Kepala BSSN serukan Perguruan Tinggi RI Harus Jaga Pancasila Di Era Perang Informasi Saat Ini

Banda Aceh, Akuratnews.com - Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) letjen TNI (purn) Hinsa Siburian, memberikan kuliah umum bertema "Peran Perguruan Tinggi dalam Cyber Security di Era Revolusi Industri 4.0" dihadapan 500 mahasiswa yang berasal dari berbagai Fakultas Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) di Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banda Aceh, Senin (07/10) yang dihadiri Rektor Unsyiah, Prof.Dr.Ir.Syamsul Rizal, M.Eng, beserta jajaran pimpinan Universitas, guru besar serta dosen.

Kehadiran Kepala BSSN untuk memberikan kuliah umum merupakan permintaan secara khusus pihak Unsyiah untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang ancaman, tantangan serta seluk beluk keamanan siber secara langsung dari sosok pemegang komando keamanan siber nasional, sebagai bekal dalam bersikap dan mengambil peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saat membuka sesi diskusi, Kepala BSSN mengungkapkan bahwa secara pribadi dirinya juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Aceh, yakni pada kisaran tahun 1986, Hinsa Siburian muda mendaftar menjadi taruna Akademi Militer dari Aceh, yang menjadi awal kariernya di dunia militer, sehingga bisa dikatakan Aceh lah yang membuka pintu serta mengantarkannha menjadi sosok punggawa kemanan siber seperti saat ini.

Lebih lanjut Kepala BSSN menjelaskan tentang perkembangan lingkungan strategis dimana kondisi dunia saat ini marak akan berbagai macam konflik kepentingan.

"kini dunia diliputi konflik kepentingan dan perebutan potensi pasar dan sumber daya oleh bernagai negara maju beserta sekutunya yang menimbulkab berbagai efek negatif di negara berkembang yang diperebutkan seperti Indonesia. Negara maju tak segan menggunakan segala cara untuk menanamkan pengaruhnya di negara sasaran" jelas Hinsa.

Lebih jauh Kepala BSSN memaparkan selain menyerang infrastruktur kritikal, serangan siber kini juga menyasar objek yang lebih krusial dengan akibat yang lebih fatal, yakni tidak seperti perang konvensional yang menghancurkan infrastruktur fisik, perang siber memiliki daya tembus dan daya rusak yang lebih merusak karena menyasar pola pikir sehingga motivasi dan perilakunya berubah.

Bahkan ancaman nyata yang dihadapi saat ini adalah tujuan berusaha mengganti Pancasila.

"kini setiap hari, setiap saat Pancasila sebagai idiologi pusat kekuatan inti sari jati diri bangsa Indonesia yang digali dsri akar budaya masyarakat Nusantara, khususnya sila ketiga "Persatuan Indonesia" dirongrong dan dibombardir dengan peluru siber dalam bentuk informasi hoaks, konten provokatif serta opini penyesatan yang dirancang memicu radikalisasi dan konflik sosial yang berujung pada kerusuhan serta disintegrasi bangsa" papar Hinsa.

Oleh sebab itu Hinsa menegaskan secara umum perguruan tinggi memiliki tiga peran, yaitu sebagai pusat penguatan sumber daya manusia khususnya dibidang keamanan siber, sebagai sarana penguatan penelitian dan pengembangan teknologi dibidang keamanan siber dan peranannya dalam memberikan sumbangsih kepada masyarakat melalui literasi digital untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya cybersecurity awareness dan situational awareness.

Penulis: Maria Machdalena
Editor:Redaksi

Baca Juga