak mau ikut dalam kesalahan itu. Makanya kami memutuskan menarik diri (keluar) dari ARJ." kata Budi.

Budi sendiri telah melayangkan surat mundurnya Kombatan dari gerbong ARJ. Sedikitnya ada 6 poin kritik yang diberikan untuk ARJ, khususnya untuk Aidil Fitri, antara lain:

Pertama, Sebaiknya ARJ betul-betul menjalankan kaidah dan prinsip-prinsip aliansi;

Kedua, Koordinator bukan merupakan pimpinan aliansi, karenanya tidak memakai istilah "ketua" melainkan "koordinator". Koordinator hanya berfungsi untuk mengkoordinasikan dan menselaraskan aktivitas antar organ dan kegiatan bersama. Sekali lagi "Bukan Pemimpin" karena kita sudah merupakan ketum-ketum organ/pemimpin itu sendiri;

Ketiga, Koordinator tidak boleh merangkap ketua panitia dalam event kegiatan aliansi (apalagi merangkap bendahara). Dalam event aliansi seyogjanya panitia dipilih bersama mulai dari ketua panitia dst;

Keempat, mulailah transparan soal anggaran. Ketum2 organ berhak mengetahui berapa pemasukan dan berapa pengeluaran. Untuk itu harus dilaporkan secara terbuka kepada ketum-ketum organ;

Kelima, buatlah program yang realistis, masuk akal agar bisa diwujudkan sebagaimana yang disampaikan. Jangan muluk2 seperti 1 juta posko dan 1 juta anak yatim yang belum tentu bisa dilaksanakan. Program kita kemarin 1 juta posko sudah terbukti tidak bisa diwujudkan. Jangan sampai orang menilai kita melakukan kebohongan publik;

Keenam, jabatan "Penanggungjawab" itu tidak dikenal sebagai jabatan dalam sebuah lembaga/institusi. Penanggungjawab itu hanya ada pada saat event atau kegiatan. Jadi penanggungjawab bukanlah jabatan permanen. Sebaiknya Penanggungjawab jadikan saja Pembina;

Kendati mengkritik Aidil Fitri dengan cukup keras, namun sebagai kawan seperjuangan yang menggagas berdirinya ARJ dan berhasil memenangkan Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Budi tetap memberikan doa terbaik untuk gerbong ARJ.

"Saya tetap mendo'akan agar ARJ kedepan dapat lebih baik dan kiprahnya berguna buat kepentingan bangsa dan negara yang kita cintai. Kiranya kritik dan saran ini dapat berguna. Saya sebagai penggagas awal berdirinya ARJ mengharapkan agar ARJ melakukan kritik otokritik supaya kiprahnya terukur dan makin sukses," tandas Budi Mulyawan.

Penulis:

Baca Juga