Kena Retas Hacker, Kemaluan Pria AS Ini Terkunci Mainan Seks Elektronik

New York, Akuratnews.com - Ada-ada saja kejadian di dunia saat ini. Kemaluan seorang pria di Amerika Serikat (AS) bisa terkunci di sebuah mainan seks elektronik.

Beberapa waktu lalu, VICE.com sempat menulis tentang kerentanan pada mainan seks laki-laki chastity cage (alat pengunci kemaluan) yang diproduksi perusahaan asal China, Qiui. Kemaluan alias penis pengguna akan terkunci selamanya jika sampai alat tersebut diretas.

Cincin alam mainan ini tidak memiliki kunci manual, sehingga dibutuhkan mesin gerinda atau tang baut untuk membukanya. Tapi pada saat artikel di VICE.com terbit, belum ada bukti eksploitasi dari kerentanan ini.

Namun, apa yang dikhawatirkan peneliti keamanan siber kini menjadi kenyataan. Akhir tahun lalu, akun sejumlah pengguna CellMate -nama alat itu- dibobol hacker alias peretas.

Kendali mainan seks otomatis berada di tangan peretas, sedangkan pemilik asli tak lagi bisa mengakses perangkat mereka. Sam Summers merupakan salah satu korbannya.

Sam yang sedang duduk dengan penis terkunci ketika menerima pesan aneh di aplikasi yang terhubung ke perangkat CellMate miliknya. Seseorang mengancam baru akan mengembalikan akses ke tangan Sam setelah dia membayar tebusan US$1.000 atau setara Rp14 juta.

“Saya kira cewekku lagi iseng. Kedengarannya tolol, tapi saya terangsang mendengarnya.” ujar Sam.

Ia pun menelepon pasangannya untuk menanyakan ini, tapi dia bilang bukan dirinya yang mengirim pesan. Perempuan itu bersikukuh tidak mengirim pesan apa pun bahkan setelah Sam menyebutkan kata aman mereka (kata aman berguna untuk membuka kunci).

Dari situlah Sam menyadari pasangannya tidak bercanda. Alat itu benar-benar diretas. Tidak ada cara baginya untuk membuka kunci.

“Saya mengamati cincin, dan tidak menemukan pembatalan manual. Saya rasa chastity belt memang tidak punya [pembatalan darurat]. Tapi ini kan digital. Seharusnya ada kunci atau apa gitu, kan? Ini tidak ada sama sekali,” kenang Sam.

Dia pun panik bukan kepalang, khawatir kemaluannya akan terkunci untuk selamanya. Sam ingat masih punya simpanan Bitcoin di akun lamanya. Dia membayar sesuai jumlah yang diminta, tapi peretas malah minta lebih.

“Tidak ada salahnya kalau kalian suka pakai itu, tapi pastikan kalian punya kunci fisik. Kalian tidak dapat mempercayai alat digital semacam ini. Saya merasa sangat bodoh dan marah,” ungkapnya.

Bersama pasangan, Sam mulai memikirkan cara membebaskan penisnya. Mereka akhirnya membeli tang baut karena cuma ada palu di rumah. Kekasih Sam berusaha memotongnya, tapi gagal. Mau tak mau harus dia sendiri yang mencobanya. an pengalaman itu sangat menakutkan. Salah sedikit bisa berakibat fatal. Apalagi Sam memegang penisnya dengan cara yang berbahaya. Tak lama kemuian, cincinnya berhasil dibuka, tapi kulitnya ikut terpotong.

“Penisnya berdarah. Sakit banget rasanya,” Sam melanjutkan.

Gara-gara kejadian itu, mereka berdua tidak bisa bercinta selama sebulan lebih. Pengalaman traumatis ini membuat Sam berpikir seribu kali untuk menggunakan perangkat terhubung internet, terutama yang bersangkutan dengan alat kelaminnya.

“Tidak ada salahnya kalau kalian suka pakai itu. Tapi pastikan kalian punya kunci fisik. Kalian tidak dapat memercayai alat digital semacam ini,” pesan Sam.

Ia pun langsung membuang CellMate miliknya dan menghapus aplikasi dari ponsel. Peristiwa itu memang tidak bisa disebut pelecehan atau serangan fisik, tapi Sam merasa dilecehkan.

“Orang yang tidak kalian kenal tiba-tiba memasuki dunia pribadi kalian. Dunia yang hanya kalian dan pasangan ketahui. Mereka melakukan itu tanpa persetujuan. Kalian tidak bisa melakukan apa-apa (untuk menghentikan mereka),” pungkasnya.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga