Opini

Kenaikan Utang Luar Negeri adalah Konsekuensi Penerapan Ekonomi Kapitalisme

Akuratnews.com - Sudah sejak lama Indonesia menghadapi persoalan kenaikan utang luar negeri. Itu terjadi bertepatan sejak krisis ekonomi 1998 dan era reformasi. Sebelumnya, utang luar negeri berada pada level di bawah seribuan triliun rupiah. Namun saat ini sudah hampir menyentuh Rp 6.000 triliun per Oktober 2020. Tak heran jika belum lama ini Bank Dunia memasukkan Indonesia sebagai 10 besar negara berpendapatan rendah dan menengah yang memiliki utang luar negeri terbesar pada tahun lalu (republika.co.id).

Tak bisa dipungkiri, terjun bebasnya ekonomi masih turut dirasakan negeri ini. Tak ada yang menafikkan bahwa sekarang masyarakat turut merasakan kehidupan yang jauh lebih sulit. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Hal tersebut diperparah dengan terpuruknya kondisi ekonomi akibat pandemi.

Pada masa pandemi, pemerintah harus menggelontorkan belanja negara yang lebih besar dari pendapatannya. Kementerian Keuangan memperkirakan defisit APBN 2020 akan melebar dari target yang telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020 sebesar Rp1.039, 2 triliun atau 6,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan adanya defisit yang besar, pemerintah harus mencari alternatif pembiayaan APBN lainnya, termasuk melalui utang. Meski demikian, Menteri Keuangan mengatakan, utang yang dibuat di tengah masa krisis untuk selamatkan rakyat (viva.co.id).

Berbagai solusi sudah sering dilakukan pejabat negeri. Namun sungguh di sayangkan utang seolah masih jadi pilihan ideal untuk mengangkat terjun bebasnya ekonomi. Sungguh ironi, begitulah paradigma sistem ekonomi kapitalisme hari ini. Sistem ekonomi yang berorientasi manfaat ini telah menjadikan sektor non riil sebagai penopangnya. Padahal ekonomi yang di topang oleh sektor non riil akan sangat mudah rapuh. Akibatnya krisis ekonomi menjadi konsekuensi yang harus di bayar akibat penerapan sistem kapitalisme. Dan seolah tak ada pilihan lain selain utang luar negeri. Utang luar negeri dianggap sebuah solusi untuk mengentaskan ekonomi dari jurang keterpurukan. Meskipun dampaknya pada masyarakat dan negeri ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Bahkan, Kenen (1990) dan Sachcs (1990) dalam Sritua Arief (1998) mengatakan bahwa utang luar negeri telah menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi bagi negara yang punya utang besar, bahkan lebih jauh lagi utang luar negeri telah membawa banyak negara berkembang yang memiliki utang besar masuk ke dalam jebakan utang (debt trap) dan ketergantungan hutang (debt overhang).

Kondisi ekonomi dalam sistem kapitalisme tersebut sangat berbeda dengan sistem Islam. Sistem ekonomi Islam yang ditopang sistem politiknya, berjalan berdasarkan sektor ekonomi riil. Dimana pilarnya sangat berbeda dengan kapitalisme. Di antaranya:

1. Islam mengharamkan transaksi riba. Selain karena memang dilarang secara syariat. Taransaksi riba ini sangat memungkinkan memunculkan kezaliman dalam masyarakat. Dalam Islam, pinjaman dikategorikan sebagai aktivitas sosial.

2. Islam memiliki Baitul Mal. Dimana pemasukan dan pengeluaran negara akan dilakukan sebagaimana pengaturan dalam syariah islam. Sumber pemasukan utamanya bukan dari pajak dan hutang. Baitul Mal menyediakan pos khusus untuk memberikan bantuan modal bagi pihak yang membutuhkan, seperti para petani dan pedagang.

3. Pengharaman pasar modal, keuangan, komoditas berjangka yang dibangun atas transaksi-transaksi yang bertentangan dengan Islam.

4. Islam menjadikan mata uang emas dan perak sebagai standar moneter. Mata uang yang beredar adalah emas dan perak atau mata uang kertas dan logam yang nilainya ditopang oleh emas dan perak. Dengan demikian kestabilan uang negara ditentukan oleh nilai emas dan perak yang sangat stabil. Di tambah lagi, nilai tukar mata uang akan stabil karena basis transaksinya adalah emas dan perak yang nilainya stabil.

5. Islam mengharamkan konsep liberalisme, sehingga dalam islam ada pengaturan kepemilikan. Dengan demikian, haram memperjual belikan barang-barang milik umum kepada swasta atau bahkan asing.

Wallahu alam bishowab.

Penulis: Dyah Astiti

Baca Juga