Suka Duka Hadapi Wabah Corona di Negeri Orang

Kena Lockdown di Rennes, Niquita Juan Masih Bisa Lakukan Hal Ini

Rennes, Akuratnews.com - Bagaimana rasanya menghadapi wabah Corona (Covid-19) sendirian di negeri orang? Bahkan di negara yang wilayahnya kini menjadi salah salah satu epicentrum terbesar wabah Corona.

Mungkin bagi mayoritas penduduk Indonesia, anjuran untuk tetap di rumah masih menyisakan sedikit nikmat, salah satunya adalah bisa berkumpul dengan keluarga.

Tapi bagaimana dengan para perantau dan pelajar yang tengah berjuang dan mengadu nasib di wilayah, bahkan negara lain? Mungkin cerita salah satu mahasiswi Indonesia yang tengah belajar di Milan, Italia ini bisa sedikit menjadi gambaran situasi benua Eropa saat ini.

Saat ini, Niquita Juan, salah satu pelajar Indonesia tengah menimba ilmu di IED Milano, Italia. Di saat awal wabah Corona melanda negeri Pizza ini, ia mendapat tugas sekolah di Rennes, Perancis.

"Puji Tuhan, saya bersyukur... Beberapa hari sebelum pandemi Covid-19 mulai melanda Italia besar-besaran sekitar tanggal 20 Februari, saya mendapat tugas sekolah ke Rennes, sebuah kota kecil di Perancis. Mayoritas warganya adalah orang asli Perancis. Saya beruntung bisa melaksanakan tugas sekolah sambil evakuasi diri di Rennes yang aman, tenang tanpa terlalu heboh dilanda pandemi Covid-19," ujar Niquita saat dihubungi via WA, baru-baru ini.

Anak pengacara Ferry Juan ini menceritakan,
meski di Rennes diberlakukan kebijakan lockdown selama 45 hari dan diperpanjang sampai 28 April mendatang, otoritas Rennes masih tetap memperbolehkan penduduknya keluar rumah untuk membeli keperluan pokok sehari-hari, hingga ke laundry untuk mencuci pakaian kotor.

Ia sendiri mengaku masih bisa keluar rumah guna sekedar mencari kebutuhan pokok. Warga Rennes pun dikatakannya tidak terlalu panik, walau kebijakan lockdown telah diterapkan. Hal ini juga membuat dirinya tenang dalam menghadapi wabah Corona ini.

"Pemerintah Perancis juga telah menggratiskan listrik dan gas negara tanpa pilih bulu kepada semua warga negaranya. Semua sama digratiskan, bahkan pemerintah Perancis menggelontorkan pula bantuan sosial ratusan juta Euro kepada pengusaha yang usahanya macet karena imbas wabah Covid-19," cerita dara yang akrab disapa Tata ini.

Masih masifnya wabahnya Corona di Italia membuat Tata harus tetap berada di Rennes, walau tugas sekolahnya telah usai.

"Saya terpaksa mengikuti pelajaran sekolah saya di Milan melalui study online dari Rennes. Saat ini saya belum bisa kembali ke Italia karena harus menunggu lockoff Italia yang rencanaya 12 April. Bandara Malpensa, Milan sendiri rencananya baru dibuka lagi pada 30 April," papar Tata.

Ia juga membantah kabar yang menyebut jika Perdana Menteri (PM) Italia, Giuseppe Conte menangis dan kewalahan menghadapi wabah Covid-19 di Italia.

"Itu tidak benar, mereka (pemerintah Italia) tetap semangat dan pantang menyerah dalam mengatasi wabah Covid-19 di negaranya," tandas Tata

Namun sepertinya, Tata masih harus bersabar untuk pulang ke Italia. Pasalnya, PM Italia, Giuseppe Conte, Jumat (10/4) menyatakan siap memperpanjang masa lockdown Italia hingga 3 Mei 2020.

Dilansir dari AFP, Conte menuturkan, perpanjangan lockdown ini untuk menghindari gelombang kedua wabah virus Corona.

Surat kabar utama Italia mengatakan, Conte akan menerbitkan dekrit pada Jumat atau Sabtu yang melarang orang untuk berjalan-jalan atau bersantai di taman hingga 3 Mei. Keputusan ini ditetapkan menyusul konsultasi dengan ilmuwan pemerintah dan para pemimpin daerah selama berhari-hari.

Korban meninggal akibat virus Corona di Italia sendiri sudah mencapai 18.279 orang sejak kematian pertama di akhir Februari.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga